Advertisement

Persatuan Umat Islam (PUI) adalah organisasi yang bergerak dalam bidang dakwah, pendidikan dan sosial. Organisasi ini didirikan pada 5 April 1952 (9 Rajab 1371 H), sebagai fusi (peleburan) dari dua organisasi, yaitu Persyarikatan Umat Islam dan Persatuan Umat Islam Indonesia.

Persyarikatan Umat Islam, sebagai salah satu cikal bakal dari PUI, pada mulanya bernama Hayatul Qulub, didirikan pada 1911 (1329 H) di Majalengka, atas prakar­sa K.H. Abdul Halim, seorang ulama kela­hiran Ciborelang, Majalengka, Jawa Barat. Organisasi ini bergerak dalam bidang eko­nomi dan pendidikan, dengan tujuan po­kok membantu para anggotanya yang ber­usaha dalam bidang perdagangan dalam menghadapi persaingan dengan para peda­gang Cina. Ketika persaingan dengan para saudagar Cina memuncak, sampai terjadi perang mulut dan fisik 1915 (1333 H), Hayatul Qulub dilarang bergerak oleh pe­merintah Belanda. Tetapi, kegiatannya da­lam bidang ekonomi dan pendidikan ma­sih tetap berjalan, meskipun tidak dengan nama resmi. Pada 1917 (1335 H), atas bantuan H.O.S. Cokroaminoto (presiden Syarekat Islam waktu itu), Hayatul Qulub diakui secara hukum oleh pemerintah Be­landa, dengan berganti nama menjadi Per­syarikatan Ulama. Organisasi ini kemudian memperluas daerah operasinya ke seluruh Jawa dan Madura 1924 (1342 H), selan­jutnya ke seluruh Indonesia (1937/1356 H). Terakhir, sebelum berfusi dalam PUI, Persyarikatan Ulama berganti nama lagi menjadi Persyarikatan Umat Islam.

Advertisement

Sedangkan Persatuan Umat Islam Indo­nesia, sebagai cikal bakal yang lain dan PUI, pada mulanya bernama al-Ittihad al­Islamiyah, didirikan di Sukabumi pada 1931 (1350 H), atas prakarsa K.H. Ahmad Sanusi, seorang ulama kelahiran Sukabu­mi. Organisasi ini bergerak dalam bidang pendidikan, baik yang bersifat tradisional (pesantren) maupun yang bersifat modern (madrasah dan sekolah). Pada masa pen­dudukan Jepang organisasi ini pernah mendapat hambatan yang serius. Al-Itti­had al-Islamiyah, pada perkembangan ber­ikutnya, berganti nama menjadi Persatuan Umat Islam Indonesia.

Antara Persyarikatan Umat Islam dan Persatuan Umat Islam Indonesia, terutama melalui tokohnya masing-masing (K.H. Abdul Halim dan K.H. Ahmad Sanusi), se-ring mengadakan pertemuan. Maka, atas dasar kesamaan pandangan (semangat anti kolonialisme), kesadaran pentingnya per­satuan dan kesatuan, kesamaan dasar orga­nisasi (Islam), kesamaan tujuan (terlaksa­nanya syariat Islam mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah), kesamaan struktur organisa­si, dan agar perjuangan lebih mudah terca­pai, melalui prosedur yang cukup panjang dan dengan disetujui oleh anggota-anggo­tanya masing-masing, kedua organisasi itu (Persyarikatan Umat Islam dan Persatuan Umat Islam Indonesia) mengadakan fusi organisasi pada 5 April 1952 (9 Rajab 1371 H) di Gedung Nasional Bogor, de­ngan mengambil nama Persatuan Umat Is­lam (PUI).

Sebagai tertuang dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART)- nya, PUI bersifat independent (berdiri sendiri), didirikan atas dasar Islam, dengan tujuan terlaksananya syariat Islam mazhab Ahius Sunnah wal Jamaah. Dengan penja­baran sebagai berikut: Agar umat Islam di Indonesia selalu bertakw a kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar umat Islam di Indo­nesia selalu beramal saleh dengan ikhlas karena Allah. Agar umat Islam di Indone­sia berakhlak mulia dan berpribadi tinggi. Agar umat Islam di Indonesia mempunyai ketrampilan. Agar umat Islam di Indone­sia mempunyai rasa kasih sayang terhadap sesama umat manusia. Agar umat Islam di Indonesia dapat bekerja sama dengan se­sama umat yang seagama, dengan umat yang beragama lain dan dengan pemerin­tah. Agar umat Islam di Indonesia aktif dan berperan serta dalam hal-hal kebaikan dan menolak hal-hal kejahatan. Agar umat Islam di Indonesia .berusaha menghindar­kan din dari pertentangan dengan orang lain yang seagama atau yang tidak seaga­ma. Dan agar umat Islam di Indonesia ber­satu padu dalam mengabdi kepada nusa, bangsa dan agama.

Untuk mencapai tujuan tersebut PUI berusaha: menunaikan peribadatan dan memudahkan umat Islam dalam beribadat kepada Allah, memajukan pelajaran dan pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya, menyelenggarakan dakwah Islam, mem­bantu para anggota berikhtiar terlaksana­nya kebahagiaan hidup umat Islam, me­laksanakan sosial Islam, membangun se­mangat untuk terlaksananya kesatuan dan persatuan dalam kalangan umat-Islam, dan mengadakan kerjasama dengan organisasi­organisasi dan badan-badan lain dalam me­majukan keislaman. Usaha-usaha tersebut dirumuskan dalam khittat ‘amaliyat (ren­cana kerja) yang terdiri dari delapan jalur perbaikan (islah assamaniyat), yaitu Witt al-‘aqidat (perbaikan itikad atau keyakin­an), islah al-‘ibadat (perbaikan

islah at-tarbiyat (perbaikan pendidikan dan pengajaran), islah (perbaikan keluarga), islah al- adat (perbaikan adat kebiasaan), islah al-ummat (perbaikan hu­bungan antar umat, bangsa dan golongan), islah al-iqtisadiyat (perbaikan ekonomi) dan islah al-mujtama’ (perbaikan sosial).

Rencana kerja yang terdiri dari delapan jalur perbaikan itu ditangani oleh majelis­majelis (departemen-departemen) khusus, yakni Majelis Pendidikan dan Pengajaran, Majelis Penyiaran dan Penerangan, Majelis Wanita, Majelis Sosial, Majelis Perekonomi­an dan Majelis Pemuda.

Advertisement