Advertisement

Persatuan Guru Agama Islam (PGAI)          merupakan suatu organisasi keguruan yang bergerak dalam bidang pendidikan Islam. Anggotanya bukan saja terdiri dari guru-guru agama biasa, melain­kan juga melibatkan para tokoh masyara­kat maupun ulama. PGAI didirikan di Padang pada 1919, dan disahkan sebagai suatu badan hukum oleh Pemerintah Hin­dia Belanda pada 1921.

Gagasan yang melatarbelakangi didiri­kannya organisasi ini adalah, di samping munculnya gejala pertentangan pemaham­an keagamaan antara kaum muda dengan kaum tua, juga dunia pendidikan Islam yang ketika itu sedang mengalami perkem­bangan yang relatif pesat. Gejala ini mun­cul di Minangkabau, Sumatra Barat. Di antara para pelopor dan pendirinya adalah Syekh H. Abdullah Ahmad, Syekh H. Abdul Karim Amrullah, dan Syekh Mu­hammad Jamil Jambek.

Advertisement

Organisasi ini tidak saja bertujuan un­tuk memajukan dunia pendidikan. Islam, akan tetapi sekaligus berfungsi sebagai sarana pemersatu di antara para ulama dan tokoh masyarakat. Organisasi ini pun ber­usaha menjembatani kesenjangan hubung­an antara kaum muda dengan kaum tua yang tengah berselisih tentang masalah­masalah keagamaan. Karena itulah, PGAI mendapat sambutan dan dukungan besar dari masyarakat. Terbukti, selama kurarig dari tiga tahun (1921) PGAI telah berhasil membuka cabang di beberapa kabupaten. Sedangkan pengurus besarnya berkedu­dukan di Padang, Sumatra Barat.

Pada 1930, PGAI berhasil mendirikan Sekolah Menengah Islam tingkat Atas, di­sebut Normal Islam, sebagai kelanjutan dari Thawalib-Thawalib dan sekolah-seko­lah agama yang sederajat. Sepuluh tahun kemudian, (1940), PGAI telah mampu mendirikan Sekolah Tinggi Islam. Namun sayangnya, kecamukan Perang Dunia kedua telah menghambat dan, sekaligus, menghentikan kegiatan pendidikan Seko­lah Tinggi tersebut.

Advertisement