Advertisement

Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) adalah suatu Organisasi Sosial yang didirikan pada 5 Mei 1930 di Can-dung, Bukittinggi, Sumatra Tengah (Su­matra Barat sekarang), yang bergerak di bidang sosial, pendidikan dan dakwah. Pendirinya adalah alim ulama tersohor di Sumatra Barat, dan di antaranya: Syekh Suleman Arrasuli Candung, Syekh Mu­hammad Abbas al-Kadi Bukittinggi. Syekh MMuhmammad Jamil Jaho Padang Panjang dan Syekh Abdul Wahid Tabek Gadang.

Sebelum berdiri perkumpulan ini, di an­tara ulama-ulama pendirinya ada yang su­dah punya pesantren di daerah masing­masing yang masih dalam bentuk lama (halaqah). Kemudian pada 1928 sistem ini secara masing-masing dirobah menjadi bentuk madrasah (clasical). Untuk meng­atur madrasah-madrasah ini secara sera-gam, para pendirinya sepakat untuk meng­adakan ikatan madrasah-madrasah itu, de­ngan satu nama, satu organisasi dan satu kurikulm. Maka pada 20 Mei 1930 berdi­rilah Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang disingkat dengan PERTI, mengikuti aliran Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam itikad dan mazhab Syafil dalam syariat dan iba­dat. Bertujuan untuk mengembangkan pendidikan dan pengajaran, dengan men­dirikan madrasah-madrasah, serta memaju­kan amal-amal sosial dan dakwah, dengan membangun mesjid-mesjid dan langgar­langgar.

Advertisement

Tidak berapa lama setelah berdirinya, madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah berkembang dan bersebar di Minangka­bau. Di antara Madrasah-madrasah Tarbi­yah Islamiyah yang terkenal di kalangan organisasi ini sampai sekarang ialah Mad­rasah Tarbiyah Islamiyah Candung yang didirikan pada 1907 oleh Syekh Suleman Arrasuli, Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho Padang Panjang yang didirikan oleh Syekh Muhammad Jamil, dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Tabek Gadang yang didirikan pada 1906 oleh Syekh Abdul Wahid.

Setelah Indonesia merdeka, memenuhi maklumat Hatta (Wapres) agar menum­buhkan berbagai organisasi dan portal, me­nolak tudingan Belanda bahwa RI bukan­lah negara yang sale, maka Perti yang tadi­nya bersifat sosial, ditingkatkan menjadi Partai Politik Islam Perti, ikut bersama partai-partai lain dalam menggalang ke­merdekaan RI.

Parpol ini kenyataannya kurang berun­tung pada periode-periode berikutnya, ter­utama pada masa Ekawibawa Bung Karno, di mana dalam mengikuti gagasan NASA­KOM-nya telah menimbulkan kelompok pro dan kelompok kontra dalam tubuh Perti. Kemelut yang kurang terbenahi ini kenyataannya sangat merugikan bagi tuju­an semula organisasi. Pengelolaan bidang pendidikan dan dakwah seolah-olah terlu­pakan kalau tidal( dapat dikatakan ter­abaikan sama sekali. Maka pada 1969, Syekh Suleman Arrasuli, pendiri organisa­si ini yang satu-satunya masih hidup pada waktu itu, mendekritkan agar kembali ke­pada khittah semula, yaitu status non-pol, bergerak di bidang sosial. Dekrit sesepuh­nya ini hanya diterima oleh sebagian saja yang dipimpin oleh putranya K.H. Bah­ruddin Arrasuli, dan kemudian dalam me­nyalurkan aspirasi politiknya bergabung dengan GOLKAR. Adapun sebagian lain­nya pada waktu itu tetap sebagai parpol.

Persatuan Tarbiyah Islamiyah amat gi­gih dalam mempertahankan mazhab Sya-

dan masih tetap mempertahankan bu­ku-buku kuning di madrasah-madrasah­nya.

Advertisement