Advertisement

Rustamiyah adalah sebuah dinasti yang berkuasa di Aljazair, Afrika Utara, selama 136 tahun (H), dari 777 (160 H) sampai 909 (296 H). Sejak dunia Islam dikuasai oleh Dinasti Bani Abbas (750/132 H), Di­nasti Rustamiyah merupakan dinasi kedua yang berdiri di luar kontrol Dinasti Bani Abbas (Khilafah Abbasiyah); yang perta­ma adalah Dinasti Umayyah, yang berhasil bangkit kembali di Andalusia (Spanyol) pada 756 (138 H).

Pendiri Dinasti Rustamiyah ini adalah Kadi Abdurrahman, putra Rustam (se­orang Persia). Semula keluarga Rustami­yah, yang berpaham Khawarij Ibadiyah, berkuasa di Qairuan (758-762/141-144 H), tapi, karena mendapat serangan kuat dari pihak lawan, terpaksa lari ke barat, yaitu ke suatu daerah di Aljazair, yang ba­nyak didiami oleh orang-orang Khawarij Ibadiyah (kaum Khawarij Ibadiyah dan Sufriyah memasuki wilayah Magrib: Tu­nisia, Aljazair, dan Marokko, pada pa­ruhan pertama abad ke-2 H dan pahamnya cepat tersebar di kalangan kabilah Berber, sehingga menjadi mazhab kabilah). Di dae­rah Baru itulah keluarga Rustamiyah membangun kota Tahert (762/144 H), dan ketika Kadi Abdurrahmah memba­ngun daulatnya pada 777 (160 H), kota Tahert itu langsung dijadikan ibukota.

Advertisement

Informasi tentang dinasi ini, kendati berusia cukup lama, sebenamya relatif se­dilcit. Tercatat silsilah para imam dinasti ini seperti terurai di bawah.

Daerah yang dikuasai Dinasi Rustami­yah ini lebih kurang seluas Aljazair seka­rang, bahkan pada bagian tenggara menca­kup wilayah barat Libia sekarang. Tetang­ganya di barat adalah Dinasti Idrisiyah, yang bermazhab Syi`ah (di Marokko se­karang), dan di timur adalah Dinasti Agla­biyah, yang bermazhab Sunni/Maliki (di Tunisia sekarang); di selatan terdapat wila­yah yang dikuasai Dinasti Midrariyah, yang bemazhab Khawarij Sufriyah.

Dinasti Rustamiyah membangun hu­bungan baik dengan Dinasti Midrariyah, antara lain dengan ikatan perkawinan. Juga hubungan baik dibangun dengan Di­nasti Umayyah, yang berkuasa di seberang utara (di Andalusia). Disebutkan bahwa pada 822 (207 H) perutusan pihak Rus­tamiyah berkunjung ke Istana Dinasti Umayyah, dan disambut dengan gembira oleh Amir Abdurrahman II, dan pada 853 (239 H) Dinasti Rustamiyah meneri­ma hadiah persahabatan dan Amir Mu­ hammad I (Dinasti Umayyah) sebanyak 100.000 dirham. Persahabatan dengan Di­nasti Midrariyah dan Umayyah itu cukup menguntungkan. posisi Dinasti Rustami­yah, baik dan sudut politik (menjaga per­imbangan kekuatan dengan, dan disegani oleh, dinasti Idrisiyah dan Aglabiyah), maupun dari sudut ekonomi, yakni men­jadi jalur perdagangan yang ramai antara daerah selatan (sekarang meliputi Mauri­tania, Mali, Nigeria, Senegal, Pantai Emas, dan lain-lain), yang kaya dengan emas dan tenaga budak, dengan daerah di seberang utara (Dinasti Umayyah, dan lain-lain).

Antara Dinasti Rustamiyah dengan Di­nasti Idrisiyah dan dengan Dinasti Agla­biyah memang pernah meletus peperang­an, tapi tidak begitu jelas sampai berapa kali. Disebutkan bahwa Imam kedua (Ab­dul-Wahhab) pernah menghimpun kabilah­kabilah Berber di luar kota Tripoli, yang berada di tangan Aglabiyah, dan menye­rang pasukan Aglabiyah di kota itu. Pe­perangan yang berkobar, berakhir dengan perdamaian, dan mungkin ini merupakan perdamaian untuk tidak saling-menyerang, sehingga tidak dijumpai informasi tentang peperangan lain sesudah itu. Peperangan dengan Idrisiyah pernah terjadi pada masa pemerintahan Imam Aflah (Imam ketiga). Itulah peperangan di Tlemcen melawan kabilah Berber yang menjadi pendukung Dinasti Idrisiyah, dan dimenangkan oleh Dinasti Rustamiyah, sehingga mereka memperoleh harta rampasan yang banyak. Selain peperangan di Tlemcen itu, tidak dijumpai informasi tentang peperangan lainnya. Memang Dinasti Idrisiyah sering mendapat gangguan/serangan dad .golong­an Khawarij, tapi dan kaum Sufriyah, dan tidak disebutkan dan kaum Ibadiyah.

Para imam Dinasti Rustamiyah berupa­ya keras memelihara stabilitas dan ke­amanan wilayahnya, sesuai dengan prinsip amar makruf nahi mungkar, kewajiban beramal saleh dan menjaga akhlak yang mulia. Keberhasilan para imam mereka da­lam bidang ini telah menyebabkan ramai­nya lalu-lintas perdagangan utara-selatan lewat kota Tahert. Kemakmuran Dinasti Rustamiyah dan_majunya perdagangan me­reka telah menjadi daya tank .banyak orang-luar dan para pedagang untuk ber­datangan di Tahert. Banyak buku-buku di-import dari daerah Islam belahan timur, sehingga ilmu, seni, dan budaya lainnya ikut maju.

Setelah melalui zaman perpecahan da­lam empat dasawarsa terakhir (terjadi be­berapa kali kudeta: Imam keempat, ke­enam, dan ketujuh digulingkan oleh rival masing-masing), Dinasti Rustamiyah tidak lagi berdaya melawan pasukan Fatimiyah, dinasti yang baru tumbuh di Afrika Utara. Berakhirlah riwayat Dinasti Rustamiyah pada 909 (296 H), sedang masyarakat Khawarij Ibadiyah terpaksa menyingkir ke pedalaman padang pasir Sahara di selatan. Karena sikap mereka yang tidak agresif terhadap penguasa mana pun, kaum Kha­warij Ibadiyah, yang pernah berjaya da­lam Dinasti Rustamiyah, masih mempu­nyai turunan yang bertebaran di sahara Aljazair dan Tunisia, juga di pulau Jerba.

Advertisement