Advertisement

Niat berasal dari kota an-niyyat, makna asalnya ialah: kehendak, maksud, tujuan, hajat (kebutuhan), azam dan sengaja. Tidak jauh berbeda dengan beberapa pe­ngertian harfiah ini sebagian ulama mene­gaskan bahwa niat adalah mencurahkan (kesungguhan) jiwa dalam menghadapi atau mengeijakan suatu perbuatan. Ada pula yang merumuskannya sebagai suatu maksud atau kemauan yang bulat untuk melakukan sesuatu dengan radar dan se­ngaj a.

Dalam bahasa Indonesia, kata niat juga terkandung atau malah sering diperguna­kan untuk pengertian nadar (nazar dalam bahasa Arab) seperti dalam ungkapan: “Janji hams ditepati, niat hams dibayar.” Maksudnya, janji wajib ditepati dan nadar hams dilaksanakan. Demikian pula dalam istilah “melepas niat” artinya membayar atau melaksanakan nadar.

Advertisement

Syariat Islam memandang niat sebagai suatu hal yang mempunyai kedudukan amat penting bagi terlaksanakannya suatu perbuatan, terutama amal perbuatan yang bersifat teabbudi, seperti dinyatakan Ra­sul Allah dalam salah satu Hadisnya yang artinya: “Sesungguhnya semua amal per­buatan itu tergantung kepada niat, dan setiap amal seseorang ditentukan oleh niatnya.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

Hadis tersebutlah di samping al-Quran (surat al-Bayyinah: 5) yang dijadikan dalil hukum oleh para ulama fikih Islam dalam menetapkan niat sebagai salah satu rukun atau syarat sah mengerjakan ibadat-iba­dat tertentu terutama ibadah mandat (murni) seperti wudu, salat, puasa dan lain-lain. Niat yang dimaksudkan di sini tentu adalah niat yang ikhlas atau yang la­zim disebut dengan istilah li Allah Teala sesuai perintah al-Quran dan al-Hadis.

Dalam pada itu para ulama menetapkan bahwa tempat niat adalah di dalam hati (qalb), dan waktu atau masa niat pada prinsipnya harus diawal (permulaan) iba­dat. Namun demikian terkadang atau ma­lahan banyak orang yang beranggapan se­olah-olah niat itu berarti mengucapkan atau melafalkan serangkaian kata-kata atau kalimat tertentu yang menjelaskan bahwa yang bersangkutan akan berbuat ini atau itu. Padahal, seperti disinggung di atas, niat bermakna gerak kemauan yang timbul dari hati-nurani.

Dengan kalimat lain, niat adalah per­buatan hati dan bukan perbuatan lidah (lisan). Gerak atau perbuatan hati itulah yang dinilai dan sekaligus merupakan cer­minan asli dari keikhlasan hati seseorang untuk melakukan suatu perbuatan.

Sebagai amalan hati, maka orang yang berniat hendak mengamalkan suatu ibadat katakanlah ibadat puasa sebagai misal, de­ngan kemauan yang sungguh-sungguh dan tekad yang bulat ia mulai mengarahkan hatinya untuk melaksanakan ketentuan­ketentuan hukum yang berkenaan dengan ibadat puasa seraya mengharap rida Allah. Di sinilah barangkali terletak hikmahnya mengapa niat itu ditetapkan sebagai suatu amalan hati (bukan amalan lidah). Ini ti­dak berarti melafalkan niat hukumnya dilarang, sebab sebagian ulama ada yang membolehkan atau malah menganjurkan melafalkan suatu niat.

Dalam pada itu bahwa niat mempunyai peran yang amat penting bagi kesuksesan pelaksanaan suatu perbuatan atau urusan, kiranya setiap orang khususnya umat Islam masing-masing dapat .merasakannya. Sebagai contoh: orang yang di malam hari berniat sungguh-sungguh hendak puasa esok harinya seperti yang kita saksikan di setiap bulan Ramadan, ia akan mampu menahan rasa haus dan lapar serta hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Tapi di waktu orang tidak berniat puasa seperti yang umum berlaku di bulan-bulan lain selain Ramadan, tampak seolah-olah tidak mampu atau tidak berdaya untuk mena­han diri dari makan dan minum walau ha­nya untuk jangka waktu setengah hari.

Advertisement