Advertisement

Rebo Wekasan Di kalangan masyarakat Islam tradisional tumbuh kepercayaan mitos, tentang keburukan hari Rabu terakhir bulan Safar. Dalam tradisi Jawa hari itu terkenal dengan sebutan Rebo We­kasan. Menurut kepercayaan masyarakat, bulan Safar merupakan bulan yang penuh malapetaka, dan puncaknya jatuh pada hari Rabu terakhir. Pada hari itu, diperca­yai, ribuan bala (malapetaka) diturunkan Tuhan dari Lohmafud (lauh al-mahfuz); bahkan, menurut versi lain, 320.000 ma-cam malapetaka.

Sejumlah peristiwa sosial yang berlang­sung pada bulan Safar cenderung diberi­kan konotasi negatif. Ibu yang melahirkan pada bulan ini, misalnya, dipercayai anak­nya akan memiliki kepribadian yang bu­ruk, atau, setidaknya,. akan menjadi anak yang nakal kelak. Karenanya, dalam tradi­si Jawa Barat, seorang anak yang dilahir­kan pada bulan Safar dikenal dengan isti­lah sasapareun (nakal). Anak-anak yang la­hir pada bulan Safar harus mendapat per­hatian khusus. Agar mereka kelak tidak menjadi sasapareun (nakal), keluarganya hams mengadakan ruwatan (selamatan). Untuk kalangan non santri, upacara sela­matan tersebut diwarnai oleh cerita-cerita kuno dalam bentuk pantun, dan pertun­jukan wayang, sedangkan bagi kalangan santri cukup membaca surat Yasin (al­Quran surat 36) sebanyak empat puluh kali. Namun demikian, bagi kalangan ter­tentu, terutama non santri, anak-anak yang telah diupacarai selamatan, ruwat, ti­dak berarti langsung terbebas dari watak nakalnya, sasapareun. Pada setiap bulan Safar, keluarganya tetap harus mengada­kan selamatan, semacam acara ulang ta­hun pada masyarakat modern. Selain itu, anak yang dilahirkan pada bulan Safar, se­telah dewasanya, hams lebih bisa menjaga dirinya dibandingkan dengan anak yang lahir pada bulan lain.

Advertisement

Adapun mekanisme upacara Rebo We­kasan, sebagaimana upacara ruwatan, an­tara kalangan santri dan non santri, satu sama lain, berbeda tata-cara penyelengga­raannya. Bagi kalangan non santri, pada hari tersebut, mereka umumnya pergi ke pantai untuk melangsungkan mandi bersa­ma. Menurut kepercayaan mereka, mandi tersebut dapat menghapuskan segala dosa dan menangkal malapetaka. Sedangkan bagi kalangan remaja, upacara mandi ter­sebut berubah fungsinya menjadi arena pertemuan muda-mudi. Karenanya, bagi kalangan remaja, upacara Rebo Wekasan lebih bersifat pesta-pora. Penyimpangan nilai tradisi tersebut di kalangan remaja dapat dipahami sebagai reaksi terhadap keketatan dan segala batasan hubungan sosial remaja tradisional. Akibatnya, me­reka mencari bentuk hubungan sosial yang sah, baik secara tradisi maupun keagama­an. Namun demikian, terkikis oleh proses modernisasi sosial, upacara tradisi keaga­maan Rebo Wekasan di kalangan masya­rakat non santri sudah memudar.

Untuk kalangan masyarakat santri, upa­cara keagamaan Rebo Wekasan dilakukan di mesjid. Setelah matahari terbit, mereka berangkat ke mesjid dan melakukan salat sunah dua rakaat, disebut salat sunah tulak bala (penolak petaka). Selesai mela­kukan salat, mereka mengadakan riungan untuk memanjatkan doa agar terhindar dari malapetaka bulan Safar. Dalam upa­cara doa tersebut, tersedia sebuah piring besar bertuliskan potongan-potongan ayat al-Quran yang mengandung pengertian ke­selamatan. Usai berdoa, piring tersebut di­siram dan airnya ditampung. Agar terhin­dar dari bala dan malapetaka bulan Safar, setiap hadirin diharapkan meminum air keselamatan tersebut.

Kebiasaan lain dalam tradisi tersebut adalah mandi. Sebelum mandi dilakukan, airnya direndami secarik kertas bertulis­kan tujuh potong ayat al-Quran, juga yang mengandung pengertian keselamatan, se­bagaimana tulisan di atas piring tadi. Agaknya, mandi dengan cara itu merupa­kan gejala santrinisasi dari upacara mandi yang dilakukan kalangan non-santri, atau sebaliknya.

Selain itu, mereka yang tidak turut ke mesjid dan tidak pula melakukan upacara mandi, menyelenggarakan upacara dalam bentuk lain. Biasanya mereka membuat ketupat untuk dimakan bersama sebagai upacara sedekahan (sedekah tulak bala), baik dilakukan di rumah-rumah, mesjid, ataupun balai desa. Tradisi upacara Rebo Wekasan di kalangan santri, tidak sebagai­mana di kalangan non santri, masih terus berlangsung setiap tahun, terutama, untuk daerah-daerah tertentu dan kalangan yang sangat terbatas. Dengan kata lain, di ka­langan santri pun tradisi ini mengalami perubahan, namun tidak secepat di ka­langan non santri. Salah satu alasan menga­pa di kalangan santri tradisi ini belum pu­dar seluruhnya, karena kelompok santri, biasanya, lebih kuat mempertahankan tra­disi; kecuali bagi mereka yang terlintasi arus utama proses modernisasi.

Sejauh ini, kapan tradisi Rebo Wekasan mulai menggejala di masyarakat Islam tra­disional belum dapat diketahui secara pas-ti. Agaknya, tradisi ini bukan hanya meru­pakan gejala keberagamaan masyarakat Is­lam tradisional Indonesia. Sekiranya hadis Nabi yang berkaitan dengan pelarangan tentang mitos bulan Safar dipandang sa­hih, berarti tradisi memitoskan bulan Sa­far dikenal juga di kalangan masyarakat Arab. Ini bisa diduga sebagai peninggalan tradisi Arab jahiliyah. Jika demikian, se­kali lagi sekiranya hadis Nabi tersebut sa tradisi Rebo Wekasan sudah ada sejak awal masuknya Islam ke bumi nusantara ini.

Advertisement
Filed under : Review,