Advertisement

Persyarikatan Ulama adalah organi­sasi yang merupakan bagian kelembagaan dari proses pembaharuan keislaman di da­erah Jawa Barat, yang dilakukan oleh Ha­ji Abdulhalim sejak 1911. Sebelum men­jadi Persyarikatan Ulama pada 1917, orga­nisasi sosial keagamaan dan pendidikan ini telah mengalami dua-kali pergantian na­ma: Hayat al-Qulub (Hayatul Qulub) dan Majlis (Majlisul Ilmi).

Setelah melakukan perluasan wilayah kegiatannya ke seluruh Jawa dan Madura sejak 1924, enam tahun berikutnya (1930) organisasi ini mendirikan panti anak yatim yang dikelola oleh lembaga kewanitaan­nya: Fathimiyah, suatu nama yang diam­bil dari nama seorang putri Nabi Muham­mad (Fatimah, istri Ali). Sebagaimana di­ketahui, sebelum menjadi Persyarikatan Ulama, organisasi sosial keagamaan dan pendidikan yang didirikan Abdulhalim ini juga bergerak dalam bidang sosial ekono­mi. Karena itu, kegiatan tersebut pun te­rus dilanjutkan. Pada 1930-an misalnya, untuk memperkuat sendi .perekonomian organisasi, Persyarikatan Ulama membawahi beberapa perusahaan: industri perce­takan dan pertenunan, di samping areal pertanian. Agar perusahaan tersebut tidak menjadi monopoli para fungsionaris orga­nisasi, semua guru Persyarikatan Ulama di Majalengka diharuskan membeli saham.

Advertisement

Agaknya, organisasi ini sangat menaruh perhatian untuk terus melanjutkan salah satu bidang kegiatannya ini, perekonomi­an. Indikasi itu tercermin dalam usahanya untuk memasukkan bidang ekonomi ke dalam kurikulum sekolah yang didirikan­nya. Upaya ini dilatarbelakangi oleh sema­ngat Abdulhalim untuk memberikan bekal kemandirian ekonomi kepada para anak didik. Untuk mewujudkan semangatnya ini, pada kongres Persyarikatan Ulama di Majalengka 1932, Abdulhalim mengusul­kan untuk mendirikan lembaga ketrampil­an; dan usulnya diterima kongres. (selan­jutnya lihat Abdulhalim.)

Advertisement
Filed under : Review,