Advertisement

Perang Salib, merupakan seri pepera­ngan yang dilancarkan pemuka-pemuka agama Kristen dan raja-raja Eropa terha­dap dunia Islam, khususnya kawasan Palestina termasuk Jerusalem, mulai dari akhir abad ke-11 sampai dengan akhir abad ke-13. Nama Perang Salib adalah ber­asal dari akar kata Latin crux artinya “sa­lib” (Perancis croisade; Inggris Crusades; Jerman Kreuzzug). Pihak muslim yang berusaha melawan dan mempertahankan diri atas serangan-serangan tersebut Ice­lihatannya tidak menganggap Perang Salib sebagai suatu hal yang unik sehingga perlu diberikan istilah khusus baginya. Dalam mengidentifikasilcan kejadian tersebut orang-orang Islam kontemporer, sebagai­mana terlihat dari tulisan-tulisan para se­jarawan muslim lebih tertarik memberikan ciri terhadap orang-orang Eropa yang da­tang menyerang. Mereka disebut sebagai Frank (al-Franj), berbeda dengan al-Yu­nan atau ar-Rum yang digunakan untuk menamakan penduduk Bizantium. Ken­dati demikian tidak berarti bahwa para penguasa muslim tidak berupaya untuk menggalang kekuatan berdasarkan kesatu­an agama dan ide jihad yang populer. Isti­lah Arab al-huriib as-salibiyah adalah isti­lah modern yang merupakan terjemahan dari bahasa Barat.

Berkobarnya Perang Salib lazimnya di­hubungkan dengan pidato berapi-api yang disampaikan Paus Urbanus II di Clarmont pada 1095 (489 H). Memang seruan Paus ini bukan satu kejadian yang terpisah. Se­cara umum pada abad ke-11 Eropa sedang mengalami masa kebangkitan dalam per­dagangan dan agama, yang umpamanya, dibuktikan dengan semakin banyaknya penziarah ke tempat-tempat suci di Pales­tina. Di samping semakin kuatnya posisi Saljuk di Anatolia dianggap oleh Kaisar Bizantium, Alexius Commenus, sebagai ancaman terhadap kedudukannya di Kon­stantinopel. Tidak mengherankan karena­nya apabila is memohon bantuan Paus. Perselisihan yang terjadi di antara para pa­ngeran dan penguasa lokal di negeri-negeri Latin telah dimanfaatkan Paus dengan me­nyeru untuk bersatu demi menyerang orang-orang Islam. Memang kecerdikan Paus menggunakan isu “memerangi orang­orang Islam” telah menjadikan kedudukan­nya semakin penting bagi dunia Kristen Latin dan sekaligus menciptakan iklim yang lebih akrab di daratan Eropa.

Advertisement

Permusuhan orang-orang Kristen terha­dap kaum muslimin bukanlah hal baru. Semenjak abad ke-10 raja-raja Kristen di Spanyol Utara telah melancarkan serang­an-serangan ofensif terhadap penguasa

muslim. Di pulau Sisilia, kaum Normandi telah berhasil mengakhiri kekuasaan Islam pada 1071 (465 H). Juga pada 1087 (481 H) para penguasa di pusat-pusat perda­gangan di Italia telah mengirimkan berba­gai ekspedisi ke wilayah-wilayah Islam di Afrika Utara. Hanya saja Perang Salib menjadi unik terutama karena is secara jelas telah dijadikan perang suci yang di­dukung para “penziarah bersenjata.” Me­reka mendapat sangsi dari Tuhan dan gere­ja, dan diarahkan langsung oleh Paus untuk menguasai Palestina. Karenanya bu­kanlah suatu kebetulan para anggota ten­tara Salib menyandang tanda salib merah pada lengan baju mereka.

