Advertisement

Perang  Riddah, adalah ekspedisi be­sar-besaran yang dilancarkan khalifah Abu Bakar pada 632 (11 H) guna menumpas para pembangkang di antara suku-suku Arab sepeninggal Nabi Muhammad. Is­tilah aslinya harb ar-riddah mungkin lebih tepat untuk tidak harus selalu diartikan “perang melawan orang orang yang ber­pindah agama (murtadd). Nabi meninggal­kan sebuah tatanan pemerintahan yang stabil walau terbatas dari segi geografi. Ti­dak terdapat krisis serius sewaktu Abu Ba­kar akhirnya terpilih sebagai khalifah. Tetapi di luar Madinah beberapa kelom pok suku, khususnya di kawasan timur Jazirah Arabia, menyatakan oposisi terbu­ka terhadap Madinah, di antaranya, de­ngan mendukung pemimpin-pemimpin lokal — sering disebut sebagai nabi-nabi palsu seperti Musailamah al-Hanafi (ter­kenal dengan sebutan al-Kazzab), Tulai­hah al-Asadi, dan al-Aswad al-Ansi. Mere­ka menyataan oposisi lewat penolakan membayar zakat.

Pemberontakan suku-suku merupakan ekspresi dari semacam rasa ketidakpuasan. Sebagai partisipan dalam sebuah konfede­rasi yang berpusat di Madinah tentunya suku-suku tersebut harus mengikuti pola hubungan baru yang lebih sentralis dan terkontrol. Hal ini berbeda dengan tradi­si suku yang anarkis dan tak dibatasi (acephalous dan fragmentary). Juga, hu­bungan timbal-balik yang berkembang se­telah mereka menerima hegemoni Madi­nah adalah telah mengurangi keuntungan yang mereka peroleh dari hubungan ko­mersial atau razia di antara suku-suku lain. Yang lebih penting, sebagai kelompok yang biasa bebas, kewajiban membayar za­kat kepada Madinah dianggap memberat­kan dan merugikan. Ketidakpuasan inter­nal ini akhirnya memperoleh saluran ter­buka dengan meninggalnya Nabi Muham­mad, individu yang langsung mereka taati, serta dengan tawaran konsesi yang mena­rik dari para pemimpin lokal untuk mem­perjuangkan interes mereka.

Advertisement

Pemimpin-pemimpin lokal ini telah muncul dengan ajaran dan konsep yang berbeda. Selama masa hidup Nabi kelihat­annya mereka belum banyak berhasil me­narik perhatian masyarakat luas. Suku Ha­nifah, umpamanya, yang akhirnya menja­di pendukung utama bagi gerakan

Musail­lamah memang tidak pernah, sebagai unit, menjadi sekutu dari Nabi Muhammad. Na­mun suatu hal yang harus diperhatikan adalah kemungkinan bahwa keberhasilan dakwah Nabi telah mengilhami para pe­mimpin lokal tersebut untuk mengem bangkan kepemimpinan mereka sendiri di antara suku-suku. Walaupun sulit diketa­hui kenapa ajakan pemimpin• lokal terse-but tiba-tiba setelah Nabi wafat menjadi menarik bagi para suku, yang jelas mereka menawarkan kepemimpinan rival dan le­bih berorientasi lokal. Namun corak pa­rokial ini pula telah mendorong pemimpin lain berbuat sama, misalnya Tulaihah yang muncul di antara suku Asad, tetangga dan Bani Hanifah.

Di Yaman sebuah gerakan oposisi mun­cul. Sebagai kawasan yang pernah menik­mati masa keemasan sebelum Islam, gerak­an ini tidak diragukan lagi merupakan eks­presi upaya nostalgik dan kelompok ter­tentu untuk mengulang masa kebesaran

Yaman. Di bawah pimpinan al-Aswad ai­Ansi, kelompok ini mendapatkan dukung­an dan mereka yang menginginkan Yaman sebagai kawasan mandiri. Sokongan ter­penting datang dari suku Kindah. Tetapi ternyata perubahan yang telah dialami Ya­man semenjak menerima Islam telah me­numbuhkan kelompok-kelompok yang bukan saja secara agamis melainkan juga sosio-politis melihat pentingnya mendu­kung kelanjutan kekuasaan Madinah. Me­mang dapat dikatakan bahwa penumpasan pemberontakan di Yaman banyak dito­pang oleh inisiatif dan bantuan tokoh­tokoh muslim lokal seperti Abu Musa al­Asy`ari.

Di Madinah Abu Bakar cepat mengam­bil tindakan tegas guna mengatasi pergo­lakan kaum pembangkang. Kendati pada mulanya Abu Bakar kurang mendapatkan dukungan untuk mengirimkan pasukan melawan para pembangkang, yang jelas khalifah sendiri berhasil mengepalai se­buah ekspedisi guna menundukkan suku Gatafan di Najd. Setelah peristiwa ini, Khalid bin al-Walid diserahi tugas melan­carkan operasi besar-besaran ke berbagai kawasan di Najd sebelum menumpas ke­pemimpinan Musailamah yang sedang ber­kembang di Yamamah. Dalam sebuah per­tempuran besar yang kemudian dikenal “Pertempuran Aqraba”, Banu Hanifah dapat dikalahkan, sedangkan Musailamah sendiri terbunuh. Di tempat-tempat lain seperti Bahrain, Uman, dan Yaman pa­sukan yang dikerahkan Abu Bakar tidak menghadapi perlawanan berarti sebagai­mana yang dihadapi Khalid menumpas gerakan Musailamah.

Yang cukup menarik, ternyata pem­bangkangan suku-suku ini berkobar di ka­wasan-kawasan di luar Hijaz. Karenanya sebagian sejarawan melihat pemberontak­an suku-suku (riddah) di masa Abu Bakar sebagai keresahan kompleks di antara su­ku-suku, terutama di Najd, terhadap sema­kin kuatnya dominasi Hijaz di Arabia. Te­tapi tidaklah perang dan perpecahan me­rupakan hal yang erat dengan kehidupan suku-suku di Arabia kala itu? Keberhasil­an Abu Bakar memadamkan keresahan dan pemberontakan di kalangan suku dan dikembangkannya kesempatan ekspedisi ke wilayah-wilayah baru dapat mengalih­kan clan sekaligus memanfaatkan kekuat­an dan spirit para suku Badui buat menca­pai tujuan-tujuan yang lebih bermanfaat dan secara tidak langsung melicinkan jalan bagi tersebamya Islam.

Incoming search terms:

  • pengertian perang riddah

Advertisement
Filed under : Review,

Incoming search terms:

  • pengertian perang riddah