Advertisement

Rabitah al-`Alam al-Islami (Liga Muslim Se-Dunia), adalah satu di antara sejumlah organisasi Islam bertaraf inter­nasional yang tumbuh di paruh kedua abad ke-20. Rabitah didirikan pada Mei 1962 sebagai hasil dari Konferensi Islam Se-Dunia yang diadakan di Mekah kala itu. Konferensi yang merupakan satu fo­rum pertemuan dan sarana tukar pildran antara umat Islam tersebut berhasil diada­kan terutama berkat sponsor Raja Faisal. Terlepas dari kemungkinan adanya motif politik tertentu yang sempit dari pihak ke­rajaan Saudi waktu itu — umpamanya da­lam rangka menghadapi politik Presiden Nasser yang agresif ide pendirian organi­sasi tersebut mendapatkan sambutan yang luas. Memang patronage dan sponsor yang diberikan Saudi terus dipertahankan hing­ga dewasa ini. Yaitu Rabitah hanya mene­rima donasi keuangan dari kerajaan Saudi saja. Segala macam bentuk bantuan finan­siil lain baik dari negara, partai, maupun individu adalah bersifat tambahan dan ti­dak mengikat. Ciri semacam ini jOstru di­anggap oleh Sekretaris Jenderalnya yang sekarang sebagai satu mekanisme efektif untuk mempertahankan kebebasan dan keajekan dalam bergerak. Sebab kafanya, “Kerajaan (Saudi) tidak pernah mencam­puri urusan rumah tangga organisasi oto­nom (semacam Rabitah). Hanya saja kita wajib menaati hukum dan peraturan Kera­jaan. . . Kami bukanlah organisasi resmi pemerintah, karenanya tak pernah terpe­ngaruh oleh perubahan kekuasaan baik pe­merintah atau partai.” Bagaimanapun per­nyataan itu belum mendapat tantangan, karena Kerajaan Saudi secara umum masih mengikuti pola kebijaksanaan yang sama terhadap Islam dengan yang dicetuskan oleh Raja Faisal.

Rabitah memiliki sistem organisasi yang cukup rapi. Dewasa ini ada kurang lebih 2000 pekerja dan eksekutif dari berbagai background dan kebangsaan yang aktif menjalankan Rabitah. Budget setiap tahun rata-rata adalah 120 juta real Saudi. Rabi­tah mempunyai Majelis Permusyawaratan yang beranggotakan 70 orang, terdiri dari para ulama, tokoh agama dan cendekia­wan dari seluruh masyarakat Islam sedu­nia. Majelis ini bersidang setiap tahun di Mekah, biasanya bersamaan dengan mu­sim haji. Presiden dan Sekretaris Jenderal dipilih setiap lima tahun sekali, kendati pemegang jabatan boleh dipilih kembali. Rabitah juga telah mendirikan perwakilan di berbagai negara, termasuk yang mem­punyai penduduk minoritas muslim.

Advertisement

Rabitah berhasil mengembangkan akti­vitas yang luas. Satu kebijaksanaan pen­tingnya “untuk tidak mencampuri” poli­tik negara telah memungkinkannya meng­hubungi para aktivis yang bergerak dalam bidang dakwah dan perbaikan taraf hidup orang-orang Islam di hampir semua masya­rakat Islam di dunia. Bahkan Rabitah ber­hasil menolong usaha-usaha golongan mi­noritas muslim di berbagai negara, terma­suk negara-negara komunis. Hanya Alba­nia yang berpenduduk hampir 90% mus­lim belum berhasil ditembus.

Kegiatan Rabitah meliputi dakwah, pendidikan, kemasyarakatan, dan keaga­maan. Dalam bidang dakwah perhatian di antaranya difokuskan pada menjembatani perbedaan yang ada dalam satu masyara­kat muslim sehingga energi mereka lebih dapat dimanfaatkan dalam pengembangan dakwah. Sebagai realisasi Rabitah telah mengangkat lebih seribu pekerja lapangan yang direkrut dari dan disebar ke berbagai kelompok muslim seluruh dunia. Mereka, yang kebanyakannya lulusan perguruan tinggi, kemudian bertindak di lokasi pe­nempatan baik sebagai guru, sarjana, imam mesjid, maupun khatib. Juga, Rabi­tah pendirian dan perbaikan rumah-rumah ibadat. Dalam bidang pendi­dikan Rabitah mengikuti kebijaksanaan yang tidak langsung. Artinya, ia lebih cen­derung mendukung kegiatan-kegiatan pen­didikan yang telah ada baik pada taraf perseorangan maupun institusi. Umpama­nya, ia menyediakan beasiswa bagi para pelajar yang berpotensi tetapi kekurangan biaya Berbagai proyek pendidikan Islam, yang meliputi aspek infra- ataupun supra­struktur, diberikan kesempatan guna men­dapatkan bantuan financial untuk melak­sanakan dan menyelesaikan program yang ada. Bahkan di beberapa negara, seperti Bangladesh, Rabitah sempat membiayai proyek penataran untuk menciptakan te­naga kerja yang trampil (skilled workers). Di Filipina berbagai lembaga pendidikan tinggi Islam telah didirikan, di antaranya dengan dukungan dana dari Rabitah. Da-lam bidang kemasyarakatan, Rabitah memberikan bantuan untuk merangsang perbaikan kehidupan umat Islam, teruta­ma di negara-negara yang tidak tergolong kaya. Bantuan biasanya disalurkan untuk menopang pendirian klinik, rumah sakit, dan pusat-pusat latihan. Bahkan di bebera­pa negara sub-Sahara (Afrika) bantuan ditujukan untuk meningkatkan p eter­nakan dan pertanian.

Rabitah telah mendirikan badan-badan khusus untuk menangani bidang keagama­an. Yang paling menonjol dalam hal ini adalah Badan Fikih Islam dan Majelis Ting­gi Mesjid. Badan Fikih bersidang dari masa ke masa untuk mengatasi permasalahan keagamaan yang ada serta menghadapi tantangan zaman dari sudut pandang aga­ma. Badan ini menerbitkan berbagai bro­sur agama dalam berbagai bahasa, terma­suk fatwa-fatwa yang dikeluarkan. Majelis Tinggi Mesjid yang didirikan pada 1971 bertujuan untuk mengembalikan peranan mesjid yang penting dalam menyatukan umat, serta melindungi dan meningkatkan kondisi serta servis yang diberikan mesjid. Lewat Majelis inilah berbagai dana untuk pembangunan mesjid dimobilisasikan dan dialokasikan. Di samping itu, Rabitah mensponsori berbagai konferensi dan se­minar balk di Mekah maupun di kota-kota lain di luar Saudi Arabia guna membahas berbagai permasalahan yang dianggap me­narik dan perlu dibahas.

 

Advertisement
Filed under : Review,