Advertisement

Normal Islam merupakan sebuah na­ma dari suatu lembaga pendidikan di Pa­dang Sumatra Barat. Lembaga pendidikan ini didirikan oleh Dr. H. Abdullah Ahmad pada 1 April 1931, yang merupakan reali­sasi dan konsep pendidikan Islam modern yang dicetuskannya. Normal Islam meru­pakan sekolah agama yang memperguna­kan metode modern dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya.. Metode mo­dern yang diterapkan dalam sekolah ini misalnya adalah pemakaian papan tulis, meja, kursi untuk duduk para siswa, se­mentara pada lembaga pendidikan lain hal seperti ini belum tampak dimulai pema­kaiannya. Pada lembaga pendidikan lain pada masa itu lazimnya digunakan sistem tradisional, sistem surau dan halaqah tan-pa mempergunakan papan tulis, meja atau kursi. Hal lain. yang termasuk modem ada­lah dengan diajarkannya ilmu pengetahu­an umum di samping ilmu pengetahuan agama yang menjadi mata pelajaran pokok di sekolah ini.

Perguruan .Normal Islam ini banyak mendapat dukungan dan masyarakat dan ulama Sumatra Barat. Hal ini terbukti dan kesediaan para ulama yang berpengaruh di Sumatra Barat pada waktu itu untuk du­duk dalam kepengurusan badan yang me­ngelola perguruan Normal Islam ini, yaitu PGAI (Persatuan Guru Agama Islam) yang dipimpin oleh Dr. H. Abdullah Ahmad. Di antara ulama yang menjadi pengurus da­lam PGAI ini adalah Dr. H. Abdul Karim Amrullah, Syekh Mohammad Jamil Jam­bek, Syekh Ibrahim Musa Parabek dan lain-lainnya. Mereka mendampingi Dr. H. Abdullah Ahmad dalam mengelola Pergu­ruan Normal Islam ini.

Advertisement

PGAI dalam mewujudkan cita-citanya untuk mendirikan lembaga yang bercorak modern, mernbeli sebidangtanah seluas 5 ha di daerah Jati, Padang. Kemudian pada 1930 PGAI mendirikan gedung sekolah dan asrama yang diperuntukkan bagi Panti Asuhan Yatim PGAI dan sekolah Normal Islam. Kemudian 1931 dibukalah secara resmi Sekolah Normal Islam dengan direk­turnya Mahmud Yunus.

Siswa-siswa Sekolah Normal Islam tidak terbatas dari daerah Sumatra Barat saja, banyak di antaranya yang dari luar Suma­tra Barat, seperti Aceh, Tapanuli, Palem­bang, Jawa Timur dan daerah lain di Indo­nesia. Pada umumnya para siswa diharus­kan tinggal di asrama yang disediakan oleh PGAI, agar mereka terdidik dalam disiplin yang tinggi selama mereka menempuh pendidikannya di Normal Islam. Sedang­kan mata pelajaran pokok yang diberikan di Normal Islam adalah ilmu pengetahuan agama Islam, namun di samping itu juga diajarkan ilmu pengetahuan umum seperti ilmu eksakta, ilmu sosial, ilmu pendidikan, bahasa asing dan lain-lainnya. Bahkan da­lam hal bahasa asing ini Normal. Islam dapat mencetak alumninya yang mampu menguasai tiga bahasa asing secara aktif; hal ini tentunya tidak terlepas Bari pen­didikan asrama yang memang diwajibkan bagi para siswanya. Sedangkan untuk per­lengkapan sekolahnya Normal Islam mem­punyai sebuah laboratorium yang lengkap dengan peralatannya untuk praktikum yang didatangkan dari Mesir.

Buku-buku yang dipakai dalam mata pelajaran Agama dan Bahasa Arab antara lain ialah: Subul as-Salam, Usul al-Fiqh al­Khudari, Tafsir al-Manar karya Rasyid Rida, al-Adyan, an-Nazarat, al-Balagah al­Wadihah, al-Wasit, at-Tarbiyah wa at­Ta’lirn, “Ilmu Mustalah ‘al-Had& , ar-Riya­dah ‘al-Badaniyah dan lain-lainnya.

Normal Islam, dari sejak berdirinya sampai ditutup, yaitu dari 1931 sampai 1946, dipimpin oleh Prof. Dr. Mahmud Yunus. Selama masa 15 tahun Normal Islam telah menghasilkan 750 orang alum­ni yang tersebar di seluruh pelosok tanah air dengan berbagai macam profesi yang ditekuninya. Di antara mereka banyak yang menjadi pejabat pemerintah, guru agama, mubalig, pedagang dan wiraswasta lainnya. Pada masa permulaan kemerde­kaan, khususnya di Sumatra Barat, peran­an alumni Normal Islam sangat menonjol dalam mengisi lowongan-lowongan yang ditinggalkan penjajah. Mereka banyak ber­peran dalam menangani masalah-masalah daerah, khususnya yang menyangkut ja­batan-jabatan baik dalam bidang swasta, pendidikan maupun pemerintahan. Guru-guru, khususnya guru agama, baik di seko­lah swasta maupun pemerintah, SD, SLP dan SLA hampir semuanya dipegang para alumni Normal Islam. Demikian juga ja­batan-jabatan pemerintahan seperti Kepa­la Kantor Agama, karyawan Departemen Agama baik tingkat propinsi, kabupaten maupun kotamadya pada umumnya ada­lah para alumni Normal Islam. Selain dari­pada itu di antara mereka ada juga yang menjabat sebagai pamong praja seperti Wedana, Patih, Bupati dan lain-lainnya.

Pada 1946 Normal Islam Padang ditu­tup setelah selama 15 tahun menjalankan kegiatannya dalam pendidikan Islam di Sumatra Barat. Hal ini terpaksa dilakukan karena pada saat itu kota Padang didudu­ki Belanda, yang kemudian diikuti dengan pecahnya perang kemerdekaan melawan Belanda di Padang.

 

Advertisement