Advertisement

Ribath (ribat) adalah sebuah istilah yang menunjukkan tempat berkumpulnya para sufi dan ahli tarekat guna melaksana­kan latihan-latihan spiritual. Tetapi dalam perjalanan sejarah Islam kata ribat sering juga dipergunakan dalam konteks yang le­bih luas. Quran (8:60) menghubungkan kata ribat dengan organisasi militer, “tern-pat kuda” (ribat al-khail) yang siap untuk ekspedisi.

Pemakaian arti ini erat berhubungan de­ngan tempat-tempat pemberhentian bagi kuda-kuda dalam sistem pos. Dalam per­kembangan awal Islam, khususnya pada masa perluasan wilayah (futi7/3), kata ribat secara jelas dihubungkan dengan tempat konsentrasi pasukan muslim di daerah per­batasan. Karena ikatan erat antara perluas­an wilayah dengan ide tentang penyebaran Islam, maka tidak mengherankan kalau pusat konsentrasi pasukan tersebut juga merupakan pusat kegiatan keagamaan.

Advertisement

Kemudian secara lebih khusus kata ribat juga dipakai sebagai puncak menara pengamat atau tempat perlindungan bagi penduduk sekitar. Fungsi utamanya ada­lah untuk memberikan informasi bagi pa­sukan induk untuk mengadakan persiapan dan gerakan. Dalam hal ini ribat biasanya terdiri dari sebuah tempat luas yang terlin­dungi secara rapi dan lengkap dengan tern-pat tinggal, musala, gudang senjata, bahan makanan dan menara pengamat. Cara pe­nyebaran tanda bahaya biasanya memakai suara genderang atau api unggun. Tetapi tersebarnya ribat di berbagai kawasan per­batasan seperti Transoxiana. Magrib dan

Andalusia telah diikuti dengan bervariasi­nya bentuk dan kualitas, sehingga tak mengherankan apabila di tempat-tempat tertentu ribat hanyalah merupakan ben­tuk simbolik seperti benteng kecil atau menara pengamat.

Ikatan yang erat antara ribat dengan ni­lai keagamaan sering mengundang individu muslim untuk mendirikan pusat-pusat ter­sebut secara sukarela. Inisiatif lokal dan individual ini tentunya mendorong tim­bulnya kecenderungan guna memanfaat­kan ribat buat “kepentingan keagamaan lokal” seperti pendidikan, tempat ber­ibadat dan perkara sosial-keagamaan lain­nya. Namun secara umum pendirian ribat adalah menjadi tanggung-jawab penguasa baik khalifah, sultan atau gubernur. Teta­pi hal ini tidak mernbatasi kemungkinan bagi para individu muslim untuk berparti­sipasi (murabitun) dalam menghidupkan suasana ribat. Hal ini menjadi lebih me­mungkinkan karena peranan ribat sebagai pos militer terdepan akan selalu cepat ber­ubah dengan maju mundurnya volume pe­naklukan. Sewaktu sebutan ribat diting­galkan sebagai pos militer maka fungsi ke­agamaannya akan menjadi lebih menonjol. Memang sebuah ribat yang masih berfung­si penuh, di samping dipenuhi dengan ke­giatan militer, juga mengadakan kegiatan keagamaan secara intensif yang dipimpin oleh seorang imam.

Di Afrika Utara, ribat untuk waktu yang lama tetap mempertahankan ciri-ciri dualistik militer dan keagamaan. Hal ini tentunya sangat erat dengan usaha meluas­kan wilayah di masa awal dan ancman dari luar setelah abad ke-10. Bahkan berdiri­nya dinasti-dinasti besar seperti Murabitun dan Muwahhidun di Magrib pada abad ke­11 dan 12 sangat erat berhubungan de­ngan kehidupan ribat yang multi-dimen­sional tersebut. Bagaimanapun dalam per­kembangan selanjutnya kata ribat akhir­nya juga digunakan untuk mengacu kepa­da pusat kegiatan orang-orang sufi dan ahli tarekat, khususnya di kawasan-kawasan Barbar. Misalnya, kata murabit atau mara­bout (dari kata ribat) adalah menjadi iden­tik dengan wali.

Di bagian timur Dunia Islam setelah ancaman dan luar relatif melemah, ribat menjadi lebih cenderung berkembang se­bagai pusat kegiatan keagamaan yang ber­corak sufi. Menurut satu pendapat, paling tidak semenjak abad ke-12 (6 H) kaum su­fi dan ahli tarekat telah mengembangkan ribat sebagai pusat kegiatan mereka. Ke­giatan tarekat dan sufisme telah menjadi raison d’etre yang baru bagi ribat. Para geografer muslim seperti Ibnu Jubair, Ibnu Syihnah dan Ibnu Batutah yang me­ngunjungi tempat-tempat di Asia Barat menyebutkan bahwa ribat yang mereka saksikan adalah bukan lagi pusat kemili­teran tetapi sebagai tempat kegiatan ke­agamaan, pendidikan atau tarekat. Jadi ti­dak aneh kalau para sejarawan, geografer, pelawat setelah abad ke-10 sering menggu­nakan kata ribat dalam konteks khanqah atau zawiyah.

Di Andalusia pemakaian kata ribat juga mempunyai anti yang evolusionis. Sebagai kawasan yang berhadapan langsung de­ngan kekuasaan non-muslim. Andalusia menyaksikan kegiatan-kegiatan militer yang pantang berhenti. Sebagaimana di Dunia Islam yang lain di Andalusia ribat juga merupakan institusi militer keagama­an yang penting. Ribat dijadikan pusat beroperasi menghadapi serangan dari pe­nguasa-penguasa di wilayah utara seperti Castile dan Arazon. Memang derivasi kata ribat, rebato dalam bahasa Spanyol seba­gaimana dikutip satu sumber adalah berar­ti “serangan balik yang berdasarkan me­tode perang klasik.” Selanjutnya ribat juga digunakan untuk menunjukkan arti “pusat kegiatan keagamaan bagi seorang syekh yang didukung oleh para murid dan pengikut; biasanya menempati lokasi yang terpencil.

 

Advertisement
Filed under : Review,