Advertisement

Qada (diindonesiakan menjadi kada), da­lam istilah fikih berarti melakukan suatu kewajiban setelah habis waktu yang telah ditentukan. Adapun melakukannya dalam batas yang telah ditentukan, disebut ada’. Kada bertalian dengan kewajiban-kewajib­an yang mempunyai waktu khusus, yang disebut juga dengan wajib muwaqqat, se­perti kewajiban mengerjakan salat lima waktu dan puasa bulan Ramadan. Menge­nai kewajiban-kewajiban seperti itu, ulama berbeda pendapat, dalam hal apabila luput waktunya sedang ia belum dilakukan, apa­kah perlu atau tidak perlu dibayar pada waktu sesudahnya? Perbedaan pendapat tersebut berpangkal dan perbedaan pan­dangan, apakah kewajiban mengkada me­merlukan suatu dalil khusus untuk itu, atau sudah ditunjukkan oleh perintah per­taina yang mewajibkan suatu perbuatan. Ada yang mengatakan bahwa kewajiban mengkada perlu dengan dalil, khusus untuk itu. Artinya semata-mata ada perin­tah untuk melakukan suatu perbuatan, tidak dapat dianggap sekali gus sebagai perintah untuk membayarnya setelah habis waktu yang telah ditentukan. Dalam hal ini, waktu dianggap sebagai suatu yang tidak dapat dipisahkan dari suatu perbuat­an yang diwajibkan. Suatu perbuatan apa­bila dikaitkan dengan sesuatu waktu, ber­arti perbuatan tersebut berkaitan erat de­ngan waktu itu, dan dengan sendirinya nilai keterpaduan antara waktu dan per­buatan itu akan luput dengan luputnya waktu itu. Oleh karena itu, suatu perbuat­an harus dilakukan dalam waktu yang te-

lah ditentukan waktunya, kecuali ada suatu ketentuan lain dari syariat yang menegaskan bahwa ia boleh dibayar di luar waktunya. Contohnya kewajiban mengkada puasa bagi orang yang tidak da­pat melakukannya di waktu (bulan Rama­dan) karena sakit atau karena peijalanan, seperti ditegaskan dalam al-Quran. Contoh lain ialah mengenai seseorang yang dalam keadaan haid, dalam keadaan berhalangan melakukan ibadat, seperti salat dan puasa. Dalam hal kewajiban mana yang ditinggal­kannya yang wajib dikada dan yang mana yang tidak wajib dikada, Aisyah menegas­kan: Kami disuruh mengkada puasa, tidak disuruh mengkada salat (H.R. Bukhari). Hadis tersebut, menurut aliran ini, menun­jukkan bahwa kewajiban mengkada itu perlu dengan dalil khusus, seperti suruhan mengkada puasa atas perempuan haid, se­dangkan hukum dasar, suatu kewajiban yang ditinggalkan oleh seorang yang se­dang haid, tidak wajib dikada, seperti salat. Menurut aliran ini, pada dasarnya suatu kewajiban yang mempunyai waktu khusus apabila tidak dilakukan pada waktunya, tidak wajib dikada, kecuali ada perintah khusus untuk itu. Inilah pendapat mayo­ritas ulama usul-fikih dan kalangan Sya­Wiyah, Malikiyah dan Hambaliyah.

Advertisement

Pendapat kedua mengatakan, bahwa ke­wajiban mengkada tidak berkehendak ke­pada dalil khusus untuk itu, karena telah ditunjukkan oleh perintah untuk melaku­kan perbuatan dimaksuci. Perintah untuk melakukan salat lima waktu umpamanya, adalah sekaligus merupakan perintah untuk membayarkan kewajiban itu setelah habis waktu, apabila tidak dilakukan pada waktu yang telah ditentukan. Karena, seseorang yang diperintahkan untuk me­lakukan suatu kewajiban, tidak bebas dari perintah itu kecuali dengan melakukan perbuatan yang diperintahkan. Suatu ke­wajiban belum dianggap luput dengan luputnya waktu, karena kewajiban itu adalah berupa hutang yang harus dibayar, walaupun di luar waktunya. Bandingannya adalah hutang kepada sesama manusia, yang apabila tidak dibayar pada waktu yang telah disepakati, bukan berarti yang berhutang telah bebas dari hutangnya. Hu-tang harus dibayar, walaupun di luar dari waktu yang telah ditentukan. Apabila di­dapati dalam syariat perintah khusus un­tuk mengkada suatu kewajiban, maka hal itu merupakan tidak lain dari suatu pene­gasan dari hukum dasar tersebut. Umpa­manya, sebuah hadis menjelaskan, apabila seseorang tertidur atau terlupa sehingga tertinggal salat, maka hendaklah ia dilaku­kan waktu ia telah bangun atau setelah ia ingat dari lupa. Hadis tersebut, mengan­dung suatu penegasan bahwa hukum dasar wajib kada itu berlaku juga bagi orang yang tertidur dan terlupa. Pendapat kedua ini dianut oleh ulama usul-fikih dari kala­ngan Hanafiyah.

Walaupun dua kelompok ulama terse-but berbeda dalam memandang dalil mana yang mewajibkan kada, namun dalam ke­simpulan hukum fikihnya nampaknya me­reka sepakat. Artinya, tiap kewajiban yang mempunyai waktu khusus, apabila tidak dikerjakan dalam waktunya, wajib dibayar setelah waktm yang ditentukan. Umpamanya, mereka sepakat bahwa sese­orang yang meninggalkan salat dengan se­ngaja adalah berdosa dan wajib mengkada salat yang ditinggalkannya itu. Kewajiban mengkada salat yang ditinggalkan dengan sengaja itu menurut aliran pertama terse-but di atas, karena ada dalil khusus yang mewajibkannya, yaitu kias, disamakan de­rigan salat yang ditinggalkan karena terti­dur atau terlupa yang ditunjukkan oleh hadis untuk dikada, seperti dicatat di atas. Menurut aliran ini, jika yang terlupa atau tertinggal karena tertidur wajib dikada, tentu lebih perlu lagi untuk dikada salat yang ditinggalkan dengan sengaja. Adapun menurut aliran kedua, maka kewajiban mengkada salat tersebut telah dikandung oleh perintah yang mewajibkan melaku­kan salat dimaksud. Berbeda dengan ke­simpulan dari dua kelompok ulama ter­sebut, rhazhab Zahiri berpendapat bahwa orang yang meninggalkan salat dengan se­ngaja adalah berdosa, akan tetapi tidak wajib kada. Aliran ini, pemikiran htikum­nya sesuai dengan aliran pertama yang mengatakan, bahwa kewajiban kada perlu ditunjukkan oleh dalil khusus untuk itu. Namun dalam masalah salat yang diting­galkan dengan sengaja mereka berbeda ke­simpulan, karena mazhab Zahiri tidak me­lihat adanya dalil khusus yang mewajib­kan untuk mengkadanya. Zahiri terkenal dengan mazhab yang menolak konsep kias. Dengan sendirinya mereka menolak kias salat yang ditinggalkan dengan sengaja kepada salat yang ditinggalkan karena ter­lupa dalam hal wajib kada. Mereka juga menolak alasan kelompok kedua yang me­ngatakan bahwa kewajiban kada telah di­tunjukkan oleh perintah pertama untuk melakukan salat. Bagi mereka mengerja­kan salat lewat waktunya tanpa ada dalil khusus, sama saja dengan melakukannya sebelum masuk waktu yang sama disepa­kati tidak sahnya.

Advertisement
Filed under : Review,