Advertisement

Riba, yang dalam bahasa Arab sesekali disebut pula dengan istilah “ar-rimE”‘ makna asalnya ialah tambah, tumbuh dan subur seperti dalam Firman Allah (dalam surat al-Hajj: 5 dan surat Fussilat : 39) (. . . Maka apabila Kami turunkan air (hu­jan) di atas tanah itu, niscaya tanahterse-but bergerak (hidup) dan tumbuh-su­bur. . .).

Adapun yang dimaksud dengan penger­tian tambah dalam konteks riba yang umum dikenal oleh masyarakat luas ialah tambahan uang atas modal yang diperoleh dengan cara yang tidak dibenarkan syara, apakah tambahan itu berjumlah sedikit maupun berjumlah banyak seperti diisya­ratkan al-Quran (surat al-Baqarah: 279).

Advertisement

Semua agama samawi, khususnya Islam dan bahkan konon para filosof, semuanya mengharamkan praktek riba. Al-Quran al-Karim, sumber utama dan pertama hukum Islam, mengharamkan riba dan mengecam serta mengancam para pemakan riba. Orang-orang yang memakan riba, oleh al-

Quran (surat al-Baqarah: 275-279) dilu­kiskan laksana orang-orang yang tidak sa­darkan diri karena kesurupan setan; dan di akhirat kelak mereka akan mendapatkan siksaan yang sangat pedih.

Senada dengan al-Quran, al-Hadis juga mengutuk (melaknat) para pemakan riba dan mencela semua pihak yang terlibat da­lam kegiatan riba seperti juru tulis, para saksi dan lain sebagainya. Selain itu, al­Hadis juga menggolongkan riba ke dalam kelompok perbuatan dosa besar seperti zina, membunuh tanpa hak, lari dari me­dan tempur tanpa alasan yang dibenarkan, dan lain-lain.

Dalam pada itu para ulama Islam mem­bedakan jenis riba ke dalam dua macam: (1) riba nasi’ah dan (2) riba fall. Riba na­si’ah ialah tambahan (bunga) uang yang harus dibayar oleh si peminjam (kreditor) kepada yang memberi pinjaman (debitur), yang disyaratkan ketika transaksi hutang­piutang berlangsung sebagai imbalan dari tenggang waktu pembayaran uang.

Sebutan lain bagi riba nasi’ah ialah riba jahiliyah, di samping juga sering dijuluki dengan istilah riba ad-duyun. Dinamai riba karena riba nasi’ah itu tetjadi melalui praktek utang-piutang; sedangkan dijuluki riba jahiliyah, karena di masa­masa pra Islam riba nasi’ah itu telah biasa dilakukan oleh sebagian orang Arab yang bermodal.

Di Taif umpamanya, konon kaum Bani Saqif terbiasa meminjamkan uang kepada kaum Bani Mugirah dengan syarat (keten­tuan) pihak peminjam harus bersedia membayarnya lebih banyak dari jumlah uang yang mereka pinjam. Jika pihak de­bitur tidak sanggup membayar hutangnya pada waktu yang telah ditentukan semula, pihak kreditor biasanya memberi tambah­an waktu — dari tenggang waktu semula —dan sudah barang tentu dengan catatan harus bersedia membayar uang tambahan (bunga). Demikianlah seterusnya selama pihak debitur belum mampu membayar dan selama pihak kreditor memberi ke­sempatan penambahan tenggang waktu pembayaran sehingga jumlah hutang debi­tur menjadi semakin menumpuk (berlipat­ganda) atau ‘adrzfan much afar menurut istilah al-Quran (surat Ali Imran: 130).

Adapun bentuk riba yang kedua, seper­ti disebutkan di atas, ialah riba fadl yaitu kelebihan yang terdapat dalam tukar-me­nukar mata uang atau benda-benda yang sejenis seperti menukar satu gram mas de­ngan satu setengah gram mas.

Berbeda dengan riba nasi’ah, yang hu­kum keharamannya telah disepakati oleh seluruh ulama Islam, riba fadl atau riba yang tidak berlipat ganda hukumnya di­perselisihkan oleh para ulama. Ada yang mengatakan tidak haram tetapi kebanyak­an (jumhur) ulama mengharamkannya.

 

Advertisement
Filed under : Review,