Advertisement

Qarinah dalam bahasa Arab berarti sangkaan, petunjuk atau indikasi. Dalam hukum Islam qarinah berarti sangkaan, petunjuk atau indikasi, bahwa seseorang terlibat dalam suatu perbuatan melanggar hukum.

Dalam proses penyelesaian perkara di pengadilan, pembuktian diperlukan apa­bila tuduhan yang dikemukakan oleh penggugat dibantah oleh tergugat. Pem­buktian merupakan upaya hukum, dengan mempergunakan berbagai alat bukti yang sah, untuk membuktikan kebenaran per­kara pelanggaran hukum yang dimajukan di pengadilan. Dalam hukum Islam, pem­buktian dikenal dengan nama al-bayyinah atau al-isbat.

Advertisement

Di dalam kitab-kitab fikih dikemuka­kan beberapa macam alat bukti yang da­pat dipergunakan oleh hakim dalam pem­buktian suatu perkara, di antaranya ialah:

(1) iqrar (pengakuan)

(2) syahadah (kesaksian)

(3) yamien (sumpah)

(4) nukul (penolakan sumpah)

(5) qarinah (sangkaan, petunjuk)

(6) ‘ilmu al-qadhi (pengetahuan hakim).

Para fuqaha berbeda pendapat tentang penggunaan qarinah sebagai alat bukti. Di Mesir, undang-undang yang khusus me­nyangkut Mahkamah Syar`iyyah tidik menganggap qarinah sebagai alat bukti yang dapat dijadikan dasar putusan. Te­tapi undang-undang nomer 78 tahun 1931 menganggap qarinah sebagai alat bukti yang dapat dijadikan dasar putusan peng­adilan.

Fuqaha yang menganggap qarinah sebagai alat bukti mengatakan bahwa banyak contoh-contoh yang menunjukkan bahwa Islam menganggap qarinah sebagai alat bukti, dan Rasulullah sendiri menggu­nakan qarinah sebagai dasar putusannya. Diriwayatkan bahwa Rasulullah pernah menahan dan menghukum seseorang kare­na adanya indikasi yang meyakinkan pada diri orang tersebut. Dalam riwayat lain di­sebutkan bahwa Rasulullah pernah meme­rintahkan orang yang menemukan sesua­tu, agar menyerahkan barang temuannya itu kepada orang yang kehilangan barang­nya, setelah pihak yang kehilangan me­nyebutkan tanda-tanda dari barangnya yang hilang itu.

Di dalam al-Quran juga terdapat contoh qarinah sebagai alat bukti, seperti nampak pada kisah yang tersebut dalam surah Yu­suf ayat 26-28: “Yusuf berkata: Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya). Dan seorang saksi dan ke­luarga wanita itu memberikan kesaksian­nya: Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar, dan Yusuf terma­suk orang yang dusta. Dan jika baju gamis­nya koyak di belakang, maka wanita itu­lah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang yang benar. Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di bela­kang, berkatalah dia: Sesungguhnya (ke­jadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu sa­ngat besar.”

Yang menjadi qarinah dalam peristiwa yang dialami Nabi Yusuf di atas ialah ko­yaknya baju yang dipakai oleh Yusuf. Baju Yusuf yang terkoyak di bagian bela­kang menjadi petunjuk yang kuat (qari­nah) bahwa yang berbuat salah adalah

Zulaikha, istri seorang pembesar Mesir yang bernama Qitfir. Yusuf tidak bersa­lah.

Fuqaha yang menganggap qarinah se­bagai alat bukti, juga berpegang kepada hadis nabi yang diriwayatkan oleh Al­Bukhari dari Abu Hurairah, bahwa Rasul­lullah bersabda: “Janda tidak boleh dini­kahkan sebelum dimintakan perintahnya, dan gadis (tidak boleh dinikahkan) sebe­lum dimintakan izinnya. Mereka (para sahabat) bertanya: Bagaimana meminta izinnya? Beliau menjawab: Apabila gadis itu diam saja (tidak memberi jawaban).”

Hadis di atas menunjukkan, bahwa per­setujuan gadis untuk dinikahkan dapat di­tetapkan berdasarkan sikap diamnya sewaktu dimintai persetujuannya untuk dinikahkan. Diamnya si gadis menjadi pe­tunjuk yang kuat (qarinah) bahwa ia setu­ju untuk dikawinkan. Ia diam saja, karena urnumnya setiap gadis malu untuk menya­takan persetujuannya.

