Advertisement

Qasar dalam bahasa Arab berarti me­ringkas, memendekkan, mengurangi yang ada. Dalam istilah fiqih, qasar berarti me­ringkaskan salat di antara salat fardu yang lima.

Macam-macam qasar:

Advertisement

(a) Qasar Adat, yaitu mengurangi jumlah rakaat salat fardu yang empat rakaat men­jadi dua rakaat. Salat yang boleh diqasar ialah: zuhur, Asar dan Isya. Salat Magrib dan Subuh tidak boleh diqasar.

Mengqasar salat adalah rukhsah (keri­nganan), untuk memberikan kelapangan bagi orang yang melakukan perjalanan jauh. Ada beberapa pendapat fuqaha ten-tang hukum mengqasar salat. Menurut Imam Syafil dan Imam Ahmad, meng­qasar salat itu hukumnya jaiz (boleh) bagi orang yang melakukan perjalanan, dengan syarat perjalanan itu bukan perjalanan maksiat, dan perjalanan itu termasuk perja­lanan jauh. Menurut Imam Malik, meng­qasar salat bagi orang yang melakukan perjalanan jauh itu hukumnya sunnat mu­akkadah, kalau ada musafir lain salat qasar itu hendaknya dilakukan dengan berja­ma`ah, dan kalau tidak ada musafir lain hendaklah salat qasar dilakukan sendirian, dan makruh hukumnya mamum kepada orang yang bukan musafir. Sedangkan me­nurut imam Hanafi, mengqasar salat itu wajib hukumnya bagi orang yang melaku­kan perjalanan jauh.

Terhitung perjalanan jauh, menurut Imam Syafi’i, Imam Maliki dan Imam Ah­mad, ialah perjalanan selama dua hari atau perjalanan sehari semalam, yaitu perjalan­an sejauh dua marhalah (= 80,640 km) atau lebih. Menurut Imam Hanafi, perja­lanan sejauh tiga marhalah (=. 120,960 km).

Menurut jumhur fuqaha, orang yang musafir dibolehkan mengerjakan salat sunnah di samping salat qasarnya, baik salat rawatib, maupun salat sunnah lainnya.

(b)   Qasar Sifat, yaitu meringkas atau me­ringankan sifat salat bagi orang yang tidak kuasa melakukan salat dengan cara biasa, yang disebabkan karena sakit, atau karena kondisi fisiknya tidak mampu duduk atau berdiri, atau karena menderita suatu pe­nyakit yang dikhawatirkan penyakit itu akan bertambah apabila salat dilakukan dengan cara biasa.

Bagi orang seperti itu, salat wajib dila­kukan dengan sifat salat yang berbeda de­ngan salat biasa. Kalau tidak mampu de­ngan duduk, boleh salat dengan berbaring, dengan memiringkan tubuhnya ke sebelah kanan menghadap ke arah kiblat. Kalau ti­dak mampu berbaring, boleh salat dengan menelentang, akan tetapi hendaknya di­usahakan kedua kaki dan kepalanya meng­hadap ke arah kiblat. Gerakan-gerakan ruku, itidal dan sujud hendaklah dilaku­kan menurut kemampuan, dengan keten­tuan gerakan sujud hendaklah lebih ren­dah dari pada gerakan ruku.

(c)    Qasar Haiat, yaitu meringkas atau me­ringankan cara salat, seperti dalam salat khauf, yaitu salat karena takut adanya ba­haya, seperti bahaya musuh dalam pepe­rangan, bahaya binatang buas dan sebagai­nya.

Adapun cara mengerjakan salat khauf, sebagaimana pernah dilakukan oleh Ra­sulullah, adalah sebagai berikut:

(1) Apabila musuh tidak berada di arah kiblat.

Hendaklah jamaah dibagi menjadi dua saf (barisan), saf yang satu berdiri dan berjaga­jaga menghadapi musuh, sedangkan saf yang lain melakukan salat mengikuti imam sampai selesai rakaat pertarna. Wak­tu imam berdiri pada rakaat kedua, saf ini meneruskan sembahyangnya tanpa mengikut imam, sampai selesai memberi­kan salam. Selesai memberikan salam, mereka terus berdiri menggantikan saf pertama berjaga-jaga menghadapi musuh.

Saf pertama segera mulai melakukan salat, dengan mengikuti imam yang masih berdiri menunggu mereka. Imam kemudi­an meneruskan salat rakaat kedua bersama­sama mereka. Pada waktu imam duduk membaca tasyahud, mereka berdiri mene­ruskan salat rakaat kedua, tanpa mengikut imam, sampai merekapun duduk mem­baca tasyahud menyusul imam. Kemudian imam mengucapkan salam bersama mere­ka.

(2)   Apabila musuh berada di arah kiblat. Hendaklah jemaah dibagi menjadi dua saf (barisan). Imam segera melakukan salat bersama-sama dengan kedua saf tersebut, membaca takbiratul ihram bersama-sama, membaca bacaan-bacaan bersama-sama, ruku bersama-sama, sampai itidal rakaat pertama. Kemudian pada waktu imam me­lakukan sujud, salah satu dari kedua saf tersebut sujud pula mengikuti imam, se­dangkan saf yang lain tetap berdiri menja­ga musuh. Pada waktu imam dan saf yang mengikuti imam itu berdiri dari sujud un­tuk rakaat yang kedua, maka saf yang ber­diri menjaga musuh itu segera melakukan sujud, dan kemudian berdiri mengikuti imam pada rakaat kedua, membaca baca­an bersama-sama, ruku bersama-sama, dan itidal bersama-sama. Pada waktu imam su­jud pada rakaat kedua, saf pertama sujud pula mengikuti imam, sedangkan saf yang lain tetap berdiri menjaga musuh. Setelah imam dan saf pertama duduk membaca tasyahud akhir, saf yang lain segera mela­kukan sujud, dan seterusnya menyusul imam duduk membaca tasyahud akhir, kemudian imam bersama-sama dengan ke­dua saf tersebut mengucapkan salam.

(3)   Apabila musuh sudah datang menye­rang.

Apabila keadaan sudah kacau dan meng­khawatirkan, sehingga tidak mungkin lagi membagi jamaah dalam saf-saf, karena musuh telah datang dari segala penjuru, maka dalam keadaan seperti itu masing­masing orang boleh mengerjakan salat sen­diri-sendiri, menghadap kiblat atau tidak, sambil berkendaraan atau berjalan kaki, dengan cara yang mungkin dapat dilaku­kan.

Apabila orang mengerjakan salat khauf karena menyangka musuh datang menye­rang, tetapi kemudian ternyata ygng da­tang itu . bukan musuh, maka menurut jumhur fuqaha’, orang tersebut wajib me­ngulang kembali salatnya.

 

Advertisement
Filed under : Review,