Advertisement

Perang Sabil, adalah istilah populer yang dihubungkan denga.n perjuangan ber­senjata guna mempertahankan Islam. Isti­lah yang dipakai secara meluas di kalang­an muslim Asia Tenggara ini kemungkinan besar adalah merupakan derivasi dari isti­lah Arab-Islam jihad fi sabil Allah (berju­ang di jalan Allah). Kelihatannya pernakai­an istilah perang sabil menjadi meluas ber­mula dalam konteks perlawanan lokal yang dilakukan para pemimpin Islam se­perti sultan dan ulama terhadap semakin kuatnya keberadaan kekuatan Portugis di Asia Tenggara pada awal abad ke-16. Se­makin kuatnya pengaruh Eropa di Asia Tenggara pada satu pihak telah melemah­kan perlawanan-perlawanan besar, tetapi pada pihak lain hal itu dapat .menumbuh­kan rasa solidaritas atas dasar keagainaan yang kemudian mengambil tema perang sabil. Perkembangan ini dapat dilihat dari argumen dan dalih yang dikemukakan para pemimpin dalam berbagai perang lo­kal melawan Belanda pada abad ke-19 dan perjuangan nasional pada abad ke-20.

Perang sabil menjadi bagian penting casus belli dalam berbagai perlawanan rakyat. Posisi agama yang sentral dalam ke­hidupan orang Islam telah menjadikannya sebuah simbol dan referensi yang efektif untuk memberikan legitimasi terhadap mobilisasi massa melawan kekuasaan dan ketidakadilan penjajah. Sampai sejauh mana sebenarnya penduduk secara luas menyadari peranan yang mereka mainkan adalah berhubungan dengan tema jihad dalam Islam, tetapi yang jelas ide tentang perjuangan untuk menegakkan ajaran Islam adalah menjadi tema utama yang di­kembangkan para pemimpin lokal seperti Imam Bonjol, Cik di Tiro dan Diponegoro. Apapun pengertian perang sabil yang di­barengi para ulama dan pemimpin yang jelas istilah tersebut secara populer selalu dihubungkan dengan perang senjata mela­wan musuh-musuh agama. Pada taraf ter­tentu upaya untuk membangkitkan sema­ngat berperang melawan penjajah telah menimbulkan sebuah bentuk “sastra perang” yang mengambil tema perang sabil, umpamanya Hikayat Perang Sabi yang tersebar luas di Aceh pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20. Mungkin dalam konteks komunikasi mo­dern, hikayat tersebut dapat dianggap se­bagai advertensi atau kampanye. Bagai­manapun sebagai sebuah ideologi, konsep perang sabil tentunya sulit untuk berdiri sendiri terlepas dari matrik dan konteks sosial, ekonomi, dan atau politik yang mengelilinginya. Di sinilah letak titik per­temuan penting yang perlu diperhatikan buat para pengamat atas kehidupan ma­syarakat Islam. Hubungan antara ideologi dan struktur masyarakat merupakan hu­bungan timbal balik yang tentunya selalu berubah sifatnya; begitu juga ide perang sabil kadang-kadang merupakan ekspresi murni agama, dan kadang-kadang lebih di­pengaruhi unsur-unsur non-agama.

Advertisement

Incoming search terms:

  • pengertian perang sabil

Advertisement
Filed under : Review, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian perang sabil