Advertisement

Rifaiyah (RifFiyyat) adalah tarekat yang muncul di Irak sejak abad ke-12 (6 H). Sebagaimana tarekat Qadiriyah yang juga muncul di Irak, tarekat Rifaiyah ini termasuk dalam kelompok tarekat-ta­rekat yang pertama muncul di dunia Is­lam. Dulu ada persangkaan bahwa tarekat Rifaiyah ini adalah cabang dan tarekat Qadiriyah, tapi persangkaan itu tidak be­nar; ia adalah tarekat yang berdiri sendiri dan tidak ada hubungannya dengan tare­kat Qadiriyah.

Pendiri tarekat Rifaiyah ini adalah Abu al-Abbas Ahmad bin Ali ar-Rifai, yang se-ring disingkat menjadi Ahmad ar-Rifai atau Ibnu ar-Rifai. Riwayat hidup pendiri tarekat ini tidaklah begitu terang. Suatu sumber menyebutkan bahwa ia lahir pada 1106 (500 H), dan sebuah keluarga Arab, yang agaknya bermukim di Bagdad. Pada waktu ayahnya wafat di Bagdad, ia baru berusia tujuh tahun, dan dengan kewa­fatan ayahnya itu ia hidup bersama pa­mannya, Mansur al-Bataihi, seorang sufi, yang pada waktu itu masih bermukim di Basrah (belakangan pamannya ini pindah ke desa Umm Abidah, dalam kawasan Ba­taih, yakni kawasan yang terletak antara Basrah dan Wasit). Selain belajar pada pa­mannya tersebut, ia juga belajar pada pa­mannya yang lain, Abu al-Fadl Ali al-Wa­siti, terutama tentang fikih mazhab Sya-

Advertisement

Dalam usia 21 tahun, ia telah berhasil memperoleh ijazah dari pamannya yang fakih dan khirqah (jubah, sebagai pertan­da sudah mendapat wewenang untuk mengajar) dan pamannya yang sufi (Man­sur al-Bataihi). Pamannya yang sufi ini memberikan kepercayaan kepada dirinya untuk memimpin jamaah di Umm Abidah kelak, setelah pamannya itu wafat. Demi­kian setelah pamannya tersebut wafat pa­da 1145 (540 H), ia (Ahmad ar-Rifai) tampil sebagai pimpinan jamaah di Umm Abidah, yang sering juga disebut dengan jamaah Rifaiyah atau Bataihiyah.

Kelihatannya Ahmad ar-Rifai, setelah menjadi pemimpin tertinggi jamaah di Umm Abidah tersebut, mengembangkan jamaah itu menjadi sebuah jamaah tarekat yang dihubungkan kepada namanya sen­diri; dan itulah tarekat Rifaiyah. Ia me­ngembangkan latihan-latihan zikir sedemi­Man rupa, sehingga mereka yang melaku­kan zikir itu dapat mengalami fana. Da-lam keadaan fana itu, mereka dapat me­lakukan perbuatan-perbuatan yang me­nakjubkan, tanpa cidera, seperti berjalan atau berguling-guling di dalam api unggun, atau di atas pecahan-pecahan kaca; mene­lan tiara api atau pecahan kaca tersebut, menikam badan mereka dengan pisau atau benda tajam lainnya, menangkap dan menggigit kepala ular berbisa yang cukup besar, menunggangi singa, dan sebagainya. Upacara zikir bersama, sambil menari dan duringi oleh suara gendang yang bertalu­talu, yang menghasilkan fana dan adanya perbuatan-perbuatan menakjubkan terse-but pada waktu fana itu, menjadi ciri khas tarekat yang didirikan oleh Ahmad ar­Rifai. Pendiri tarekat ini, setelah berada di kawasan Bataih, hampir tidak pernah me­ninggalkan kawasan tersebut, kecuali pada 1160 (555 H) untuk keperluan menunai­kan ibadat haji ke tanah suci Mekah dan Madinah.

Setelah Ahmad ar-Rifai wafat di Umm Abidah dan berkubur di desa itu pada 1182 (578 H), kepemimpinan tarekat di­pegang oleh putra atau turunan saudara­nya, dan—itu — menurut Ibnu Batutah — terus berlangsung demikian sampai pada masa Ibnu Batutah berkunjung ke Umm Abidah itu pada 1327 (727 H). Dalam pe­nyaksian Ibnu Batutah itu disebutkan bahwa di Umm Abidah tersebut terdapat beribu-ribu jamaah tarekat Rifaiyah. Me­reka melakukan zikir bersama, pada wak­tu Asar, Magrib, dan Isya. Pada waktu Isya itu, mereka berzikir dengan iringan suara gendang; di tengah mereka dinyalakan sebuah unggunan besar. Satu per satu mereka yang mengikuti zikir itu mema­suki unggunan yang menyala-nyala, sambil menari atau berguling-guling di dalamnya; ada juga yang mengambil bara yang se­dang memerah dan memasukkannya ke dalam mulut mereka. Acara itu berlang­sung sampai semua jamaah yang melaku­kan zikir itu memasuki unggunan api.

Tarekat Rifaiyah menyebar berbagai pelosok dunia Islam. Ia dibawa ke Mesir oleh Abu al-Fath al-Wasiti (w. 1234/632 H), ke Siria oleh Muhammad Ali al-Hariri (w. 1248/645 H). dan di Siria ini terdapat sejumlah zawiyah (perkampungan) tarekat ini, seperti zawiyah Haririyah, zawiyah Talibiyah, dan zawiyah Sediyah. Di Yeru­salem, Anatoli, dan Maladewa juga ber­munculan zawiyah-zawiyahnya. Tarekat ini juga memasuki wilayah Indonesia: per­mainan-permainan luar biasa (menikam­kan benda tajam ke badan), yang dikenal di Aceh dengan nama “rapa’i” (jelas asal­nya dari kata Rifai), di Minangkabau de­ngan nama “badabuih” dan di Jawa Barat dengan nama “dabus” menjadi bukti per­nah berkembangnya ia di kawasan Nusan­tara ini. Ada ahli atau peneliti tarekat, yang menulis bahwa boleh jadi benar bah­wa tarekat Rifaiyah ini sampai abad ke­15 (9 H) merupakan tarekat yang paling luas penyebarannya di dunia Islam, tapi setelah itu kepopulerannya menurun dan digantikan oleh tarekat lain, seperti Qa­diriyah.

 

Advertisement
Filed under : Review,