Advertisement

Pelajar Islam Indonesia adalah se­buah organisasi pelajar Islam yang berge­rak di bidang sosial paedagogis dan dak­wah. Organisasi ini dibentuk pada 4 Mei 1947 di Yogyakarta dan merupakan orga­nisasi pelajar tertua di Indonesia yang lahir setelah kemerdekaan Indonesia. Pen­cetus ide untuk mendirikan organisasi ini adalah Yusdi Gazali. Idenya ini mendapat sambutan dan beberapa rekannya, yang kemudian disebut sebagai pemrakarsa dan berdirinya PII. Kelompok pemrakarsa ini antara lain adalah: Yusdi Gazali, An­ton Timur Jaelani, Ibrahim Zarkasyi, Amin Syahri dan Janamar Ajam.

Dalam perkembangan selanjutnya PII mendapat dukungan dan organisasi-orga­nisasi pelajar Islam yang bersifat lokal atau kedaerahan seperti Pelajar Islam Surakarta yang diwakili oleh Yahya Ubeid, Pergabungan Kursus Islam Sekolah .Mene­ngah (PERKISEM) Surakarta yang di wakili oleh Multazam dan Sawabi, Perhim­punan Pelajar Islam Indonesia (PPII) Yog­yakarta yang diwakili oleh Dida Gursida dan Supdmo N.A. Semua organisasi lokal tersebut kemudian meleburkan diri ke dalam PII, dan berikrar bahwa PH adalah satu-satunya organisasi pelajar Islam un­tuk selumh Indonesia. Hal ini kemudian diikuti pernyataan-pernyataan yang men­dukung dan menyatakan bergabung dari organisasi-organisasi pelajar Islam dari daerah-daerah lain, seperti dari Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Sumatra, Sulawesi dan lainnya.

Advertisement

Pemilihan nama Pelajar Islam Indone­sia tanpa embel-embel ikatan, pergerakan, himpunan atau persatuan didasarkan pada 2 pertimbangan, yaitu:

Pertama agar tidak ada konotasi sema­cam gerakan atau kelompok yang hendak menghimpun suatu kekuatan, tetapi lebih merupakan media atau sarana pemuda pelajar untuk membina pribadi dan me­ngembangkan prestasi, kedua organisasi ini dimaksudkan sebagai suatu organisasi yang independen, dan bukan merupakan organisasi milik golongan pemuda pelajar Islam tertentu atau partai politik terten­tu. Melainkan milik pemuda pelajar Islam dan umat Islam seluruhlndonesia.

Latar belakang berdirinya PII antara lain: motivasi yang bertitik tolak dad ajar-an agama, dan motivasi yang bertitik tolak dari tanggung jawab sebagai generasi pe­lanjut perjuangan bangsa. Motivasi perta­ma dilandasi oleh perintah atau ajaran agama yang tercantum dalam al-Quran (3: 104), yang memberi isyarat agar ada di an­tara umat Islam sekelompok (organisasi) yang mengajak kepada kebaikan dan men­cegah kemungkaran. Motivasi ini sangat mempengaruhi kepribadian anggota PH pada umumnya. Mereka berkeyakinan bahwa eksistensi organisasi ini bukanlah sekedar memenuhi kebutuhan sosial, teta­pi lebih merupakan fardu kifayah dalam rangka pengembangan dakwah Islam. Motivasi kedua disebabkan oleh kondisi bangsa Indonesia waktu itu yang sedang mempertahankan kemerdekaan dari rong­rongan penjajah Belanda dengan Aksi Polisionilnya. Hal ini mendorong organi sasi ini untuk ikut berperan aktif dalam membantu dan melanjutkan perjuangan bangsa. Selain daripada itu juga kondisi intern umat Islam Indonesia yang terpe­cah belah akibat politik adu domba yang dijalankan penjajah.

Tujuan dari didirikannya PH adalah un­tuk mencapai suatu kesempurnaan pendi­dikan bagi para anggotanya.. Hal ini se­bagaimana dirumuskan dalam kongres PH ke-VII di Palembang pada 1958,  yaitu ke­sempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi segenap rak­yat Indonesia dan umat manusia. Rumus­an ini adalah rumusan terakhir dari bebe­rapa rumusan sebelumnya yang kemudian dipandang kurang tepat lagi. Selanjutnya rumusan tersebut menggambarkan cita­cita organisasi akan adanya pendidikan yang terpadu antara pendidikan agama dan pendidikan umum dalam satu sistem. Dengan demikian tekanan tidak hanya di­titik beratkan pada penalaran saja akan te­tapi juga pada pemahaman nilai nilai aga­mis, sehingga akan terjadi keseimbangan antara sikap spiritual dan intelektual. Se­lanjutnya untuk mencapai tujuan tersebut PH memiliki 4 fungsi, yang disebut Catur Fungsi PII, yaitu: pertama PII sebagai tempat membina pribadi muslim, kedua PII sebagai alat mencapai kesuksesan da­lam belajar, ketiga PII sebagai sarana per­juangan, dan keempat PII sebagai tempat latihan, terutama bagi para anggotanya.

Adapun bentuk-bentuk kegiatan yang dilaksanakan PII antara lain adalah me­ngadakan kursus bahasa, mengadakan ke­lompok-kelompok belaj ar, mengadakan hubungan dengan lembaga pendidikan umum dan pesantren baik di dalam mau­pun di luar negeri, terutama usaha untuk mengadakan bea siswa bagi para anggota­nya, menyelenggarakan porseni untuk pe­lajar. Selain itu PII juga menyelenggarakan training-training kepemimpinan dan dak­wah, serta latihan di bidang ketrampilan bagi para anggotanya.

Peranan PII sudah nampak sejak awal berdirinya, yaitu dengan ikut serta para anggotanya dalam perjuangan fisik mela­wan Belanda yang ingin menjajah kembali. Di antara mereka ada yang bergabung dalam barisan Sabilillah, Hizbullah, Brigade Tentara Pelajar dan lainnya. Pada penis­tiwa Madiun 1948, PII juga aktif bersama kekuatan lain dalam memadamkan pem­berontakan PKI. Dan kemudian, untuk menanggulangi rongrongan komunis di Indonesia, PII berperan aktif dalam me­nyelenggarakan Bad an Kongres Muslimin Indonesia di Jakarta pada 8-9 April 1951 yang melahirkan Front Pemuda Islam In­donesia (FPII) yang tergabung di dalam­nya seluruh organisasi pemuda Islam Indo­nesia seperti HMI, PII, Pemuda Muslimin Indonesia, GP Anshor, Pemuda Muham­madiyah dan lainnya. P11 juga berperan dalam pembentukan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) yang ber­tujuan untuk membubarkan dan menun­tut dilarangnya PKI di Indonesia.

 

Advertisement