Advertisement

Perang Paderi, adalah perang perlawan­an rakyat Minangkabau menentang penja­jah Belanda. Berawal dari kembalinya tiga orang haji, yakni Haji Miskin, Haji Suma­nik dan Haji Piabang dari Mekah ke tanah kelahirannya Minangkabau, pada 1803. Mereka bertiga mengajak masyarakat mengamalkan ajaran Islam dengan taat, sembari melarang berbagai kebiasaan yang bertentangan dengan agama, seperti me­nyabung ayam, berjudi, minum tuak dan pakaian wanita yang tidak menutup aurat. Kebiasaan kawin cerai dari pemuka-pemu­ka adat juga mendapat tantangan dari haji­haji ini.

Upaya menegakkan ajaran Islam di Mi­nangkabau yang dilakukan oleh tiga haji tersebut mendapat sokongan dari ulama­ulama lainnya, seperti Tuanku Nan Ren­ceh dan Tuanku Nan Tuo. Terjadilah per­golakan antara pemuka-pemuka adat yang merasa kedudukan mereka terdesak oleh kegiatan para ulama dengan para haji dan ulama yang menganggap bahwa beberapa kebiasaan masyarakat yang sudah diadat­kan tidak berbeda dengan adat Jahiliyah.

Advertisement

Gerakan yang dilancarkan para haji dan ulama ini diberi nama dengan Gerakan Pa­deri. Di setiap nagari yang mereka takluk­kan diangkat seorang kadi dan seorang imam. Masing-masing bertugas untuk men­jaga pelaksana hukum syara dan menjadi imam sembahyang setiap hari dan di bulan puasa. Berbagai peraturan pun dikeluar­kan. Siapa saja yang berjudi, menyabung ayam, mengadu burung balam dan puyuh serta minum tuak akan dibunuh. Hal yang sama juga dikenakan kepada orang perem­puan yang memakan sirih serta perempu­an yang memperlihatkan rambutnya. Se­bab rambut, menurut mereka merupakan aurat perempuan yang wajib ditutup. Diri­wayatkan bahwa Tuanku Nan Renceh per­nah menghukum “amai” (saudara kan­dung ibunya) sendiri, karena tidak menu­tup aurat.

Para pemuka adat dan kaum bangsawan pun terdesak. Oleh sebab itu jalan satu­satunya hanyalah meminta bantuan Belan­da untuk menghadapi gerakan Paderi. Di­sebabkan hal ini terjadilah perang terbuka antara Paderi dengan Belanda. Pada 1921 Paderi menggempur benteng Belanda di Simawang. Namun karena persenjataan Belanda lebih modern, setelah penyerang­an ke Simawang tersebut, Paderi menda­pat pukulan demi pukulan dari Belanda. Tindakan Belanda yang hendak mence­kamkan kukunya di Minangkabau bukan hanya memerangi gerakan Paderi saja, te­tapi juga termasuk kaum bangsawan dan pemuka adat yang tidak menerima kebi­jaksanaan Belanda. Inilah yang membuat tumbuhnya kesadaran putra-putra Minang bahwa mereka sebenarnya sedang berha­dapan dengan musuh-musuh yang hendak menghancurkan Minangkabau. Perselisih­an antara kaum adat dan agama menjadi hilang. Apatah lagi ketika Belanda menak­lukkan Koto Lawas dan Pandai Sikat. Be­berapa pemimpin Minangkabau dihukum gantung di Pandai Sikat. Jumlah mereka yang digantung itu adalah 13 orang. Dari jumlah 13 orang itu hanya dua orang saja dari gerakan Paderi sementara 11 orang adalah para pemimpin kaum adat yang ti­dak disenangi Belanda.

Di samping Tuanku Nan Renceh dan Tuanku Nan Tuo, gerakan Paderi juga di­pimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Per­tahanan terakhir gerakan Paderi memang terdapat di Bonjol. Bonjol telah disusun sebagai negeri yang melaksanakan syariat Islam, lengkap dengan balairung dan mes­jid. Di bawah pimpinan Tuanku. Imam Bonjol perlawanan Paderi mendapat ruh jihad yang berlipat ganda. Dua kali Bonjol dikepung oleh Belanda dengan kekuatan besar. Pengepungan pertama mendapat perlawanan yang gigih dari Tuanku Imam serta masyarakat Bonjol, sehingga Belanda kocar kacir dan mundur. Namun dalam pengepungan kedua, setelah Belanda meli­pat gandakan kekuatan dengan tentara­tentara yang didatangkan dari tanah Jawa, pertahanan Paderi di Matur, Lawang dan Andaleh jatuh ke tangan Belanda. D.ari Andaleh kemudian Belanda menaklukkan Palembayan. Dengan jatuhnya Palemba­yan maka jalan menuju Bonjol bertambah mudah.

Belanda meningkatkan pengepungan atas Bonjol. Rakyat Bonjol di bawah pim­pinan Tuanku Imam mengadakan perla­wanan dengan gagah berani. Namun beta­papun gagah beraninya serta tingginya se­mangat perang rakyat Bonjol, namun de­ngan persenjataan modern Belanda, akhir­nya Bonjol pun dapat ditaklukkan. Pada 1834 Tuanku Imam Bonjol ditangkap dan kemudian dibuang ke Manado, ting­gal di sebuah kampung bernama Lutak sampai menghembuskan napasnya yang terakhir.

Perang Paderi merupakan bukti kepah­lawanan putra-putra Minangkabau dalam mengusir penjajah dan bumi Nusantara. Belanda terpaksa mengorbankan empat orang panglima perangnya untuk mema­tahkan perlawanan Paderi tersebut. Empat panglima yang berpangkat Jenderal itu, masing-masing adalah De Kock, .Van Der Capellen, Cochuis dan Michiels. Belanda memang membayar mahal untuk menun­dukkan perlawanan putra-putra Minang­kabau tersebut.

Advertisement