Advertisement

Riya, dalam istilah Arab disebut adalah sikap yang sangat dicela oleh al-Quran. Sikap riya itu menunjuk­kan kepada orang yang melaksanaan per­buatan, apakah ibadat ataupun perbuatan kebaikan lainnya, bukan karena mengha­rapkan keridaan Tuhan, tetapi karena ingin mendapatkan pujian dan manusia.

Dalam surat al-Baciarah ayat 264, sikap riya itu digambarkan oleh Tuhan dengan perumpamaan orang yang membelanjakan harta atau bersedekah namun diiringi de­ngan menyebut-nyebut atau membangkit­bangkit pemberian tersebut atau dengan menyakiti hati orang yang diberi. Sedekah atau pemberian yang seperti itu, sama hal­ nya dengan sebuah batu tandus yang di atasnya ada tanah, lalu ditimpa oleh hujan lebat, maka hilanglah tanah yang ada di atas batu tersebut sehingga menjadi licin kembali. Ini menunjukkan bahwa sede­kah karena riya akan menghilangkan pa­hala sedekah itu sendiri.

Advertisement

Surat an-Nisa ayat 38 memberi penje­lasan tentang riya juga dengan kasus mem­belanjakan harta pada jalan Allah, bukan karena mengharapkan rida Allah tetapi agar dipuji oleh manusia. Ia mendermakan hartanya bukan karena ingat bahwa harta itu merupakan pinjaman Tuhan kepada­nya tetapi, “karena ingin akan dipuji-puji orang, agar ia dikatakan dermawan. Ke­adaan orang yang seperti itu seolah-olah tidak percaya kepada Allah dan tidak per­caya kepada Hari Akhir. Orang yang se­perti itu kata al-Quran layak berteman de­ngan setan. Karena setanlah yang membi­sikkan kepada hatinya agar ia selalu meng­harapkan pujian dan manusia.

Apalagi dalam surat al-Ma`un sikap riya ini sangt dicela. Bahkan seseorang yang se­lalu melakukan ibadat salat tetapi karena riya, orang yang seperti itu akan masuk ne­raka. Dalam surat ini sikap riya digambar­kan sebagai keadaan orang mendustakan hari akhirat, tidak mengacuhkan anak ya­tim dan tidak mau memberi makan terha­dap orang-orang miskin. Walaupun dia me­lakukan kebajikan dan beramal saleh seba­nyak-banyaknya, adakalanya ia bermuka manis kepada anak yatim, menganjurkan memberi makan fakir miskin, dan kadang­kadang kelihatan khusyuk dalam sembah­yang, tetapi semua itu dikerjakannya de­ngan riya. Beramal karena ingin dipuji orang, ingin dilihat dan dijadikan iklan. Bila pujian orang berkurang dan malah ia tidak dipuji lagi maka ia pun mengundur­kan diri dari berbuat amal tersebut, bah­kan merajuk, tidak pernah melakukannya lagi. Itu berarti hidupnya penuh kebo­hongan dan kepalsuan. Inilah potret orang yang mempunyai riya dalam hatinya. Dan tempat yang layak baginya menurut surat al-Ma`un ini adalah neraka Wail.

 

Advertisement
Filed under : Review,