Advertisement

Najis adalah salah satu kata Arab yang telah menjadi kata Indonesia baku. Makna asalnya ialah kotor alias tidak suci dan tidak bersih. Adapun yang dimaksud de­ngan istilah najis dalam fikih Islam ialah kotoran-kotoran tertentu yang bagi orang Islam wajib mensucikannya bila kotoran itu mengenai anggota badan, pakaian dan lain-lain yang hams dipelihara kesucian­nya.

Ada beberapa barang atau benda yang dinyatakan atau dipandang najis oleh hu­kum Islam. Yang terpenting di antaranya ialah:

Advertisement

(1)   bangkai, yaitu hewan yang mati tanpa disembelih menurut syariat Islam.. Ter­masuk ke dalam kategori bangkai ialah sepotong daging atau organ tertentu yang diambil dari hewan yang masih hidup. Dalam pada itu sebagai terda­pat dalam al-Hadis, bangkai ikan dan belalang tidak termasuk ke dalam bangkai yang najis. Juga termasuk ke dalam pengecualian bangkai yang tidak najis menurut pendapat keba­nyakan ulama ialah bangkai binatang kecil yang darahnya tidak mengalir se­perti lebah dan lain-lain yang sejenis. Demikian pula tulang, tanduk, gigi dan rambut atau bulu bangkai tidak tergolong najis. Mayat manusia, se­suai petunjuk al-Quran (al-Isra:70), juga tidak tergolong ke dalam “bang­kai” yang najis.

(2)   darah, termasuk dalamnya darah-da­rah haid, nifas dan wiladah di samping darah-darab. hewan yang mengalir. Khusus limpa dan hati binatang yang dagingnya halal dimakan, seperti hati dan limpa kambing, kerbau dan lain-lain, tidak tergolong ke dalam kategori darah yang diharamkan sesuai petun­juk al-Quran dan al-Hadis.

(3)   semua yang keluar dan kubul dan du= bur manusia seperti air kencing, air mazi, tahi dan darah, kecuali air mani menurut mayoritas pendapat ahli fikih. Menurut kebanyakan ahli fikih, air mani adalah suci. Termasuk ke dalam barang najis ialah air kencing dan ko­toran (tahi) binatang terutama bina­tang yang dagingnya haram dimakan.

(4) daging babi;

(5) air liur anjing, menurut kebanyakan fukaha;

(6) muntah-muntahan orang dan hewan;

(7) khamr (minuman keras) menurut ma­yoritas ulama Islam.

Sebagian ulama ada yang membedakan kualitas najis ke dalam tiga macam ting­katan:

(1)   najis yang dianggap ringan (najis mukhaffafat) seperti najisnya air kencing bayi yang belum memakan makanan se-lain air susu ibu

(2)   najis yang pertengahan (najis muta­wasitat), yakni najis yang tidak termasuk ke dalam kategori berat tetapi juga tidak tergolong ringan seperti najisnya kotoran orang dan hewan

(3)   najis mugallazat, yakninajis yang di­pandang paling berat yaitu babi, dan air liur anjing menurut sebagian ulama. Ada sebagian ulama yang memandang anjing sebagai binatang yang tidak nasjis meski­pun haram dimakan dagingnya.

Berbeda dengan nails dalam tingkatan pertama dan kedua, yang mencucinya relatif ringan yakni dengan pencucian biasa sampai hilang warna, bau dan rasa­nya; najis dalam tingkatan terakhir (najis mugallazat) harus dicuci tujuh kali dengan ketentuan salah satu daripadanya menggu­nakan debu.

Beberapa benda atau barang najis yang telah disebutkan di atas khususnya bang­kai, darah dan daging babi, menurut sya­riat Islam haram dimakan dan diminum sesuai pemberitahuan al-Quran dan al-Ha­dis. (surat al-Maidah:3, al-Baqarah:173; al­An’am :145 dan al-Maidah:90).

Dari beberapa ayat dan hadis yang ber­kenaan dengan soal makanan dan minum­an yang diharamkan, agaknya dapat di­ambil kesimpulan bahwa setiap benda yang najis pasti haram dimakan dan di­minum, tetapi tidak setiap benda yang ha-ram dimakan dan diminum itu benda-ben­da yang najis. Sebab, ada benda atau ba­rang yang paling tidak oleh sebagian orang dipandang suci seperti khamar, ternyata tetap haram diminum.

Dalam pada itu suatu hal yang patut juga dikemukakan dalam membicarakan soal najis ini, istilah najis tidak selamanya dipergunakan untuk pengertian kotor yang berhubungan dengan benda-benda yang bersifat inderawi (hissi), akan tetapi juga terkadang dipergunakan untuk pe­ngertian kotor yarig berkenaan dengan sikap dan tingkah laku manusia. Julukan najasun bagi kaum musyrikin umpama­nya, seperti terdapat dalam al-Quran (surat at-Taubat:28), setidaknya oleh se­bagian ahli tafsir dinyatakan sebagai najis dalam artian yang majazi bukan najis da­lam arti hakiki seperti penafsiran sebagian ahli tafsir yang lain.

Advertisement