Selama Perang Salib yang berjalan ham­pir dua abad telah dilancarkan paling tidak delapan ekspedisi besar-besaran. Menanggapi seruan Paus Urbanus II di Clermont, beberapa pangeran seperti Hugh Vermandois, Raymond Saint Giles dan Robert Flanders memobilisir satuan­satuan perang. Di samping itu, berbagai segmen masyarakat, termasuk pemimpin lokal, para petualang, dan agamawan tidak ketinggalan ikut menyertai ekspedisi. Me­reka semua akhirnya menyatukan diri di Konstantinopel pada 1097 (491 H). Sete­lah merebut Antioch dari tangan Saljuk pada 1098 (492 H), tentara Salib tidak ba­nyak mengalami kesulitan menguasai Jerusalem pada 1099 (493 H) dengan membinasakan hampir semua penghuni­nya, baik muslim maupun Yahudi. Keme­nangan ini telah diikuti pula dengan pe­nguasaan atas kawasan pantai Palestina dan beberapa kota di Siria yang kemudian dikenal sebagai wilayah Jerusalem, wila­yah Tripoli, wilayah Antioch, dan wilayah Edessa. Wilayah-wilayah ini diperintah se­cara otonom oleh para komandan tentara Salib; tetapi penguasa Jerusalem tetap di­anggap sebagai yang terpenting.

Pada pihak lain, para penguasa muslim terutama di Timur Tengah yang selama itu dilanda perpecahan politik mulai mengala­mi perbaikan dengan munculnya sultan Zangi di Mosul. Hal ini terbukti dengan keberhasilannya merebut Edessa dari ten­tara Salib pada 1144 (539 H). Kejatuhan Edessa ini telah mengundang Paus Euge­ nius III untuk memobilisir pasukan Salib kedua yang di antaranya didukung raja Jerman dan Prancis. Pasukan besar ini menyerang Damaskus pada 1148 (543 H) tetapi dapat dipukul mundur oleh Nurud­din, pengganti Zangi, yang berkuasa di Damaskus. Nuruddin terus meluaskan wilayah sehingga mempersempit kekuasa­an tentara Salib. Kemudian Salahuddin yang ditugaskan Nuruddin mengusir Mesir pada 1169 (565 H) telah berhasil meluas­kan dalam beberapa tahun wilayah kekua­saannya ke Palestina, dan Siria termasuk Aleppo dan Jerusalem yang direbut dari tentara Salib dalam pertempuran Hittin yang terkenal 1187 (583 H).

Kejatuhan Jerusalem telah mendorong Paus Gregory VIII menyusun tentara Salib ketiga. Di antara raja-raja besar yang me­nanggapi rencana Paus adalah Frederick Barbarossa dan Richard the Lion Heart, Richard inilah yang berhasil mengadakan perjanjian damai dengan Salahuddin pada 1192 (588 H). Kemudian Paus Innocent III menyerukan Perang Salib keempat untuk merebut Mesir. Tetapi anehnya jus­tru tentara Salib ini menyerang Hungaria, kemudian merebut Konstantinopel dari tangan Bizantium pada’ 1204 (600 H). Hanya pada 1219 (616 H) tentara Salib kelima berhasil merebut kota Dimyat di Mesir, dan mengadakan perjanjian dengan sultan Ayyubi. Di bawah Frederick II dari Jarman, pada 1229 (626 H) tentara Salib yang lain menuju ke Jerusalem; perjanjian pun disahkan dengan memberi mereka kekuasaan atas Jerusalem selama 10 tahun. Tetapi pada 1244 (642 H), Jerusalem di­ambil alih kembali oleh penguasa muslim. Melihat perkembangan ini, pada 1248 raja Prancis, Louis IX, memimpin pasukan Sa­lib kedelapan, tetapi sekali lagi gagal di Mesir. Usaha Louis keduakalinya pada 1270 (668 H) untuk menyerang Tunis pun kandas. Ia beserta sebagian tentara­nya mati dilanda wabah. Memang ekspedi­si-ekspedisi kecil terus dilancarkan; namun lazimnya Louis menandai berakhirnya Pe-rang Salib yang terbuka.

Dinasti Mamluk yang berkuasa di Mesir semenjak paruh kedua abad ke-13 telah berhasil mengakhiri kantung-kantung kekuasaan tentara Salib di Palestina dan Si­ria. Keberhasilan pasukan Mamluk meng­hentikan serangan Mongol di Ain Jalut pada 1260 (658 H) telah menjadi bukti akan ketangguhan mereka. Memang pe­nguasa Mamluk akhirnya merebut kembali Antioch (1268/666 H), Tripoli (1289/688 H), dan Acre (1291/690 H) dari tangan tentara Salib.

Advertisement