Advertisement

NaS (nas) menurut bahasa berarti nyata atau jelas. Oleh karena sesuatu yang ter­tulis adalah nyata maka ia disebut nas dalam arti teks. Dalam usul-fikih istilah tersebut dipakaikan kepada suatu macam tingkatan kejelasan arti kata, atau makna suatu redaksi. Ulama usul-fikih mengelom­pokkan redaksi al-Quran dari segi kejelas­an maknanya ke dalam empat tingkatan, berturut-turut dari yang paling rendah tingkat kejelasannya sampai kepada yang paling jelas. Tingkatan kejelasan yang pa­ling rendah ialah az-zahir, yaitu suatu lafal yang menunjukkan kepada maknanya se­cara jelas tanpa membutuhkan qarinah (indikasi) dari luar untuk memahaminya. Namun makna yang ditunjukkannya itu bukanlah merupakan tujuan utama dari yang punya redaksi atau oleh yang meng­ungkapkannya. Walaupun pengertian itu jelas, akan tetapi tidak tertutup kemung­kinan untuk ditakwilkan atau untuk di­palingkan maknanya kepada makna yang lain dari yang langsung dapat dipahami dari suatu redaksi. Oleh karena itu apabila lafal zahir itu bersifat umum, maka ter­buka kemungkinan untuk ditakhsiskan (pengkhususan), dan bila makna lafal zahir itu berupa hakikat, maka terbuka kemungkinan bahwa yang dimaksud ada­lah arti majas (metaforisnya). Tingkatan kedua dari kejelasan makna ialah nas, yai­tu suatu lafal yang menunjuk kepada mak­na dan makna yang ditunjukkannya itu adalah menjadi maksud utama dari yang punya redaksi. Hal itu dapat diketahui dari tanda-tanda yang terdapat pada re­daksi itu sendiri, atau dapat diketahui dari

sebab turunnya suatu ayat atau sebab timbulnya suatu hadis. Sebagai contoh dari zahir dan nas ialah ayat 275 surat al­Baciarah yang menunjukkan bahwa Allah menghalalkan berjual beli dan mengharam­kan riba. Dihalalkannya jual beli dan di­haramkannya riba itu dapat dipahami langsung dari bunyi ayat tersebut, dan maksud seperti itu disebut makna zahir. Adapun makna lain yang dapat dipahami dari ayat tersebut ialah perbedaan antara jual beli dan riba. Makna tersebut dipaha­mi lewat nap, yang sesuai dengan maksud utama dari Allah menurunkan ayat terse-but, yaitu untuk menjawab tantangan orang Yahudi yang mengatakan bahwa berjual beli itu adalah seumpama riba. Artinya, manakala Allah mengharamkan riba, orang-orang Yahudi membantah, me­ngapa sampai diharamkan Allah riba itu, padahal ia sama saja dengan berjual beli. Apabila riba itu mencari untung, maka berjual beli juga mencari untung. Oleh se­bab itu mengapa riba diharamkan sedang­kan jual beli dihalalkan. Untuk memban­tah persepsi orang-orang Yahudi itu ditu­runkanlah ayat tersebut yang bermaksud untuk menegaskan bahwa jual beli itu tidak sama dengan riba. Maka pembedaan antara jual beli dengan riba itu disebut ke­tegasan nas. Tingkatan ketiga apa yang di­kenal dengan al-mufassar, yaitu suatu lafal yang pada mulanya diungkapkan secara global di dalam al-Quran, kemudian oleh Rasulullah dijelaskan rincian serta cara pelaksanaannya. Umpamanya lafal salat, dalam al-Quran hanya dinyatakan ke­wajiban untuk melaksanakannya. Akan tetapi al-Quran tidak menjelaskan bagai­mana cara melaksanakannya dan apa sya­rat dan rukunnya. Untuk menjelaskan segalanya itu diserahkan kepada Rasul. Lafal salat yang sudah dijelaskan arti dan cara melaksanakannya itu dalam usul-fikih disebut dengan al-mufassar (lafal yang su­dah dijelaskan). Tingkat kejelasan yang paling tinggi ialah al-muhkam, yaitu suatu lafal yang secara jelas menunjuk kepada suatu pengertian yang didukung oleh be­berapa indikasi bahwa makna itulah yang dimaksud oleh yang punya redaksi, se­hingga tidak ada kemungkinan untuk pe ngertian yang lain, dan ia juga tidak mene­rima nasikh (pembatalan). Muhkam dida­pati dalam hal-hal berikut:

Advertisement

(1)   Nas-nas mengenai hal-hal yang asasi yang merupakan pokok-pokok agama, se­perti yang menyangkut dengan iman ke­pada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab­kitab-Nya, Rasul-Nya, dan hari kemudian.

(2)   Nas-nas yang menyangkut dengan sifat-sifat keutamaan dan akhlak. Seperti menepati janji, berlaku adil, melaksana­kan amanat, berbuat baik kepada kedua orang tua dan lain-lain.

(3)   Nas-nas yang disertai oleh suatu qa­rinah (indikasi) yang mengisyaratkan keabadian hal tersebut. Umpamanya sab­da Rasulullah yang menjelaskan bahwa jihad itu tetap disyariatkan semenjek ia diangkat menjadi Rasulullah sampai wak­tu umatnya yang terakhir memerangi kaum dajjal.

Pengelompokan tingkat kejelasan mak­na yang dikemukakan di atas adalah me­nurut aliran Hanafiyah. Adapun menurut ulama usul-fikih dari kalangan Syafigyah, istilah nas dipakaikan kepada tingkatan kejelasan makna yang paling tinggi diban­dingkan dengan satu tingkatan yang ber­ada di bawahnya yaitu az-zahir. Nas me­nurut aliran tersebut adalah suatu lafal yang secara pasti menunjuk suatu makna, tanpa ada keboleh-jadiannya terhadap makna yang lain. Atau suatu lafal yang menunjukkan suatu makna dengan pasti dan tidak mengandung kemungkinan lain yang didukung oleh suatu dalil. Dengan demikian dapat diketahui bahwa nas memberikan pengertian yang pasti, tanpa diragukan bahwa makna itulah yang di­maksud oleh yang punya redaksi. Contoh­nya ayat 196 surat al-Baqarah yang men­jelaskan bahwa seseorang yang melakukan haji tamattu` (lihat haji), maka is dikena­kan Benda (dam) menyembelih seekor kambing. Jika ia tidak mampu, boleh ditu­kar dengan puasa tiga hari di tanah suci dan tujuh hari apabila sampai ke negeri­nya. Kemudian ditegaskan lagi dengan fir­man-Nya: “Tilka `asyaratun kamilatun” (demikianlah sepuluh hari sempurna). Ayat tersebut secara nas telah menegaskan bahwa puasa yang harus dibayar ialah se­ puluh hari, tidak lebih dari itu dan tidak pula kurang. Di situlah letak kepastian maksud suatu redaksi. Di bawah nas ialah az-zahir, yaitu suatu lafal yang menunjuk­kan suatu makna akan tetapi boleh jadi yang dimaksud adalah makna yang lain. Umpamanya kata asad yang makna haki­kinya adalah singa, akan tetapi boleh jadi yang dimaksud oleh yang menyebutnya adalah makna majazinya, yaitu seorang pemb erani.

Advertisement