Advertisement

Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia. Ia sudah tumbuh dan berkembang bebera­pa abad yang lalu. Kata pesantren sendiri berasal dari santri, yang diberi awalan pe dan akhiran an menjadi pesantrian (pesan­tren) berarti tempat tinggal para santri. Santri sendiri berarti orang yang menun­tut ilmu agama Islam. Pesantren di Jawa dan Madura sering disebut dengan pon­dok. Sementara itu di Aceh corak pendi­dikan seperti itu disebut dengan meuna­sah, di Sumatra Barat dengan surau.

Setiap pesantren secara minimal harus­lah mempunyai pondok atau asrama, mes­jid, santri, pengajaran kitab kuning dan adanya kiai. Asrama atau pondok sangat penting bagi adanya pesantren. Di asrama tersebut kehidupan keagamaan diberlaku­kan selama 24 jam sehari, dari bangun ti­dur sampai bangun tidur lagi waktu-waktu diisi dengan praktek kehidupan keagama­an. Untuk itu posisi mesjid menjadi pen­ting pula sebagai sentral peribadatan para santri, terutama dalam praktek sembah­yang lima waktu, fnemberikan khutbah dan sembahyang Jumat serta pengajaran kitab-kitab kuning. Santri sebagai isi dari pondok itu juga merupakan elemen utama sebuah pesantren. Dikenal ada dua kelom­pok santri, yakni santri mukim dan santri kalong. Santri mukim adalah para santri yang berasal dari daerah jauh dan menetap dalam pondok atau asrama pesantren. Se­dangkan santri kalong adalah para santri yang berasal dari desa-desa di sekeliling pesantren, yang biasanya tidak menetap atau tinggal dalam asrama pesantren.

Advertisement

Pesantren juga haruslah menampilkan pengajian kitab-kitab Islam klasik atau ki­tab kuning, karena memang kertasnya ber­warm kuning. Biasanya kitab-kitab ku­ning tersebut bermazhab Syafil, di sam­ping kitab-kitab pelajaran bahasa Arab, tauhid, sejarah dan akhlak. Akhirnya ada­lah kiai, figur yang merupakan elemen pa­ling esensial dalam pesantren. Kiai adalah orang-orang yang memimpin pesantren de­ngan kharisma yang tinggi, ibadat yang te­kun serta pengetahuan keagamaan yang luas dan mendalam. Mereka diyakini seba­gai orang yang memahami keagungan Tu­han dan rahasia alam semesta serta mam­pu menangkap isyarat-isyarat gaib dari langit. Oleh sebab itu para kiai, di samping memberikan pelajaran agama dan menjadi pemimpin spiritual para santrinya, tidak jarang juga menjadi “dokter-dokter psiko­somatis” bagi masyarakat lainnya.

Sejak awal, pesantren, di samping men­jadi pusat pendidikan keagamaan Islam di nusantara, juga menjadi pusat perlawanan terhadap penjajah, terutama pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Militansi pesantren berhadapan dengan penjajah asing sangatlah efektif ketika perlawanan pesantren itu disosialisasikan lewat sim­bol-simbol “perang mengusir orang-orang kafir”..

Dewasa ini pesantren telah memasuki era baru dengan munculnya pesantren-pe­santren modern di mana-mana. Berbagai ketrampilan telah memasuki pesantren. Mata pelajaran yang dipelajari pun bukan hanya agama saja, tetapi juga mencakup pelajaran-pelajaran umum lainnya, seperti bahasa Inggris, matematika, sosiologi, antropologi dan sebagainya. Diantaranya adalah seperti pesantren Gontor Ponoro­go, Pesantren al-Falah Ciampea Bogor, Pesantren Darun Najah Jakarta, pesantren al-Muthafawiyah Purba Baru Tapanuli Selatan dan lain-lain.

Advertisement
Filed under : Review,