Advertisement

Quraisy Pada waktu Nabi Muhammad berhijrah. ke Madinah, penduduk Mekah telah menganggap diri mereka berasal dari satu keturunan asal, yaitu Fihr atau an­Nadr yang dikenal sebagai Quraisy. Seca­ra umum diakui bahwa Quraisy merupa­kan satu jalur keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim lewat Kinanah. Tetapi kemuncul­an Quraisy sebagai kelompok kuat di Me­kah tentu mengalami berbagai fase. Yang jelas, keberhasilan Quraisy di Mekah ba­nyak dibantu oleh kemampuan seorang pemuka bernama Qusaiy dengan menggan­tikan kedudukan Khuza`ah. Popularitas Quraisy dan semakin kuatnya kedudukan mereka di Mekah telah ditandai dengan penyebutan nama “Quraisy yang Utama” (Quraisy al-Bitah), termasuk keluarga-ke­luarga keturunan Ka% bin Lu’aiy seperti Hasyim, Umayyah, Naufal, Taim, Asad, Makhzum, Zuhrah, Sahm, Adi, Jumah. Di samping itu, keluarga-keluarga lain, terma­suk suku-suku yang telah lebih dahulu tinggal di Mekah telah pula mendapatkan nama yang berafiliasi dengan “Quraisy Pinggiran” (Quraisy az-Zawahir). Mulai saat itu klan-klan tersebut telah menda­patkan tempat tinggal yang tertentu dan p ermanen .

Karena keadaan alamnya yang kering, Mekah banyak bergantung kepada perda­gangan dan ziarah. Sampai abad ke-6, Quraisy telah berhasil menguasai jalur per­dagangan antara Lautan Hindia dan Laut Tengah. Berbagai pusat perdagangan di pedalaman Arabia pun telah menjadi wila­yah pengaruh mereka. Keberhasilan Qu­raisy ini sering dihubungkan dengan ke­matangan sikap mereka termasuk “kepala dingin” (hilm) dan “berpandangan luas” dalam menghadapi suku-suku yang sulit untuk bersatu.

Advertisement

Dalam masa kurang lebih dua abad se­belum Islam telah terjadi pergeseran-per­geseran kekuasaan di Mekah. Sepeninggal Qusaiy, terjadilah perebutan pengaruh di antara pemuka Quraisy al-bitah, khusus­nya Abdud Dar dan Abdu Manaf. Hal ini telah mendorong terbaginya al-bitah men­jadi dua kelompok: “Persekutuan” (al­ahlaf) di bawah Abud Dar, terdiri dari Makhzum, Sahm, Jumah dan Adi; dan “Yang Mulia” (mutayyaban) yang didu­kung oleh Abdu Manaf, Asad, Zuhrah, Taim, dan Haris. Tidak banyak diketahui apa yang telah teijadi dengan pengelom­pokan ini. Tetapi yang jelas pada awal abad ke-7 terjadilah pengelompokan baru yang terkenal dengan Hilf al-Fudul terdiri dari klan-klan utama seperti Hasyim, al­Mutalib, Asad, Zuhrah, Taim, dan Haris. Juga, klan Abdu Manaf sendiri telah terpe­cah menjadi sub-klan yang otonom seperti Hasyim, al-Mutalib, Abdu Syam, dan Nau­fal. Menurut satu sumber, otonomi ini telah dicapai karena keberhasilan masing­masing sub-klan dalam bidang perdagang­an: Dan yang menarik, Abdu Syam telah bekerja sama dengan kelompok al-ahlaf yang pernah menjadi rival.

Bagaimanapun kedatangan Islam telah pula mempengaruhi tatanan internal Qu­raisy. Beberapa keluarga yang kurang mendapatkan tempat sebelum Islam telah merubah kedudukan mereka berkat be­berapa anggota keluarga yang menjadi to­koh penting pada masa awal Islam, misal­nya keluarga Adi oleh Umar, dan Taim oleh Abu Bakar. Tetapi hal ini tidak ber­arti bahwa kedua khalifah tersebut cende­rung khusus memperhatikan anggota ke­luarga mereka. Memang munculnya orang­orang yang mempunyai “latar belakang pinggiran” seperti Abu Bakar dan Umar menunjukkan munculnya atmosfer baru dalam mobilitas sosial.

Di samping itu identitas Quraisy tetap menjadi unsur penting dalam masa Islam. Bahkan setelah melemahnya otoritas Ma­dinah pada 650-an (30-an H), perbedaan dan persaingan lama intra-Quraisy menjadi hangat lagi. Umpamanya perlawanan yang dipimpin Zubair terhadap Ali pada “Peris­tiwa Unta” (657/36 H) adalah didukung penuh oleh Taim dan Asad. Juga, dalam upaya memenangkan dukungan dalam usahanya melawan Mu`awiyali, Husein bin Ali masih menggunakan Hilf al-Fudul se- bagai simbol solidaritas. Yang lebih ken­tara, rivalri dan persaingan antara Abdu Syams dan Hasyim telah meninggalkan warna tersendiri dalam sejarah awal Islam. Posisi dan prestis mereka memang menga­lami masa pasang surut. Namun satu hal yang tak dapat diabaikan adalah peranan Quraisy dalam mengendalikan adminis­trasi dan pemerintahan awal Islam. Tanpa mereka sulit dibayangkan tatanan politik khalifah dapat bertahan sekian lama.

Kenyataan sosio-politis pada awal Islam telah memperkuat tradisi yang populer bahwa “Para pemimpin (a’immah, imam) adalah semestinya dari suku Quraisy.” Se­peninggal Nabi pada 632 (11 H) ambisi golongan Ansar untuk mengambil alih pimpinan telah dihalang-halangi oleh to­koh-tokoh sahabat termasuk Umar. Akhir­nya Abu Bakar lah yang diangkat sebagai khalifah pertama. Untuk seterusnya para khalifah memang berasal dari suku Qurai sy. Para penulis dan ahli ilmu pemerintah­an seperti Ibnu Abi Ya`la, al-Mawardi (w. 1056/448 H) dan al-Gazali (w. 1111/505 H) memperkuat teori bahwa khalifah haruslah seorang Quraisy. Namun ada juga pemikir-pemikir, termasuk Ibnu Khaldun (w. 1406/808 H) yang menolak atau memberikan interpretasi lain terhadap isti­lah “Quraisy”.

Walaupun Quraisy menjadi label yang penting dalam perkembangan Islam, tetapi sebagai nama keluarga istilah tersebut ti­dak pupuler. Hanya beberapa individu Quraisy “Arabia” saja yang memakai nama tersebut. Mereka lebih cenderung menggunakan nama klan. Namun di Anak Benua India, di antara orang-orang muslim banyak dijumpai individu atau keluarga yang menggunakan nama belakang Qu­raisy.

 

Advertisement
Filed under : Review,