Advertisement

Persatuan Ulama-ulama Seluruh Aceh (PUSA) adalah suatu organisasi yang menghimpun ulama-ulama di daerah Aceh. Organisasi ini didirikan pada Mei 1939 oleh beberapa ulama Aceh yang cu­kup berpengaruh pada waktu itu. Para pendiri itu antara lain adalah Tengku Mo­hammad Daud Beureueh, Teuku Haji Cik Johan Alamsyah, Teuku Mohammad Amin, dan Tengku Ismail Yakub. Sebagai Ketua Umumnya terpilih Tengku M. Daud Beureueh, seorang ulama yang sangat ber­pengaruh di Aceh.

PUSA semula dimaksudkan untuk menghimpun ulama-ulama seluruh Aceh dalam satu wadah yarig dapat mempersa­tukan segala paham maupun keyakinan keagamaan mereka. Namun lambat laun organisasi ini berkembang menjadi wahana utama para ulama Islam Aceh, yang meng­gunakan gelar Tengku (TGK), dalam per­juangan mereka melawan -golongan elite tradisional, yaitu golongan bangsawan, ke­pala wilayah dan para uleebalang yang menggunakan gelar Teuku (T), yang di­anggap bersikap sewenang-wenang dan menindas rakyat jelata di daerah Aceh.

Advertisement

Pada awalnya PUSA merupakan suatu organisasi yang berorientasi pada keaga­maan yang bersifat modern. Usaha mereka lebih mengarah kepada bidang dakwah dan perbaikan pendidikan bagi rakyat Aceh. Untuk maksud ini PUSA banyak mendirikan sekolah-sekolah, termasuk di antaranya Perguruan Normal Islam, yaitu sekolah pendidikan guru untuk mencetak kader-kader yang mendalami ilmu penge­tahuan agama. Namun dengan masuknya Amir Husin al-Mujahid ke dalam PUSA, segera organisasi ini mengalami perubahan yang mendasar. Bila semula PUSA meru­pakan organisasi yang moderat, namun ka­rena pengaruh Amir Husin segera berubah menjadi organisasi yang radikal. Bila pada awalnya PUSA tidak anti Belanda, namun segera berubah menjadi anti Belanda dan dengan secepatnya mereka ingin melepas­kan diri dari penjajahan Belanda. Hal ini disebabkan semakin meluasnya hegemoni Jepang di Asia Tenggara, yang di antara­nya juga menyerukan agar bangsa Asia melepaskan diri dari penjajahan Barat. De­mikian juga, bila pada awalnya PUSA ti­dak anti uleebalang, yang kelihatan dari para pendiri, pengurus maupun penasihat­nya terdapat juga di antaranya mereka yang berasal dari golongan uleebalang, na­mun kemudian PUSA berubah menjadi anti uleebalang. Perubahan sikap ini dise­babkan antara lain oleh sikap sebagian be­sar uleebalang yang sewenang-wenang dan menindas rakyat dengan mengandalkan kekuasaan dan harta mereka, sehingga se­bagian besar tanah pertanian di Aceh ber­ada di tangan uleebalang. Selain itu PUSA menganggap para uleebalang itu sebagai kaki tangan Belanda dan selalu bekerja sa­ma dengan penjajah untuk menindas rak­yat.

Untuk melawan Belanda dan para ulee­balang, PUSA kemudian mencari bantuan dari pihak Jepang yang waktu itu sudah semakin meluas pengaruhnya di Asia Tenggara. Melalui perantaraan orang-orang Aceh yang berada di Malaya dilakukan hu­bungan dengan pihak Jepang untuk meng­adakan pemberontakan terhadap Belanda menjelang pendaratan Jepang. Maka pada Pebruari dan Maret 1942 terjadilah pem­berontakan melawan Belanda. Kawat-kawat telepon diputuskan, perjalanan kereta api diganggu, dan sejumlah orang Belanda dibunuh. Pemberontakan ini terutama di­pimpin oleh para ulama yang tergabung dalam PUSA, seperti Tengku Said Abuba­kar, Teuku Nya.` Arif dan lainnya. Pembe­rontakan ini membuat Aceh sebagai satu­satunya daerah yang membantu Jepang dalam penyerbuannya, karena perasaan anti Belanda, dan juga mengharapkan ban­tuan Jepang untuk mengalahkan para uleebalang yang selama ini dibantu Belan­da. Namun ternyata Jepang masih mem­pertahankan uleebalang sebagai penguasa pemerintahan sipil.

Setelah Jepang menyerah, para ulee­balang diserang kaum ulama dan pengikut­nya di seluruh Aceh. Dengan demikian mereka melenyapkan sisa-sisa penguasa yang bekerja sama dengan kaum kolonial. Kemudian untuk menjaga kestabilan pe­merintahan, para-pimpinan PUSA banyak yang nrengisi jabatan-jabatan yang diting­galkan uleebalang. Namun hal ini nampak­nya menimbulkan suatu kekacauan di an­tara para ulama itu sendiri. Di antara me­reka ada yang menuduh para ulama PU­SA merebut kekuasaan dan harta ulee­balang untuk kepentingan pribadi.

Selanjutnya setelah kemerdekaan, ba­nyak di antara pimpinan PUSA yang men­duduki jabatan-jabatan dalam pemerintah­an sipil maupun militer. Namun kemudian terjadi beberapa perubahan kebijaksanaan dan pemerintah pusat dalam menentukan jabatan-jabatan dalam pemerintahan. Hal ini banyak mendapat tantangan dari para ulama. Selanjutnya akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat, banyak kaum ulama dari PUSA yang mengangkat senja­ta memberontak terhadap pemerintah RI. Pemberontakan ini dipimpin oleh Daud Beureueh, yang dikenal sebagai ulama yang paling berpengaruh di Aceh. Selain itu dia juga pernah menjabat sebagai Gu­bernur daerah Aceh.

Advertisement
Filed under : Review,