Advertisement

Nar (nar) berarti api. Kata ini bisa menga­cu kepada api yang ada di dunia ini, dan bisa pula kepada api siksaan di akhirat. Nar yang mengacu kepada api siksaan di akhirat lazim diterjemahkan dengan nera­ka; lawannya disebut jannat (taman) yang lazim diterjemahkan dengan sorga.

Nar yang menjadi bahan pembicaraan teologis dalam Islam adalah nar yang me­ngacu kepada api siksaan atau neraka itu. Dari sekitar 145 kali pemunculan kata nar dalam al-Quran, sekitar 125 kali kata nar itu mengacu kepada api siksaan atau neraka di akhirat. Sebutan-sebutan lain dalam al­Quran, yang juga mengacu kepada neraka itu, adalah: jahannam (tempat yang keli­wat dalam) yang muncul 77 kali, jahim (api yang menghanguskan) yang muncul 26 kali, sa`ir (api yang menyala-nyala; muncul 16 kali), sagar (panas yang meng­hanguskan; muncul 4 kali), hutamat (api yang besar; muncul 2 kali), dan laza (api yang berkobar; muncul sekali saja).

Advertisement

Sesuai dengan makna-makna yang ter­kandung dalam sebutan-sebutan di atas, neraka yang menyiksa di akhirat itu me­mang digambarkan, baik dalam al-Quran maupun hadis Nabi, sebagai api yang amat panas dan amat menyiksa. Berada dalam nar di hari akhirat itu berarti ber­ada dalam penderitaan yang hebat, dalam azab yang besar, amat pedih dan meng­hinakan. Manusia yang berada dalam nera­ka itu, dalam gambaran al-Quran, tidaklah mati dan tidaklah hidup (87:13). Setiap kali kulitnya hangus oleh bakaran api, setiap itu pula kulit yang hangus itu di­ganti dengan kulit yang baru, sehingga de­ngan demikian ia tetap merasakan siksaan neraka itu (4:56). Makanan yang tersedia di dalamnya hanyalah pohon berduri yang tidak mengenyangkan, ,sedang minuman­nya adalah air yang amat panas atau na­nah (78:25; 88:4-7). Orang yang berada dalam neraka juga digambarkan bisa ber­dialog dengan orang yang masuk surga. Para penghuni neraka kelak berseru dan berkata kepada para penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang diberikan Allah ke­pada kamu!” Para penghuni surga mem­balas: “Sesungguhnya Allah telah meng­haramkan keduanya bagi orang-orang kafir” (7:50). Hadis Nabi antara lain menggambarkan bahwa azab yang paling ringan di hari akhirat adalah menginjak (dengan kedua telapak kaki) dua potong bara api, yang segera menyebabkan otak orang yang menginjak itu menjadi mendi­dih. Digambarkan juga bahwa orang yang melakukan bunuh did dengan senjata ta­jam, dengan minum racun, atau dengan_ menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi, maka ia kelak di neraka akan terus me­nerus melakukan perbuatan bunuh diri itu.

Memang baik al-Quran maupun hadis Nabi memberikan kesan bahwa berada dalam nar (neraka) di hari akhirat berarti berada dalam lautan api yang maha dah­sy at, dengan panas  yang b erlip at-lip at ganda dari panas api yang ada di dunia ini. Beralasan sekali bahwa para ulama me­mandang nar atau neraka itu sebagai tern-pat yang luas dan dalam serta penuh de­ngan api, yang diciptakan Tuhan sebagai tempat penyiksaan. Kendati demikian, tidak semua ulama mempunyai pandangan seperti itu. Sebagian ulama memandang bahwa penggambaran al-Quran dan hadis Nabi tentang akhirat, termasuk tentang neraka, merupakan penggambaran atau perlukisan dalam bentuk-bentuk fisik (ma­terial) terhadap hal-hal yang sebenarnya bersifat spiritual. Pelukisan seperti itu di­pandang sebagai upaya bijaksana dari Tu­han yang maha bijaksana, sehingga dapat mendorong semua lapisan masyarakat pada umumnya dan masyarakat awam pada khususnya untuk setia berpihak ke­pada kebenaran dan kebaikan, yang sekali­gus berarti menyelamatkan diri mereka dari derita akhirat yang menyiksa, yang pasti akan dialami oleh para pelaku keja­hatan di dunia.

Orang-orang yang masuk neraka itu atau para calonnya adalah orang-orang yang kafir atau durhaka kepada Tuhan, atau para pelaku kejahatan, yang kejahat­an mereka lebih banyak dari kebaikan yang dapat mereka perbuat di dunia. Ten-tang berapa lamanya mereka berada dalam neraka itu, dijumpai keterangan yang ber­variasi. Menurut hadis Nabi, kelak nanti orang-orang yang masuk neraka itu akan dikeluarkan dari neraka dan kemudian di­masukkan ke dalam surga, bila mereka dulu di dunia memiliki iman dalam hati mereka, kendati hanya sebesar debu. Al­Quran tidak menyinggung mereka yang memiliki iman sekecil itu. Adapun ten-tang orang-orang yang kafir di dunia, al­Quran berpuluh-puluh kali menyatakan bahwa mereka kekal di dalam neraka, bahkan tiga kali menyatakan bahwa mere­ka kekal abadi di dalamnya. Selain itu al­Quran ada dua kali menyatakan bahwa orang-orang yang malang, akan berada da­lam neraka, kekal di sana selama ada la­ngit dan bumi, kecuali jika Tuhan meng­hendaki lain (1 1:107). Juga ada satu kali Ia (78:21-23) menyatakan bahwa orang­orang yang durhaka itu berada dalam ne­raka (jahanam) selama berabad-abad (ah­gab). Dengan merenungkan pernyataan­pernyataan di atas dan pernyataan lainnya dalam al-Quran dan hadis, serta dengan merenungkan hakikat dan fungsi neraka, para ulama mempunyai kesimpulan yang berbeda tentang lamanya kaum kafir di neraka. Sebagian berpendapat bahwa me­reka yang tidak mukrnin, akan berada di neraka selamanya, tanpa akhir. Sebagian berpendapat bahwa baik neraka maupun surga akan mengalami kefanaan (akan le­nyap), demikian pula penghuninya; yang kekal abadi hanya Tuhan semata. Sebagi­an lagi cenderung berpendapat bahwa ne­raka itu, karena berfungsi penyucian ter­hadap manusia-manusia yang kotor, bu­kanlah tanpa akhir bagi siapa yang berada di dalamnya. Bila ia telah disiksa sedemi­kian rupa dan kemudian menjadi suci, maka pantas pulalah ia setelah suci itu me­nikmati surga.

Advertisement