Advertisement

Pan-Arabisme adalah sebuah inspirasi kebangsaan yang berkembang di kalangan orang-orang Arab bersamaan dengan tim­bulnya gerakan-gerakan kebangsaan se­menjak abad ke-19. Saat itu Dunia Arab yang berada di bawah kekuasaan Usmani selama hampir empat abad mulai menun­jukkan perbedaan dan identitas mereka se­cara lebih tegas.

Pan-Arabisme paling tidak memiliki tiga karakteristik :

Advertisement

a.        merasa sebagai satu bangsa;

b.        merujuk kepada masa silam yang ge­milang; dan

c.        mencita-citakan kemerdekaan dan persatuan, telah memberikan isi terhadap perbedaan tersebut.

Semakin kuatnya pengaruh dan tan­tangan Barat terhadap Dunia Islam ternya­ta telah membukakan perhatian mereka terhadap kerapuhan kerajaan Usmani. Hal ini telah mendorong pada satu pihak kepa­da timbulnya pembaharuan di kalangan istana dan pada pihak lain usaha dari ke­lompok-kelompok lokal untuk mendapat­kan otonomi ataupun kebebasan. Kecen­derungan ini dapat dilihat dan timbulnya gerakan-gerakan lokal di Balkan. Orang­orang Arab yang telah mendapatkan pen­didikan atau informasi non Usmani, khu­susnya dari lembaga-lembaga Barat, mengembangkan sebuah konsep yang mendukung “orientasi kearaban.” Sema­kin lemahnya kerajaan Usmani tentu lebih memberi kesempatan bagi timbulnya ge­rakan lokal di kawasan Arab. Namun ke­berhasilan Sultan Abdul-Hamid (w. 1908) memanfaatkan simbol khalifah dan ukhu­wah Islamiyah yang pernah dikembangkan Jamaluddin al-Afgani pada perempat ter­akhir abad ke-19 relatif telah menumpul­kan usaha-usaha yang bersifat Arab sentris tersebut.

Ide Pan-Arabisme secara tegas dipopu­lerkan oleh para pelarian Arab Siria. Pada 1905 sebuah badan Komite Nasionalis Arab dibentuk di Paris dengan tujuan un­tuk memajukan interes masyarakat Arab. Konsep mereka mengenai “Dunia Arab” tentu masih lunak dan belum pasti. Bah­kan sebagian menganggap Dunia Arab se­bagai wilayah Masyriq yang meliputi Pa­lestina, Siria, Arabia dan Irak. Hal ini ti­dak diragukan lagi sangat dipengaruhi oleh hubungan wilayah tersebut yang intensif dengan kekuasaan sultan Usmani yang se­dang mengalami krisis. Pada pihak lain Af­rika dan Mesh menghadapi masalah kultu­ral dan politik yang berbeda. Wilayah­wilayah ini semenjak abad ke-19 telah me­nikmati semacam otonomi. Didukung oleh latar belakang yang unik dan lokasi geografi yang relatif berjauhan memudah­kan timbulnya rasa solidaritas tersendiri. Bagaimanapun berakhirnya kekuasaan Us­mani setelah Perang Dunia I telah membu­kakan lembaran baru bagi ide Pan-Arab­isme.

