Advertisement

Rida (rida) mengandung arti suka atau senang, dan lawannya adalah benci atau ti­dak senang. Kata rida itu lazim dihubung­kan kepada Tuhan, seperti rida Tuhan ke­pada makhluk-Nya, dan juga dihubungkan kepada manusia, seperti rida manusia ke­pada sesamanya atau kepada Tuhan.

Mencari atau mengharapkan rida Tuhan haruslah menjadi motivasi utama aktivitas manusia dalam hidupnya, karena rida-Nya itu dapat dipandang sebagai sumber atau awal dan segala nikmat yang didambakan manusia; ia merupakan nikmat yang lebih besar dan surga yang dijanjikan Tuhan ke­pada umat-Nya yang beriman (al-Quran 9:72).

Advertisement

Rida Allah, yang dicari dan diharapkan itu, tidaklah mungkin diperoleh oleh sese­orang, kecuali dengan cara beriman kepa­da-Nya, mentaati segala perintah dan la­rangan-Nya, atau dengan kata lain meng­ikuti hidayah dan bimbingan hidup yang diberikan-Nya kepada manusia. Rida-Nya itu tidak mungkin diperoleh manusia de­ngan cara mendurhakai atau mengkufuri­Nya. Di dalam al-Quran ditegaskan bahwa Allah tidaklah rida kepada orang-orang yang fasik atau durhaka, tidak meridai ke­kufuran, tapi meridai sikap syukur kepa­da-Nya (39:7; 9:96). Jalan-jalan kepada sardm (kesejahteraan, kedamaian jiwa, atau kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat) ditunjukkan Tuhan bagi siapa saja yang mengikuti keridaan-Nya atau apa yang di­ridai-Nya (5:16). Al-Quran juga menggam­barkan besarnya keuntungan yang diberi­kan Tuhan kepada orang-orang yang men-cad. rida-Nya (4:114; 2:265).

Pada hakikatnya anugerah surga atau kebahagiaan sejati yang diperuntukkan Tuhan kepada manusia mukmin yang ber­amal saleh, tidaklah lain dari manifestasi rida-Nya kepada manusia yang baik. Ma­nusia yang mukmin dan beramal saleh, kata al-Quran 98:8, adalah sebaik-baik manusia; sebagai balasan bagi kebaikan mereka adalah surga dan rida-Nya.

Dalam kajian tasawuf perhatian lebih banyak ditujukan kepada upaya mengem­bangkan emosi rida dalam hati calon sufi kepada Tuhan. Dikatakan bahwa jangan­lah berharap memperoleh rida Tuhan, bila dalam hati kita sendiri tidak tumbuh de­ngan subur emosi rida kepada-Nya. Di sini ditanamkan kesadaran bahwa ada tidak­nya, atau besar kecilnya rida Tuhan pada seseorang tergantung pada ada tidaknya atau besar kecilnya rida hatinya kepada Tuhan.

Rida kepada Tuhan, menurut para sufi, mengandung makna yang luas; ia mengan­dung antara lain makna-makna berikut:

tidak menentang kada dan kadar Tuhan, menerima kada dan kadar-Nya itu dengan senang hati, mengeluarkan perasaan benci dari hati sehingga yang tinggal di dalam­nya hanyalah perasaan senang dan gembi­ra, merasa senang menerima malapetaka sebagaimana merasa senang menerima nik­mat, tidak meminta surga dari Tuhan dan tidak meminta supaya dijauhkan dari ne­raka, tidak berusaha sebelum turunnya kada dan kadar, tidak merasa pahit dan sakit sesudah turunnya, bahkan perasaan senang bergelora di waktu cobaan atau musibah datang.

Orang yang berhati rida pada Allah me­miliki sikap optimis, lapang dada, kosong hatinya dari dengki, berprasangka baik, bahkan lebih dan itu: memandang baik, sempurna, penuh hikmah semua rancang­an, ketentuan, dan perbuatan Tuhan. Syekh Maulana Jalaluddin Rumi meng­gambarkan para sufi yang berhati rida ke­pada Tuhan, antara lain sebagai berikut: “Aku perkenalkan para wali, yang mulut­nya tidaklah berkomat-kamit dengan lafal doa; mereka adalah orang-orang mulia yang tunduk dengan hati rida. Mereka me­mandang haram permohonan untuk me­nolak kada. Mereka melihat bahwa pada kada dan kadar Tuhan itu ada rasa nikmat yang khas, dan memandang kufur upaya memohon kelepasan darinya. Prasangka baik telah membuka dan memenuhi hati mereka, sehingga tidaklah mereka mema­kai pakaian biru karena sedih. Apa saja yang datang kepada mereka, menggembi­rakan hati mereka; ia akan berubah men­jadi api kehidupan, kendati ia yang datang itu api; racun yang berada di kerongkong­an mereka, mereka pandang seperti gula; dan batu di jalanan seperti permata; sama bagi mereka yang baik dengan yang bu­ruk. Semua sikap ini berkembang dan “lpsn az-zann”, prasangka baik mereka. Berdoa bagi mereka suatu kekufuran, ka­rena bila mereka melakukannya itu berarti mereka mengatakan: ‘Ya Tuhan kami, ro­bahlah kada ini sehingga menjauh dari ka­mi, atau robahlah kada ini sehingga meng­untungkan kami’. . . ..bagaimanakah jadi­nya dunia ini, bila ia harus berjalan menu-rut keinginan manusia, bukan menurut kada dan kadar-Nya . . .?” Demikianlah antara lain sikap sufi yang hatinya dipe­nuhi rida pada Tuhan. Kendati berdoa di­syariatkan oleh agama, mereka — karena telah mencapai taraf kerohanian yang tinggi — tidak merasa pantas lagi meminta ini dan itu kepada Allah.

Pada abad ke-9 (3 H) telah muncul per­bincangan di kalangan sufi, apakah rida pada Allah itu termasuk hal atau maqam. Kendati segolongan sufi cenderung- me­mandangnya sebagai hal dan yang lain me­mandangnya sebagai maqam, rurnusan kompromi bisa saja diambil: ia disebut hal pada seseorang, bila ia (rida) itu masih bersifat datang dan pergi, belum mantap dalam hatinya; dan disebut maqam, bila rida itu, karena upaya olah-rasa, menjadi mantap dan terus menerus menetap dan menguasai hatinya. Dapat dipahami bah­wa orang yang berhati rida pada Allah itu­lah orang paling berbahagia di dunia, yang tentu berlanjut di akhirat. Rida itu meru­pakan hal atau maqam yang amat tinggi dalam pandangan kaum sufi.

Advertisement
Filed under : Review,