Advertisement

Safawiyah adalah sebuah dinasti atau kerajaan besar yang muncul di Persia pada abad ke-16-18 (10 12 H). Kerajaan ini dihubungkan kepada nama Syekh Ishaq Safiuddin (1252- 1334/650- 734 H), pen­diri tarekat Safawiyah, yang berpusat di Ardabil, Azerbaijan, di Persia Barat Laut. Di antara turunan Syekh itu muncullah Syah Ismail, yang menjadi pendiri dan ra­ja pertama Kerajaan Safawiyah.

Berkat pengaruh kuat tarekat Safawiyah, dan setelah berjuang keras mengalah­kan berbagai suku bangsa yang terdapat di Persia, terutama dua cabang suku Mongol, Kara Koyunlu dan Aga Koyunlu, Syah Is­mail memperoklamasikan dirinya sebagai raja yang berdaulat pada 1501 (907 H), dan menetapkan mazhab Syi`ah sebagai mazhab resmi kerajaannya. Selama 10 ta­hun pertama Syah Ismail berhasil mem­perluas daerah kekuasaannya dengan me­naklukkan seluruh Persia dan Mesopota­mia (Irak). Lawan utamanya adalah Kera­jaan Turki Usmani, yang bermazhab Sun­ni, di sebelah barat, dan kabilah Uzbeg, yang juga bermazhab Sunni, di wilayah Turkestan (Asia Tengah). Kabilah Uzbeg dapat dikalahkannya pada 1510 (916 H), tapi pasukannya, ketika berhadapan de­ngan pasukan Turki Usmani pada 1514 (920 H), hancur berantakan. Dengan su­sah payah is berhasil menyusun kembali sisa-sisa pasukannya dan dapat memperta­hankan eksistensi kerajaannya. Ia wafat pada 1524 (930 H).

Advertisement

Raja kedua, Tahmasp, cukup lama me­merintah (52 tahun), dari 1524 (930 H) sampai 1576 (983 H). Ia, ketika diangkat menjadi raja, baru berusia 10 tahun. Sa­yang masa pemerintahannya yang panjang itu tidak banyak dapat digunakan untuk membangun kerajaan. Raja kedua ini ter­paksa hams lebih banyak menghadapi pe­perangan. Kabilah Uzbeg yang gigih dan ulet, dengan pimpinan Ubaid Khan, tidak kurang dan 70 kali menyerang Kerajaan Safawiyah antara 1525 (931 H) sampai 1540 (946 H). Di camping mengatasi se­rangan-serangan tersebut, Tahmasp juga ti­dak kurang dari 70 kali melancarkan se­rangan ke tanah Gorgia, yang terletak di sebelah timur atau tenggara Laut Hitam. Pada masa pemerintahannya ternyata la­wannya, Turki Usmani, sedang berada pa­da puncak kejayaan dan berhasil mengua­sai seluruh wilayah Irak pada 1534 (941 H), dan itu berarti mengurangi wilayah ke­kuasaan Kerajaan Safawiyah.

Dua raja yang memerintah Kerajaan Sa­fawiyah berikutnya adalah Syah Ismail II (1576-1577/983-984 H) dan Syah Mu­hammad Khuda Bandah (1577-1588/ 984-995 H). Tetapi kedua raja itu kurang mampu mengatasi perselisihan antar ke­lompok dalam barisannya, sehingga Kera­jaan Safawiyah agak mundur dan wilayah kekuasaannya berkurang.

Raja berikutnya, Syah Abbas 1, mulai berkuasa pada usia 17 tahun dan segera dapat menyingkirkan saingan-saingannya. Ia, karena bertekad menghancurkan kabi­lah Uzbeg yang sangat sering menyerang Kerajaan Safawiyah, pada awal pemerin­tahannya bersedia mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani, kendati per­janjian itu sangat merugikan dan memalu­kan pihak Safawiyah. Dengan perjanjian itu, ia harus menyerahkan wilayah Geor­gia, Azerbaijan, dan Laristan kepada Tur­ki Usmani; menyerahkan saudaranya sen­diri, Haidir Mirza, ke Istanbul, untuk di­perlakukan sebagai sandera; dan melarang perbuatan memaki-maki tiga khalifah per­tama (Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan). Setelah merasa aman dari ancaman Turki Usmani karena ada­nya perjanjian tersebut, Syah Abbas I me­nyerang dan menundukkan kabilah Uzbeg pada 1598 (1005 H). Ketika pecah perang antara Turki Usmani dengan Austria pada 1602 (1009 H), Syah Abbas I memanfaat­kan kesempatan itu dan berhasil membe­baskan wilayah Laristan (1603/1010 H), Tabriz dan Azerbaijan (1607/1014 H). la terus maju dalam perluasan kekuasaan, de­ngan menaklukkan Bagdad, sebagian Kau­kasus, Balkh, dan Merw. Dengan bantuan kapal-kapal kompeni Inggris, yang ber­saing dengan Portugis di lautan, Syah Abbas I berhasil merebut bandar Hormuz di pantai selatan Persia dari tangan Portu­gis pada 1622 (1031 H). la bangun bandar baru, Bandar Abbas, yang berhadapan de­ngan bandar Hormuz, dan ia yindahkan ibukota kerajaan dari Qazwin ke Isfahan. Di ibukota yang baru inilah ia memba­ngun istana yang megah dan indah, sejum­lah mesjid yang besar dan megah, jem­batan-jembatan besar, dan taman-taman indah. IaPah yang berhasil membawa Kera­jaan Safawiyah ke puncak kekuatan dan kejayaan, dan karena itu ia dikenal juga dengan sebutan Syah Abbas yang Agung. Ia berkuasa selama lebih dari 40 tahun 1588-1629/995-1038 H).

Para pengganti Syah Abbas I adalah ra­ja-raja yang lemah, yang dirongrong oleh perselisihan-perselisihan di lingkungan is­tana Kabilah-kabilah bermazhab Sunni, yang dulunya tunduk, kembali bangkit melakukan pemberontakan-pemberontak­an. Akhirnya orang-orang Afgan yang ber­mazhab Sunni dapat dipersatukan oleh Mir Mahmud Khan (Amir Kandahar), dan terus maju menaklukkan wilayah-wilayah Safawiyah, dan bahkan berhasil menamat­kan riwayat Kerajaan Safawiyah pada 1722 (1135 H), dengan menaklukkan Isfa­han dan menawan raja terakhir Safawiyah, Husein Syah.

Kerajaan Safawiyah, yang tercatat seba­gai salah satu dari tiga kerajaan besar Is­lam yang sezaman (dua lagi: Turki Usmani dan Mughol), pada masa kejayaannya se-lain mampu membangun “proyek-proyek mercusuar”, seperti istana, mesjid, jem­batan besar, taman, clan lain-lain, juga da­pat memajukan industri permadani, bro­kad (kain sutera), porselein, memajukan seni-lukis, dekorasi, dan seni arsitektur, serta melahirkan sejumlah ulama pemikir terkemuka, seperti: Mir Damad, Baha­uddin Amili, dan Sadruddin Syirazi (Mulla Sadra).

Advertisement