Semakin terasanya pengaruh dan ke­kuasaan Barat, khususnya Inggris dan Prancis, di wilayah-wilayah Arab telah me­nimbulkan semangat baru. Kalau pada mulanya Pan-Arabisme lebih merupakan reaksi terhadap ide Kaum Turki Muda, maka semenjak berakhirnya Perang Dunia I Pan-Arabisme sangat sentral dalam mem­berikan motivasi sebagai ideologi kaum nasionalis Arab, dan sekaligus gerakan po­litik untuk mencapai kemerdekaan dan persatuan, apa pun versinya kala itu. Ke­nyataan bahwa Inggris dan Prancis, bisa dikatakan, menggantikan peranan pengua­sa Usmani maka upaya memperoleh ke­merdekaan dan menciptakan persatuan kebangsaan menjadi lebih diarahkan terha­dap kekuatan-kekuatan Barat tersebut. Di sinilah kemudian terlihat pentingnya pe­ranan Pan-Arabisme, khususnya bagi enti­tas politik di Siria, Irak. dan Arabia yang terobek-robek akibat politik penjajah, da­lam mendukung program kemerdekaan dan persatuan. Memang Pan-Arabisme pa­da masa itu lebih terkait secara praktis de­ngan sistem monarki yang ada. Walau Is­lam tetap inheren dalam perkembangan nasionalisme Arab, tetapi pada masa itu ia sedikit dikesampingkan sebagai simbol ka­rena sikap demikian diperlukan untuk me­negaskan identitas terpisah dari sultan Us­mani yang menggunakan simbol Islam. Kemudian setelah berakhirnya kekuasaan sultan Usmani, Islam kembali dijadikan sumber inspirasi bagi Pan-Arabisme yang diperjuangkan. Rujukari terhadap kebesar­an Arab masa lalu tidak bisa dipisahkan dari peranan Arab yang Islam. Di sinilah sebenarnya letak kekhasan perkembangan Pan-Arabisme yang digandrungi orang­orang Arab baik muslim maupun lainnya pada masa itu.

Semenjak keberhasilan Presiden Nasir dari Mesir mempertahankan kedaulatan negaranya atas Suez dalam perang 1956 Pan-Arabisme kembali menjadi penting dan meluas. Kadang-kadang dipopulerkan dengan nama Nasirisme. Kalau sebelum­nya pendudukan Barat secara tidak lang­sung menimbulkan solidaritas di antara kelompok Arab maka semenjak berdirinya Israel dirasakan perlunya membangun ke­satuan dan persatuan di antara mereka un­tuk mempertahankan kemerdekaan. Israel terbukti menjadi ancaman bagi mereka. Memang pada 1958 Mesir dan Siria me­nyatakan bergabung dalam satu wadah Republik Persatuan Arab. Walau tidak bertahan lama ikatan politik ini telah me­nunjukkan kokohnya semangat untuk me­nyatukan bangsa Arab secara menyeluruh. Juga, pada tahun-tahun menjelang kemer­dekaan Aljazair pada 1962, negara-negara Arab telah menunjukkan adanya solidari­tas yang semakin kuat lewat dukungan yang mereka berikan terhadap pejuang Aljazair. Bagaimanapun visi dan peranan Nasir dalam merealisir Pan-Arabisme tidak selamanya dan secara menyeluruh dapat diterima oleh pemimpin-pemimpin Arab yang lain. Umpamanya, dukungan Nasir terhadap satu kelompok di Yam an telah menimbulkan kecurigaan dan reaksi tegas dari Raja Faisal (Saudi). Kemudian keka­lahan tentara Mesir dalam perang 1967 te­lah memberikan pukulan berat terhadap ide Pan-Arabisme yang sedang tegas-tegas­nya dikembangkan Nasir. Apabila sebe­lumnya ide Pan-Arabisme lebih merupa­kan ungkapan pikiran sekelompok elite Arab, terutama para penulis, intelektual, dan perwira militer, Nasir untuk beberapa masa menjadikannya populer di kalangan massa yang luas.

Kendati para pengamat tetap berselisih tentang keberadaan Pan-Arabisme tetapi tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa dalam konteks perjuangan kebangsaan, Pan-Arabisme menjadi faktor tetap dalam mencapai persatuan dan merebut serta mempertahankan kemerdekaan. Tetapi mungkin ia hanya menjadi faktor variabel dalam mengisi, membentuk, dan mencapai dua faktor tetap di atas, lihat umpamanya keberadaan dan efektivitas Liga Arab hingga dewasa ini.

Advertisement