Advertisement

Nafsu (nafs), menurut pengertian yang populer atau menurut pengertian yang biasa dikemukakan dalam lapangan tasa­wuf-akhlak, adalah dorongan-dorongan alamiah pada manusia, yang mendorong manusia kepada pemenuhan kebutuhan hidupnya. Ia merupakan tenaga vital bagi manusia; tanpa keberadaannya tak mung-kin manusia hidup. Manusia makan dan minum, tidak lain karena ia memiliki nafsu untuk makan dan minum. Ia berjuang menyingkirkan bahaya, atau menyingkir dari bahaya, tidak lain karena ia memiliki nafsu yang mendorong kepada perbuatan demikian. Ia mendekati atau menikmati apa yang disenanginya, juga karena dorongan nafsu.

Dalam kajian tasawuf-akhlak, nafsu itu lazim dibagi ke dalam dua kategori:

Advertisement

Pertama adalan nafsu marah (nafs gadabiyyat), yakni nafsu yang mendorong orang untuk marah atau benci kepada apa saja yang mengganggu atau berbahaya bagi kehidupannya. Karena adanya nafsu marah itu, ia berupaya menyingkirkan gangguan atau bahaya itu, dan kalau ia tidak mampu menyingkirkannya, ia akan didorong oleh nafsu itu untuk menyingkirkan diri sendiri, agar jauh dari bahaya itu.

Kedua adalah nafsu senang (nafs syah-waniyyat), yakni. yang mendorong orang untuk mendapatkan, memiliki, atau dekat dengan apa yang menyenangkan dirinya.

Nafsu, yang keberadaannya vital bagi setiap manusia, bersifat buta, dan karena itu perlu dikembangkan serta dikontrol secara benar dan baik oleh akal atau ajar-an agama. Ia dapat dimisalkan seperti sungai yang bisa mengalir tenang dan bisa meluap atau menghancurkan, dan karena itu perlu dikontrol dengan sistem bendungan dan irigasi yang baik, sehingga memberikan manfaat yang maksimal bagi kehidupan manusia dart lingkungannya. Nafsu yang tidak terkontrol dengan baik akan menghasilkan kertisakan, tapi yang terkontrol dengan baik, niscaya membuahkan kebaikan.

Nafsu marah yang dikembangkan secara baik (pada jalan yang lurus) oleh akal atau ajaran agama, akan mengangkat orang menjadi manusia yang berani dalam kebenaran. Sebaliknya, bila nafsu marah seseorang tidak dikembangkan niscaya menjadi manusia pengecut, atau kalau dikembangkan tanpa kendali, niscaya menjadi manusia nekad, yang merugikan diri sendiri.

Nafsu senang (syahwat), yang dikem-bangkan secara baik (pada jalan yang lu-rus) oleh akal atau ajaran agama, akan mengangkat orang menjadi manusia yang bersih (suci). Sebaliknya, ia akan jatuh menjadi manusia serakah (rakus), bila ia membiarkan nafsunya berkembang meraja lela, tanpa kontrol, atau menjadi manusia beku, tak berselera, bila nafsu syahwatnya itu dibiarkan tak berkembang. Demikianlah, nafsu yang bersifat vital itu perlu dikembangkan oleh akal yang bijaksana, atau akal yang mendapat penerangan dari agama yang benar. Nafsu yang sering dikatakan senantiasa mendorong kepada kejahatan (nafs ammarat), tidak lain dari nafsu yang lepas dari kontrol akal yang bijaksana.

Dalam lapangan falsafat Islam, nafs di-pakai dengan pengertian yang lebih luas dari pengertian di atas. Ia dipahami seba-gai roh atau jiwa, suatu wujud rohani yang dengannya jasad (tubuh) manusia bisa menjadi tubuh yang hidup. Tanpa ia, tubuh manusia tidak bisa hidup. Nafs itu disebut sebagai wujud yang bersifat imateri, tapi bisa berada dalam susunan tubuh yang sudah siap untuk menerima kehadirannya. Ia bisa masuk ke dalam tubuh tumbuh-tumbuhan, dan ia yang berada dalam tumbuh-tumbuhan itu disebut nafs nabatiyyat (jiwa tumbuh-tumbuhan). Jiwa yang berida dalam binatang disebut nafs hayawaniyyat (jiwa binatang), sedang yang berada pada manusia disebut nafs natiqat atau insbiniyyat (jiwa yang berpikir atau jiwa manusia).

Nafs manusia selain memiliki daya-daya yang dimiliki oleh nafs tumbuh-tumbuhan atau binatang, juga memiliki daya berpikir (quwwat `aqilat), dan daya berpikir inilah yang menjadikan manusia jauh lebih unggul dari binatang dan tumbuhan. Semua daya-daya yang dimiliki oleh tumbuhan dan binatang, yang juga dimiliki oleh manusia, atau dengan kata lain semua dayadaya atau dorongan-dorongan yang dimiliki oleh nafs manusia, selain dari daya berpikir, itulah sebenarnya yang disebut nafsu menurut pengertian yang populer yang biasa dikemukakan dalam tasawuf-akhlak, seperti yang telah dikemukakan.

 

Dalam tasawuf-falsafi, kata nafs lazim juga dipakai dengan pengertian roh atau jiwa. Dikatakan secara garis besar bahwa nafs manusia itu memiliki tiga tahap per­kembangan.. Pada tahap pertama (paling rendah) ia disebut nafs ammarat, yakni jiwa yang masih cenderung kepada kese­nangan-kesenangan yang rendah, yang ber­sifat jasmani, dan masih cenderung men­dorong kepada perbuatan maksiat (mung­kar). Pada tahap kedua ia disebut nafs lawwdmat, yakni jiwa yang sudah sadar dan mampu melihat kekurangan-kekurang­an dirinya; dengan kesadaran itu ia terdo­rong untuk meninggalkan perbuatan-per­buatan yang rendah, dan berupaya mem­biasakan perbuatan-perbuatan yang dapat mengantarkan kepada kebahagiaan yang bernilai tinggi. Pada tahap tertinggi (ke­tiga) ia disebut nafs mutma’innat, yakni jiwa yang tenang tenteram, karena telah sempurna berada dalam kebenaran dan ke­baikan. Itulah dia, nafs mutmainnat, yang dipanggil Tuhan: “Kembalilah kamu ke­pada Tuhanmu dengan perasaan rida dan diridai; masuklah dalam kelompok hamba­hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga­Ku”. (al-Quran 89 :27-30).

Advertisement
Filed under : Review,