Advertisement

Rasul berarti utusan. Yang dimaksudkan di sini adalah rasul Tuhan atau Rasulullah, yang berarti utusan Tuhan atau utusan Allah. la adalah manusia pilihan yang Ia angkat sebagai utusan-Nya, guna menyam­paikan firman-firman-Nya kepada suatu masyarakat. Rasul itu mempunyai kapasi­tas menerima wahyu dari Tuhan, yang berisi pedoman hidup bagi keselamatan manusia di dunia dan akhirat.

Al-Quran memberitahu bahwa Allah mengutus seorang rasul atau sejumlah ra­sul untuk setiap bangsa. Keterangan itu mengandung arti bahwa Tuhan tidaklah memberikan perhatian pada bangsa ter­tentu saja atau dengan kata lain ia tidak­lah bersikap pilih kasih terhadap umat ma­nusia. Dengan demikian jumlah rasul itu cukup banyak, kendati yang tercantum nama atau kisah mereka dalam al-Quran sebagian saja. Mereka yang tercantum na­manya itu adalah: Adam, Idris, Nuh, Hud, Saleh, Ibrahim, Lut, Ismail,Ishaq, Yequb, Yusuf, Ayyub, Syu’eb, Musa, Harun, Zul­ldfli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Yu­nus, Zakaria, Yahya, Isa, dan Muhammad (25 orang). Boleh jadi di antara rasul-rasul yang tidak tercantum nama atau kisah me­reka dalam al-Quran adalah Sidharta Gau­tama atau Kong Hucu; umat Islam tidak dapat memastikannya, karena al-Quran, sebagai wahyu Tuhan, tidak memberi tahu tentang diri dan statusnya.

Advertisement

Para rasul itu adalah manusia teladan bagi siapa saja yang menginginkan kesem­purnaan diri sebagai manusia, dan kebaha­giaan baik di dunia maupun akhirat. Kesu­cian jiwa rasul itu terpelihara (mcesfim). Kekuatan jiwanya besar sehingga mampu mencegah diri dari mengikuti aneka ma-cam godaan.

Ada dua pandangan di kalangan ulama tentang rasul dan nabi. Pandangan perta­ma menyatakan bahwa setiap rasul adalah nabi, tapi tidak setiap nabi ditugaskan menjadi rasul. Jadi jumlah nabi lebih ba­nyak dari jumlah rasul. Pandangan kedua menyatakan bahwa rasul dan nabi itu identik. Bukan saja setiap rasul adalah na­bi, tapi juga setiap nabi adalah rasul. Arti kata “nabi”, yakni orang yang memberi­takan sesuatu atau orang yang menyam­paikan berita, sudah cukup menunjukkan bahwa ia bukan orang yang berdiam diri, tapi aktif berfungsi sebagai pembawa be­rita penting dari Tuhan. Menurut pan­dangan kedua ini, jika setiap muslim wajib menyampaikan kebenaran walau satu ayat, maka tidak logis bahwa ada nabi yang sanggup menerima wahyu atau pe­tunjuk hidup dari Tuhan, tapi tidak diberi tugas untuk menyampaikannya kepada masyarakat.

Advertisement
Filed under : Review,