Advertisement

Pan-Islamisme (Solidaritas Seluruh Umat Islam) adalah faham politik-keaga maan yang dikembangkan para pemimpin muslim pada perempat terakhir abad ke­19, terutama sebagai reaksi langsung ter­hadap kehadiran Barat yang semakin tak tertanggung dan juga terhadap tumbuhnya nasionalisme. Kemunculan Pan-Islamisme pada periode ini merupakan ekspresi kon­krit dari elemen-elemen konstan dan do­minan dalam kehidupan politik, budaya dan keagamaan Islam sejak dini. Banyak unsur-unsur Islam yang menjadi dasar dan kemudian menopang faham Pan-Islamis­me, misalnya ide tentang umat berdasar­kan ukhuwah Islamiyah, mobilitas lingkup yang ekstensif antar kawasan Islam, lem­baga keilmuan dan pendidikan yang terbu­ka, Mekah sebagai pusat pertemuan dan ibadat, serta figur khalifah. Kesadaran akan pentingnya solidaritas umat menjadi terasa sewaktu berhadapan dengan ke­kuatan asing yang mencengkram. Pada za­man modern, sejumlah gerakan intelektual dan religio-politis telah menyadarkan ber­bagai kalangan akan pentingnya peranan solidaritas umat. Ketegasan memperkuat identitas keislaman telah dibarengi dengan penekanan terhadap kecenderungan uni­versalis dalam Islam, sebagaimana terlihat dan munculnya gerakan tarekat baru, usa­ha pemurnian dan pengenalan teks-teks keagamaan yang lebih berstandar. Di sam­ping itu, peristiwa-peristiwa politic dan ke­masyarakatan pada abad ke-19 telah mem­perkuat rasa curiga terhadap Barat. Pada 1858, umpamanya, sultan Mugal secara resmi disingkirkan; kerajaan Usmani meng­alami pukulan militer berat sejak awal abad tersebut; dan negeri-negeri muslim hampir kesemuanya dikuasai pendatang Barat. Dalam konteks yang menyeluruh jelas usaha pembaharuan pada segenap levelnya dihadapkan pada kenyataan poli­tik yang menyedihkan. Karenanya tak mengherankan apabila para pemimpin dan ulama membangkitkan solidaritas umat guna mengatasi kekhawatiran dan ancam­an luar tersebut. Bahkan dalam kerajaan Usmani yang telah menerima dan mene­rapkan skema modemisasi ala Barat justru muncul ide-ide bernafaskan keislaman yang kemudian membidani lahirnya fa-ham Pan-Islamisme.

Sultan Abdul Hamid II (1876-1908) menuangkan paham Pan-Islamisme yang memang telah mulai berkembang. Eratnya identitas Usmani dengan Islam telah men­jadikan relevansi Islam dalam konteks mo­dernisasi tak terpisahkan; artinya, reform yang dikembangkan tetap memperhitung­kan peranan Islam, kalau tidak boleh dika­takan dalam konteks Islam. Kelompok Us­mani Muda yang bangkit sejak akhir 1850-an jelas menekankan sentralitas dan rele­vansi Islam dalam pembaharuan. Memang keberadaan sultan, yang akhirnya dipopu­lerkan sebagai khalifah, Usmani ikut me­nekankan kecenderungan ini. Bahkan se­waktu kaum ‘ konstitusionalis berhasil meng-golkan konsep mereka sultan Us­mani tetap ditempatkan pada posisi yang menentukan. Akhirnya Sultan Abdul Ha-mid justru mampu menganulir pelaksana­an Konstitusi (1878) dengan kekuasaan yang dimilikinya. Tetapi situasi kerajaan yang parah pada masa itu memang me­mungkinkan sultan untuk berbuat demi­kian. Apalagi isu yang dikemukakan sul­tan, khususnya ide Pan-Islamisme, cukup releva,n dengan usaha mengatasi kesulitan yang dialami. Seiring dengan semakin ko­kohnya pengaruh Sultan Abdul Hamid, is pun menaikkan pamor dirinya sebagai khalifah. Hal ini tentu sangat diperlukan dalam melengkapi dan menguatkan paham pan-Islamisme yang dikembangkannya. Solidaritas umat harus dijalankan di ba­wah pimpinan yang diakui umat secara luas — khalifah.

Advertisement

Di camping itu pemikiran yang identik juga dikembangkan oleh para penulis dan ulama. Dasar pemikiran ini adalah perbaik­an din (4141, reform) guna melawan ke­terbelakangan dan cengkeraman asing. Di antara tokoh dan pemikir muslim yang pa­ling menonjol dalam usaha pembinaan so­lidaritas umat adalah Jamaluddin al-Afga­ni (al-Astarabadi). Pengalaman pribadi dan visi yang dianut Afgani telah menjadikan­nya seorang pemikir aktivis yang mene­riakkan Pan-Islamisme secara konsisten guna mengatasi krisis. Baginya ancaman Barat adalah riil dan harus dihadapi seca­ra serentak dengan cara yang up-to-date. Umat hams disatukan, diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses politik dan menjadi maju serta berilmu pengeta­huan. Memang Afgani berhasil membukti­kan pengaruh ide-idenya di berbagai ka­wasan dunia Islam, umpamanya Mesir (1871-1879) dan Iran (1889-1891), dalam membangkitkan kesadaran umat. Kemudian melalui majalah yang dipimpin­nya al-Urwat al-W0qa ide-ide Afgani lebih dapat menjangkau audiens yang luas. Erat dengan usahanya membangkitkan solidari­tas umat, Afgani juga berupaya mendapat­kan dukungan para penguasa muslim. Ka­renanya sewaktu Sultan Abdul Hamid mengundangnya datang ke Istambul pada 1892, Afgani menerima undangan terse-but. Apalagi pada saat itu ia sedang dalam keadaan penasaran akibat pengusiran Syah Iran (Qajar).

Selama di Istambul Afgani kelihatan ti­dak banyak bergerak aktif. Pada mulanya sultan menunjukkan entusiasme yang ting­gi terhadap ide-ide Afgani, terutama yang berkenaan dengan Pan-Islamisme. Tetapi karena beberapa faktor, di antaranya ha­sutan para pembantu sultan dan ide demo­krasi Afgani, sultan akhirnya justru mem­batasi aktivitas Afgani, kendati ia tetap menikmati hidup istimewa di kawasan is­tana sultan. Memang sultan tetap mene­ruskan paham Pan-Islamismenya, khusus­nya dalam konteks yang relevan dengan upayanya untuk mempertahannan keraja­an Usmani. Afgani meninggal pada 9 Ma­ret 1897 karena sakit kanker dagu, dan dikuburkan di Istambul; tetapi pada awal 1945 kuburnya telah dipindahkan ke Ka­bul, Afganistan. Pada masa itu (sekitar ujung Perang Dunia nama Afgani beser­ta paham pan-Islamismenya menjadi po­puler kembali di kalangan pejuang-pejuang muslim yang berusaha membebaskan diri dari cengkeraman Barat.

Paham Pan-Islamisme cukup berpenga­ruh luas. Secara konkrit sulit untuk mem­buktikan hasil nyata Pan-Islamisme. Teta­pi sebagai sumber inspirasi dan simbol lo­yalitas, paham ini telah mengilhami dan terus menjadi pendorong bagi solidaritas umat semasa krisis atau damai. Timbulnya berbagai organisasi dan kongres Islam se­dunia pada paruh kedua abad ke-20 ada­ lah bukti nyata terhadap potensi dan vi­talitas Pan-Islamisme.

Advertisement