Advertisement

Qiyas (diindonesiakan menjadi Kias) menurut bahasa berarti ukuran. Dalam teori hukum Islam istilah tersebut berarti menghubungkan atau menyamakan hu­kum suatu kejadian yang tidak ada keje­lasan hukumnya baik dalam al-Quran maupun dalam hadis, dengan hukum sua­tu peristiwa yang ditegaskan hukumnya dalam sumber-sumber tersebut, karena ada persamaan `illat (motif hukum) antara kedua peristiwa tersebut. Dengan demiki­an dipahami, bahwa kias adalah suatu me­tode untuk menemukan hukum suatu peristiwa yang tidak ada kejelasan hukum­nya dalam sumber-sumber hukum utama. la dibutuhkan, karena al-Quran dan Sun­nah telah terhenti dengan wafatnya Ra­sulullah sedangkan peristiwa dalam ke­hidupan manusia terus berkembang dan tidak berhenti. Ayat-ayat atau hadis-hadis itu apabila dipahami secara harfiah saja tidak akan bisa menjawab berbagai masa­lah yang tidak habis-habisnya itu. Untuk itu, kias adalah diperlukan untuk menjem­batani antara ayat yang terbatas itu dengan peristiwa-peristiwa baru melalui illat hukumnya. Dengan kias itulah masa­lah-masalah baru dapat dicarikan hukum­nya dan dengan itu pula hukum Islam tidak akan kekeringan.

Di antara dalil-dalil yang digunakan oleh pendukung kias atas keabsahan kias sebagai dalil hukum ialah sebuah ayat da­lam surat an-NiSa yang memerintahkan agar taat kepada Allah dan Rasul-Nya kemu dian kepada pemimpin, dan jika terjadi perselisihan pendapat mengenai sesuatu, maka hendaklah dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Arti “dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya” dalam ayat tersebut dipahami ulama sebagai perintah untuk melakukan kias. Dalam surat Umar bin Khattab yang terkenal dengan Risalat al-Qada kepada salah seorang hakimnya mencantumkan beberapa petunjuk untuk seorang hakim dalam memecahkan sesua­tu permasalahan. Dalam surat tersebut, metode kias dicantumkan sebagai usaha pemecahan hukum di waktu tidak ada penjelasan hukumnya di dalam al-Quran dan as-Sunnah.

Advertisement

Ada beberapa persyaratan yang harus dilengkapi sebelum melakukan kias. Per­tama ada asal, yaitu peristiwa yang sudah ditegaskan hukumnya, baik dalam al­Quran maupun dalam hadis. Umpamanya khamar (minuman keras yang dibuat dari kurma) yang ditegaskan hukumnya dalam ayat 9 surat al-Maidah. Asal ini dalam isti­lah Usul-Fikih disebut juga dengan Maqis `alaih (yang dikiaskan kepadanya). Kedua ada hukum asal yang dalam masalah ter­sebut ialah hukum haramnya khamar. Ke­tiganya ada cabang (far`u), yaitu suatu peristiwa yang belum ada kejelasan hu­kumnya dalam sumber-sumber utama hu­kum Islam. Dalam hal ini diambil wiski sebagai contoh. Dan keempat ditemukan illat (motif hukum) pada asal dan kemu­dian didapati pula illat yang sama dengan itu pada far`u. Dalam masalah khamar, se­telah diselidiki oleh pakar-pakar hukum Islam yang menjadi illat bagi diharamkan­nya ialah karena iamemabukkan (al-iskar). Sifat memabukkan itulah yang menjadi se­bab bagi diharamkannya khamar, agar ter­jaga akal pikiran yang menjadi ciri khas manusia. Sifat memabukkan seperti yang ada dalam kamar itu didapati pula pada minuman keras wiski. Oleh karena ke­samaan illat antara keduanya, maka hu­kumnya dapat disamakan pula. Dalam hal ini al-Quran dan as-Sunnah dijadikan po­kok tempat mengembalikan segala peristi­wa yang mungkin terjadi pada umat ma­nusia yang tidak habis-habisnya. Dari gam­baran di atas dipahami bahwa yang menjadi prinsip dalam mengharamkan khamar adalah sifat memabukkannya. Oleh sebab itu, di mana ada sifat memabukkan, di situ ada hukum haram. Demikian praktek kias dalam mengembangkan prinsip hu­kum yang terdapat di dalam al-Quran dan Sunnah.

Dalam sejarah perkembangan hukum Islam, kias mempunyai andil yang amat besar dalam membentuk hukum

Imam Syafil sendiri yang menyatakan bahwa pemakaian kias itu hanya dilaku­kan apabila dalam keadaan mendesak, namun dalam kenyataannya amat banyak fikihnya yang dibentuk oleh praktek kias. Demikian pula dalam mazhab-mazhab lain, seperti mazhab Hanafi, Maliki, dan mazhab Hambali.

Kajian yang paling pokok dalam kias ialah yang menyangkut illat hukum. Kias baru diakui untuk dilaksanakan, apabila ada persamaan illat hukum antara asal dan cabang. Untuk itu, seorang mujtahid harus secara teliti melihat bentuk illat yang ada pada asal, dan kemudian melihat secara te­liti pula bentuk illat yang ada pada cabang. Apabila sama illat antara keduanya, kias dapat dilaksanakan. Illatlah yang menen­tukan ada atau tidak adanya sesuatu hu­kum. Ini sesuai dengan kebijaksanaan Allah dalam mensyariatkan sesuatu hu­kum untuk mencapai sasaran tertentu. Illat suatu hukum dalam syariat Islam menggambarkan tujuan apa yang hendak dicapai oleh Perumusnya. Dalam contoh di atas, sifat memabukkan dinyatakan se­bagai illat bagi terlarangnya minuman kha­mar, karena bisa merusak akal pikiran. Menjaga kesehatan akal pikiran itu adalah salah satu dari tujuan utama Syariat ditu­runkan, di samping menjaga agama, men­jaga diri, keturunan, dan harta. Apa saja yang bisa merusak akal pikiran, adalah ber­tentangan dengan tujuan agama Islam. Oleh sebab itu khamar diharamkan. Kha­mar ditegaskan Allah kekharamannya da­lam al-Quran untuk menjadi contoh dari sekian banyak yang memabukkan dan me­rusak akal. Khamar diambil sebagai con­toh, karena khamarlah yang dikenal oleh bangsa Arab waktu itu. Dalam perkem­bangan berikutnya, yang merusak akal bu kan Baja khamar dalam komposisi yang di­kenal pada masa Rasulullah. Walaupun bentuk dan komposisinya berbeda, namun yang menjadi ukuran terlarangnya adalah sifat memabukkan. Di mana ada sifat me­mabukkan di situ ada hukum haram. Demikianlah dipahami segala bentuk hu­kum yang dapat dijajaki illat hukumnya.

Advertisement
Filed under : Review,