Advertisement

Qaramitah jamak dari Qarmati, adalah kelompok sempalan dari Syi`ah Ismailiyah yang menolak kepemimpinan khalifah Fa­timiyah. Lazimnya anal istilah Qarmati di­hubungkan dengan nama pengasas kelom­pok ini yang dikenal sebagai Hamdan Qar­mat. Pada 899 (286 H) is melakukan ge­rakan pemisahan dari pimpinan Fatimiyah di bawah Ubaidullah al-Mandi yang per­nah didukungnya. Karenanya •enurut beberapa pengamat, mungkin istilah Qar­mat telah lama digunakan sebagai sebutan bagi kelompok lokal Ismaili yang juga per­nah diikuti Hamdan.

Hamdan memimpin gerakannya dari Mesopotamia. Semenjak pernyataan pemi­sahan pada 899 (286 H) Hamdan telah di­wakili oleh para pembantu, khususnya Abdan dan Zikrawaih. Mereka inilah yang meluaskan sayap pengaruh gerakan Qara­mitah ke berbagai penjuru seperti Siria, Sawad, Bahrain dan Yaman dengan meng­gunakan metode dakwah yang mirip de­ngan gerakan Fatimiyah. Sampai dengan akhir abad ke-3 Hijrah pasukan Qaramitah memang berhasil melakukan ancaman ke berbagai pusat permukiman penting se­perti: Aleppo, Hims, Salamiyah, Damaskus dan Kufah. Bahkan pada 908 (293 H) pa­sukan Qaramitah di bawah Zikremaih ber­hasil menumpas pasukan Abbasiyah yang dikirim khusus untuk menumpasnya di sekitar Qadisiyah. Di Bahrain, pimpinan lokal Qaramitah di bawah Abu Said al­Jannabi telah aktif sejak 866 (273 H). Tak jauh berbeda dengan gerakan Hamdan yang diikutinya, Abu Said menolak kepe­mimpinan Fatimiyah. Di Yaman pada 912 (299 H) muncul Ibnu al-Fadl yang mem­proklamairkan diri sebagai Mandi setelah menyatakan terpisah dari gerakan Fatimi­yah, yang di Yaman diwakili oleh Ibnu Hausyab.

Advertisement

Pada awal abad ke-4 Hijrah gerakan Qa­ramitah memulai babak baru dalam dak­wah. Ide tentang semakin dekatnya masa kedatangan kembali Mandi (Muhammad bin Ismail bin Ja`far as-Sadiq) telah ter­sebar luas. Keyakinan ini juga diikuti de­ngan berbagai kegiatan, termasuk dakwah dan operasi minter, guna menyiapkan at­mosfer yang lebih mendukung kedatangan Mandi yang dimaksud. Hal ini, umpama­nya, dapat dilihat dari kegiatan Abu Ha­tim ar-Razi di kawasan Persia dan Abu Tahir bin Abu Said al-Jannabi di Bahrain, Irak dan Arabia. Bahkan penyerangan ke Mekah yang diikuti dengan pencurian “Batu Hitam” (al-Hajar al-Aswad) pada 930 (317 H) juga dipimpin oleh Abu Tahir. Tetapi kecerobohan Abu Tahir untuk menentukan seorang pemuda dari Isfahan sebagai Mandi pada 931 (319 H) telah membuyarkan keyakinan para dai dan pendukung secara umum. Kegoncang­an ini mungkin telah ikut berperan “secara tidak langsung dalam proses pengembalian Batu Hitam ke tempat asalnya di Ka’bah.

Selama paruh kedua abad ke 4 Hijrah, kaum Qaramitah dihadapkan kepada upa­ya pendekatan dan konsiliasi pihak Fati­miyah. Umpamanya, al-Muizz yang naik tahta sebagai khalifah Fatimiyah ke­empat pada 953 (341 H) menegaskan, hampir identik dengan paham Qaramitah, bahwa Muhammad bin Ismail adalah “Mandi” (al-qa’im) dan pars khalifah Fa­timiyah hanya sebagai pelaksana perin­tahnya. Tetapi rupanya kelompok Qara­mitah secara doktrin ataupun kekuasaan tidak mudah dibujuk. Pada satu pihak, muncul kelompok Ikhwan as-Safa yang secara implisit mendiskreditkan pemimpin Fatimiyah dan menjunjung doktrin Qara­mitah. Pada pihak lain, Qaramitah Bahrain melakukan operasi minter secara luas me­lawan kekuasaan Fatimiyah, bahkan pada 974 (363 H) sampai ke Kairo yang telah menjadi ibukota khalifah Fatimiyah sejak dua tahun. Serangan-serangan Qaramitah yang terus menerus ke Siria dan Palestina telah memaksa khalifah Fatimiyah untuk membayar upeti kepada pimpinan Qara­mitah di Bahrain sebagai imbalan damai.

Namun menjelang akhir abad ke-10(4 H), Qaramitah mengalami kemunduran politik dan militer. Serangan besar-besaran yang dilancarkan pasukan Buwaih ke sela­tan Irak telah mengakhiri pengaruh Qara­mitah di kawasan tersebut. Kemudian, sampai pertengahan abad ke-11 (5 H) ke­dudukan Qaramitah di Arabia Timur juga dihancurkan secara berturut-turut oleh sekelompok suku Uqail dari Irak serta ke­lompok-kelompok lokal lainnya. Akibat­nya hanya tinggal Bahrain sajalah yang tetap sepenuhnya di tangan kaum Qarami­tah.

Sebagai kelompok sempalan, Qaramitah mengetengahkan kritik sosial yang tajam: “menegaldcan keadilan dan persamaan.” Walaupun ide tersebut berbau stereotipis sehingga tidak mudah dicanangkan dalam program yang jelas dan matang, kenyata­annya Qaramitah di Bahrain berhasil mem­bangun sistem politik, sosial, dan eko­ nomi yang menarik. Umpamanya, sistem pemerintahan mereka berdasar kepada perimbangan kekuatan antara keturunan “imam” (Jannabi) dan kelompok-kelom­pok elite dan keluarga besar, seperti Syan­bar. Juga dalam bidang ekonomi kesejah­teraan umum anggota sangat diperhatikan, sehingga, metode pun secara sadar dan suka rela mentaati sistem sentralisasi eko­nomi yang dicanangkan imam. Akhirnya, kenyataan bahwa Qaramitah telah mem­berikan satu cabang militer yang tangguh, bahkan, terhadap kekuatan Abbasiyah dan Fatimiyah menimbulkan pertanyaan tentang sistem rekrut dan training yang mereka lakukan. Apalagi melihat keterba­tasan sumber manusia dan funding yang mereka miliki. Di sinilah sebenarnya letak pentingnya analisa non-materialistik da­lam menjelaskan fenomena pemberontak­an. Qaramitah bukanlah persoalan baru; sebelumnya misi Nabi Muhammad telah lebih jelas membuktikan sentralitas pema­haman keagamaan dalam membangun soli­daritas dan kekuatan.

 

Advertisement
Filed under : Review,