Advertisement

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah suatu organisasi ma­hasiswa yang berafiliasi pada partai NU (Nandlatul Ulama), namun kemudian or­ganisasi ini menyatakan dirinya sebagai organisasi mahasiswa yang independen. Independensi PMII dinyatakan berdasar­kan keputusan Musyawarah Besar PMII yang ke II pada 14 Juli 1971 di Murnajati, Jawa Timur.

Berdirinya PMII pada mulanya berdasar pada adanya hasrat yang kuat dari para mahasiswa NU untuk mendirikan organi­sasi mahasiswa yang beridiologi Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sebagai realisasi dari keinginan ini pada Desember 1955 didiri­kan IMANU (Ikatan Mahasiswa Nandlatul Ulama). Berdirinya IMANU mendapat tantangan keras dari IPNU (Ikatan Pelajar Nandlatul Ulama) yang baru saja didirilcan pada 24 Desember 1954. Pimpinan Pusat IPNU beranggapan bahwa berdirinya IMA­NU masih terlalu pagi mengingat masih kecilnya jumlah mahasiswa NU di per­guruan-perguruan tinggi. Namun keliha­tannya alasan yang lebih penting adalah kekhawatiran kalau-kalau IMANU mele­paskan din dari IPNU. Semangat untuk mendirikan organisasi mahasiswa di ling­kungan mahasiswa yang tergabung dalam IPNU nampak semakin kuat; oleh karena itu dalam Konferensi Besar IPNU yang ke I, yang diadakan di Kaliurang pada 14-17 Maret 1960, diputuskanlah untuk mendirikan organisasi mahasiswa secara khusus di perguruan tinggi. Untuk mem­persiapkan kelahiran organisasi mahasis­wa NU ini perlu diadakan musyawarah mahasiswa NU seluruh Indonesia. Dan untuk mempersiapkan tugas itu dibentuk panitia pelaksana sebanyak 13 orang, de­ngan tugas mempersiapkan musyawarah mahasiswa NU seluruh Indonesia. Pada 14-16 April 1960 diadakanlah Musyawa­rah Mahasiswa Nandlatul Ulama seluruh Indonesia di Surabaya yang dihadiri oleh para mahasiswa NU dari berbagai kota seluruh Indonesia. Pada musyawarah ini diputuskan untuk membentuk organisasi mahasiswa NU yang diberi nama PMII. Tanggal ditetapkannya keputusan ini, 17 April 1960, dianggap sebagai hari lahirnya PMII. Mengenai asas dan tujuan PMII, or­ganisasi ini dibentuk berasaskan Pancasila, bersifat kemahasiswaan, kekeluargaan, ke­masyarakatan, dan mandiri. Tujuannya adalah untuk membentuk manusia muslim Indonesia yang berbudi luhur, berilmu dan bertakwa kepada Allah subhana wa Taala, cakap serta bertanggung jawab da­lam mengamalkan ilmu pengetahuannya. Tujuan Pola Dasar PMII adalah untuk memberikan arah yang jelas bagi usaha­usaha pembinaan, pengembangan dan per­juangan PMII.

Advertisement

Landasan Pola Dasar ini ialah

(a) Landasan Idiil: Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, Pancasila, dan Nilai-nilai Da­sar Pergerakan (NDP),

(b) Landasan Struktural: yaitu Anggar­an Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PMII;

(c)    Landasan Historis: yaitu produk dan dokumen historis organisasi.

Pada awal berdirinya, PMII sepenuhnya berada di bawah naungan NU. PMII ter­ikat dengan segala garis kebijaksanaan per­juangan partai induknya, NU. PMII meru­pakan perpanjangan tangan NU baik secara struktural maupuri fungsional. Na­mun sejak dasawarsa 70-an sampai seka­rang PMII menyatakan diri sebagai organi­sasi yang independen, yang ditetapkan berdasarkan Deklarasi Murnajati yang di­hasilkan Musyawarah Besar PMII ke II 14 Juli 1971. Namun betapapun ideologi PMII tidak pernah lepas dari paham Ahlus Sunnah wal Jamaah yang merupakan ciri khas NU. Ini berarti secara kultural ideo­logis PMII tidak bisa dilepaskan begitu saja. Keterpisahan PMII dari NU ini lebih nampak hanya secara historis organisato­ris saja, sebab pada kenyataannya keter­pautan moral, kesamaan latar belakang susah direnggangkan atau dipisahkan.

Sejak berdirinya PMII turut aktif da­lam kegiatan-kegiatan baik nasional mau­pun internasional. Di antara kegiatan­kegiatan itu adalah partisipasinya dalam aktifitas KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), yaitu suatu komando yang bertujuan mengganyang paham komunis­me di bumi Indonesia. Selain itu PMII juga ikut serta dalam konferensi tingkat internasional, seperti Constituent Meet­ing of the Youth Forum di Moskow, se­minar World Assemblay of Youth di Kua­la Lumpur pada pertengahan 1962, semi­nar internasional untuk mengkaji masalah Palestina di Kairo pada 1965. Ikut berpar­tisipasi dalam Kelompok Cipayung, yang terdiri dan GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia), PMKRI (Perhim­punan Mahasiswa Katolik Republik Indo­nesia) dan GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia). Kelompok ini berusa­ha menyatukan wawasan kebangsaan me­reka, kepeduliannya terhadap masalah­masalah bangsa dan negara dalam rangka membangun masa depan yang lebih baik. Mengenai Asas Tunggal, secara historis ideologis PMII dan Pancasila pada hakikat­nya tidak pernah mengalami pertentang­an, karena sejak berdirinya nama PMII itu sendiri sudah mengandung aspek keindo­nesiaan. Hal ini nampak jelas pada huruf I terakhir dari namanya yang berarti Indo­neiia, dan juga dan yang tercantum secara jelas pada AD dan ART PMII. Meskipun pada awalnya PMII menggunakan Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai asasnya, teta­pi rumusan Pancasila dan wawasan ke­bangsaan nampak sekali pada AD dan ART-nya. Oleh karena itu Asas Tunggal Pancasila dapat diterima sebagai landasan organisasi secara mulus pada Kongres PMII ke VIII yang diadakan di Bandung pada 16-20 Mei 1985. Dengan demikian tidak ada masalah bagi PMII untuk mene­rima Pancasila sebagai Asas Tunggal.

 

Advertisement