Berdasarkan alasan-alasan di atas maka mereka, berkesimpulan bahwa qarinah me­rupakan alat bukti yang dapat dijadikan dasar putusan dalam penyelesaian perkara di pengadilan.

Menurut Ibn al-Qayyim, alat bukti qari­nah ini seringkali dilupakan orang. Karena itu ia menekankan agar alat bukti qarinah itu dipergunakan oleh para hakim dalam upaya mencari kebenaran dalam mengadili sesuatu perkara. Apabila para hakim meng­abaikan alat bukti qarinah ini niscaya me­reka banyak menyia-nyiakan hak-hak para pihak yang berperkara, dan itu berarti me­reka telah melakukan kebatilan yang besar.

Qarinah dapat dijadikan alat bukti pem­benaran suatu peristiwa, dengan syarat bahwa qarinah tersebut memberikan keya­kinan akan kebenaran peristiwa yang ter­jadi, atau minimal qarinah tersebut mem­berikan persangkaan yang kuat (dan).

Dalam praktek pengadilan, dikenal dua macam qarinah, yaitu:

(a)    Qarinah qadaiyyah, yaitu qarinah yang merupakan hasil kesimpulan ha­kim setelah memeriksa proses perkara. Dalam hal ini hakim mempunyai ke­bebasan yang sangat luas untuk me­nentukan berdasarkan keyakinannya (b) Qarinah qununiyyah, yaitu qarinah yang ditentukan oleh undang-undang, dan hakim tidak mempunyai kebebas­an yang luas untuk menentukannya.

(b) Qarun adalah nama seorang yang disebut dalam al-Quran sebagai orang yang kaya dan tamak. Kekayaan dan ketamakan membuat ia menjadi durhaka kepada Allah. Oleh karena itu ia menjadi lambang bagi kedurhakaan orang-orang yang kaya kepada Allah.

 

Di dalam al-Quran sendiri nama Qarun disebut pada empat tempat, yakni pada surat al-Qasas: 76 dan 79, surat al-Anka­but: 39 dan surat al-Mukmin: 24. Lebih jauh al-Quran mengatakan bahwa Qarun adalah umat Nabi Musa. Malah ada riwa­yat yang mengatakan bahwa ia sebenarnya anak dari salah seorang paman Nabi Musa sendiri.

Pada mulanya ia sebenarnya adalah orang yang miskin juga, bersama-sama de­ngan ummat Musa yang tertindas di ba­wah kekuasaan Fir`aun. Tetapi berkat ke­tekunan dan keyakinan, ia diberi Allah rezeki yang berlimpah ruah, sehingga ia menjadi orang yang terkaya di antara Bani Israil ketika itu. Rupanya kekayaan itu membuat ia lupa daratan. Ketika hidup pas-pasan, Qarun adalah seorang yang cu­kup dermawan, tetapi akibat kekayaan su­dah berlimpah ruah berada di tangannya, ia menjadi pongah dan sombong. Malah diceritakan al-Quran bahwa kekayaan Qarun itu digambarkan bagaimana ba­nyaknya gudang-gudang yang rnenyimpan harta Qarun tersebut sehingga diperlukan sekian orang yang membawa kunci gudang tersebut yang merasa berat sehingga ter­bungkuk-bungkuk membawanya.

Kepongahan dan kecongkakan Qarun tersebut juga diperingatkan oleh teman-te­mannya seiman. Namun peringatan itu tidak didengarkannya. Ia lupa bahwa har­ta sebenarnya anugerah Tuhan. Malah ia menjadi takabbur dengan mengatakan bahwa harta yang didapatnya itu bukan dan Tuhan, tetapi dengan kepandaian dan ketinggian ilmunya serta usaha kerasnya sendiri. Untuk menunjukkan kekayaannya itu, Qarun melakukan suatu pameran un­ tuk mempertontonkan seluruh kekayaan­nya kepada khalayak ramai. Kepongahan dan kesombongannya sudah sampai ke puncaknya, sampai pada Batas. Oleh sebab itu Allah menurunkan siksaan kepadanya. Tanah tempat ia berpijak lalu merekah dan berlobang dalam. Dan akhirnya ia ter­benam ke dalam tanah yang merekah ter­sebut dan kemudian bertaut sebagaimana sediakala. Bukan hanya Qarun saja yang terbenam, bahkan seluruh harta yang membuat ia pongah dan sombong itu, juga ikut terkubur ke dalam tanah.

Advertisement
Filed under : Review,