Advertisement

Sahabat Nabi adalah sebu.ah istilah ke­islaman yang mengandung pengertian “orang-orang Islam yang berhubungan erat dengan Nabi Muhammad”. Untuk ka­ta tunggalnya digunakan sebutan sahabi. Karena tidak semua orang-orang Islam yang hidup kontemporer dengan Nabi mempunyai kesempatan yang sama untuk berhubungan dengannya maka tidak mengherankan kalau para sahabat kemudi­an digolong-golongkan ke dalam semacam hirarki berdasarkan setripetalitas Nabi se­bagai titik pusat konsentris. Mereka yang secara kualitas (dedikasi) dan kuantitas (waktu dan kesempatan) dekat dengan Nabi dianggap menempati kedudukan de­rajat ke-sahabat-an lebih tinggi dan sete­rusnya. Lazimnya Abu Bakar dianggap se­bagai sahabat yang paling mulia, tetapi ke­lompok-kelompok Syi`ah berpandangan bahwa Ali yang paling pantas menduduki posisi tertinggi setelah Nabi tersebut. Corak hidup para sahabat dengan Nabi tedadi dalam beberapa ragam. Orang­orang kontemporer yang menerima dalc­wah Nabi terdiri dari berbagai kategori umur: dewasa, remaja dan anak-anak. Orang-orang dewasa yang mengalami dua periode, pra-Islam dan Islam, disebut mukhadram. Tetapi pada kenyataannya pengalaman mereka di masa sebelum Is­lam (jahiliyah) sama sekali tidak mengha­langi mereka untuk muncul sebagai saha­bat pilihan, umpamanya Umar, Abu Ba­kar, dan Khalid bin al-Walid. Kemudian para remaja yang menerima ajaran Nabi dan aktif mendukungnya dapat dikatakan mengalami masa sosialisasi hampir sepe­nuhnya secara Islam. Di antara mereka muncul figur-figur seperti Ali, Usamah bin Zaid, dan Aisyah. Sedangkan anak-anak yang telah ikut menyaksikan kehadiran Nabi, menurut sebagian pendapat, juga da­pat dikategorikan sebagai sahabat, misal­nya, Abdullah bin Abbas, Amir bin Wasil al-Kinani, dan Sald bin Sect bin Ubadah.

Derajat istimewa yang diberikan kepada sahabat Nabi erat berhubungan dengan pe­ranan mereka dalam memuliakan Islam. Pada masa hidup Nabi kebanyakan saha­bat yang telah dewasa dengan sepenuh hati mendukung misi Nabi,cendati mung­kin di antara mereka ada yang pernah me­musuhinya. Kemudian setelah Nabi wafat, para sahabat memainkan peranan penting dalam meneruskan dan mewariskan ajaran yang pernah mereka terima dari Nabi ke­pada generasi selanjutnya. Kemuliaan dan prestise yang dimiliki sahabat telah menja­dikan penuturan mereka, terutama yang berkenaan dengan hal-hal sekitar Nabi, se­bagai terpercaya dan “tak perlu diperta­nyakan”; bahkan mencaci atau memper­olok mereka dipandang sebagai tindakan pidana yang diberi sangsi hukuman berat. Di samping itu, untuk menunjukkan peng­hormatan terhadap para sahabat, dalam setiap penyebutan nama mereka semesti­ny a diiringi dengan doa selamat (tardiyah, yaitu berbunyi radiya Allah `anhu), yang sedikit berbeda dengan salawat terhadap Nabi Allah alaihi wa-sallam).

Advertisement

Hirarki di antara sahabat Nabi berdasar­kan kepada taraf keakraban dan ikatan mereka dengan Nabi. Di samping Nabi dan anggota keluarganya, maka puncak kedu­dukan, menurut satu versi, diberikan ke­pada sepuluh orang sahabat pilihan (al­`asyarah al-mubasysyarah ) yang terdiri da­ri empat orang khalifah awal (al-khujafa’ ar-rasyidtin) dan enam sahabat terkemuka, yaitu Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin al-Awwam, Abdur-Rahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, Abu Ubaidah bin al­Jarrah, dan Sald bin Zaid. Di bawah me­reka berturut-turut adalah kelompok Mu­hajirun, Ansar, para partisipan dalam Pe-rang Badar dan Uhud, mereka yang ikut “membai`at Nabi di bawah pohon” sebe­lum direbutnya Mekah dan seterusnya. Model hirarki semacam ini pernah dijadi­kan dasar bagi khalifah Umar untuk meng­atur tangga pemberian dana kepada para sahabat di masa pemerintahannya. Juga, perlu disebutkan bahwa literatur Islam semenjak awal telah membahas secara mendalam dan sistematis tentang “dunia sahabat”.

 

Advertisement