Advertisement

Rujuk berarti: kembali, balik. Dalam istilah, rujuk berarti: perbuatan atau tindakan seorang laki-laki untuk Me­ngembalikan istri yang telah ditalak kepa­da status perkawinan semula sebelum dija­tuhkan talak, tanpa melakukan akad ni­kah baru.

Rujuk boleh dilakukan selama istri ma­sih dalam masa iddah talak rari (talak satu atau talak dua). Jika masa iddah telah habis, suami tidak dapat rujuk kepada be­kas istrinya, kecuali dengan melakukan akad nikah baru.

Advertisement

Suami juga tidak dapat rujuk kepada bekas istrinya yang ditalak dengan talak ba’in. sugra (talak sebelum campur dan talan tebus atau khulte), atau yang dita­lak dengan talak ba’in kubra (talak tiga). Apabila suami ingin kembali kepada bekas istrinya yang ditalak ba’in sugra, suami hanya dapat melakukannya dengan akad nikah baru, dan apabila suami ingin kern­bali kepada bekas istri yang ditalak ba’in kubra, ia hanya dapat melakukannya se­telah bekas istri itu nikah dengan laki-laki lain dengan nikah yang sebenarnya, sudah diceraikan, dan sudah habis masa iddah­nya, maka pada waktu itulah bekas suami pertama dapat kembali kepada bekas istri­nya itu dengan melakukan akad nikah baru.

Rujuk dapat dilakukan dengan ucapan atau perbuatan. Tetapi menurut mazhab. rujuk hanya dapat dilakukan dengan ucapan, yaitu dengan kata-kata yang jelas dan dimengerti, tidak boleh rujuk dengan persetubuhan atau dengan rangsangan-rangsangan yang menimbulkan nafsu.

Menurut mazhab lain, rujuk boleh dila­kukan dengan ucapan, yaitu dengan kata­kata yang jelas (seperti: “Aku rujuk istri­ku.”), atau dengan kata-kata sindiran (se­perti: “Aku pegang kembali istriku.”), dan boleh pula dengan perbuatan (seperti mensetubuhinya).

Rujuk hendaknya dilakukan dengan di­saksikan oleh dua orang saksi. Menurut mazhab Maliki, saksi merupakan syarat sahnya rujuk, karena itu wajib ada saksi dalam pelaksanaan rujuk. Menurut Ibnu Hazm, saksi termasuk rukun rujuk, kare­na itu saksi juga wajib ada dalam pelaksa­naan rujuk. Menurut mazhab Syafi`i, Ha­nafi dan Hambali, rujuk sebaiknya ada saksi, karena itu saksi disunahkan dalam rujuk.

Jika seorang bekas istri dalam masa id­dah talak rafi menyatakan keberatan atas rujuk yang dilakukan oleh suaminya, ma­ka menurut sebagian fukaha, rujuk suami itu tidak sah, sebab syarat untuk rujuk sesuai dengan yang tersebut dalam surat at-Talaq: 2, hendaklah dilakukan dengan cara yang baik (makruf). Jika rujuk yang dilakukan oleh suami tidak disetujui oleh .istri, itu berarti rujuk itu dilakukan secara paksa, bukan dengan cara yang baik, kare­na itu tidak sah.

Menurut jumhur fukaha, kerelaan istri tidak menjadi syarat sahnya rujuk. Rujuk adalah hak suami selama istri masih dalam masa iddah. Hal ini sesuai dengan yang tersebut dalam al-Quran, surat al-Baqarah: 229. Karena itu menurut jumhur, untuk rujuk tidak diperlukan kerelaan atau pe­ngetahuan istri atau wali.

Adapun hukum rujuk adalah sebagai berikut:

  1. Jaiz (boleh). Ini hukum rujuk yang asal.
  2. Wajib, yaitu bagi suami yang mentalak salah seorang istrinya sebelum disem­purnakan pembagian waktu terhadap istrinya yang ditalak.
  3. Haram, yaitu bila rujuk dimaksudkan untuk menyengsarakan istri.
  4. Makruh, yaitu bila diteruskan percerai­an akan lebih membahagiakan suami­istri daripada dilakukan rujuk.
  5. Sunah, yaitu bila rujuk itu akan lebih membahagiakan suami istri daripada terus dalam perceraian.

Rujuk bagi masyarakat Islam Indonesia dilakukan di Kantor Urusan Agama (KUA). Rujuk sah apabila disaksikan oleh dua orang saksi, serta dengan persetujuan istri, dan dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah (PPN).

Pelaksanaan rujuk bagi masyarakat Is­lam Indonesia, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Agama Republik Indo­nesia, Nomor 3, tahun 1975, adalah seba­gai berikut:

Suami yang hendak merujuk istrinya datang bersama-sama ke PPN atau ke P3NTR yang mewilayahi tempat tinggal istri dengan membawa Kutipan Buku Pen­daftaran Talak dan surat-surat keterangan lain dari Kelurahan. Pegawai Pencatat Ni­kah atau P3NTR memeriksa apakah sya­rat-syarat rujuk sudah dipenuhi. Setelah itu suami mengucapkan rujuknya, dan ma­sing-masing yang bersangkutan beserta saksi-saksi menandatangani Buku Pendaf­taran Rujuk. Setelah rujuk dilaksanakan, Pegawai Pencatat Nikah atau P3NTR memberikan nasihat kepada suami-istri tentang kewajiban-kewajiban suami-istri setelah rujuk.

Pegawai Pencatat Nikah membuat Surat Keterangan tentang Terjadinya Rujuk, ke­mudian mengirimkannya kepada Pengadil­an Agama di tempat berlangsungnya talak yang bersangkutan, dan kepada suami-istri masing-masing diberikan Kutipan Buku Pendaftaran Rujuk. Suami dan istri terse-but atau kuasanya, membawa Kutipan Bu­ku Pendaftaran Rujuk tersebut ke Penga­dilan Agama di tempat berlangsungnya talak dahulu, untuk mengambil kembali Kutipan Akta Nikah masing-masing, sete­lah oleh Pengadilan Agama diberikan ca­tatan dalam Kutipan Akta Nikah tersebut, bahwa yang bersangkutan telah rujuk.

Advertisement