Advertisement

Nabi menurut bahasa Arab berarti orang yang memberitakan atau penyampai berita. Kata nabi itu, dalam teologi Islam, di­pahami oleh para teolog sebagai kata yang mengacu kepada manusia pilihan Tuhan, yakni manusia yang tergolong tingkatan tertinggi. Para nabi itu dipandang demiki­an, karena mereka diyakini memiliki ke­istimewaan atau kemampuan khusus, yang tidak dimiliki oleh manusia yang bukan nabi. Keistimewaan itu adalah kemampu­an khusus yang dianugerahkan Tuhan ke­pada mereka untuk memperoleh hidayah­Nya berupa agama, melalui wahyu tingkat tertinggi. Wahyu tingkat tertinggi itu ada­lah wahyu inatluw (wahyu yang dibaca­kan; yang terdiri dari bukan hanya makna, tapi makna dan kata-kata yang dibacakan oleh Jibril, sehingga dapat didengar oleh pendengaran batin nabi), seperti al-Quran yang diberikan Tuhan kepada Nabi Mu­hammad, Taurat yang diberikan Tuhan kepada Nabi Musa, dan kitab suci lainnya. Manusia yang bukan nabi tidaklah memi­liki kemampuan untuk memperoleh wah­yu tingkat tertinggi itu; mereka hanya mampu (jika mereka beriman, beramal saleh, dan tekun mempertajam kesucian batin mereka) menerima jenis wahyu yang lebih rendah, seperti: ilham, inspirasi, mimpi yang benar, kasyaf, dan lain seba­gainya, yang.juga diterima oleh para nabi. Supaya tidak timbul salah paham di kala­ngan masyarakat, term wahyu dibatasi penggunaannya oleh para ulama untuk wahyu tertinggi yang diterima khusus oleh para nabi, sedang jenis yang lebih rendah, yang bisa diperoleh oleh manusia bukan nabi, tidak lagi disebut wahyu, tapi cukup disebut ilham, inspirasi, mimpi yang be­nar, atau sebutan lain.

Kalangan filosof muslim dan para sufi juga ikut memperjelas dan memperkuat pandangan bahwa para nabi adalah manu­sia-manusia paling utama. Ibnu Sina, misal­nya dari kalangan filosof muslim, menya­takan bahwa Tuhan menganugerahkan ha­nya kepada para nabi, daya akal yang besar dan kuat serta memiliki daya suci (quwwat qudsiyyat). Dengan daya akal istimewa itu, yang mereka peroleh tanpa melalui latihan, mereka dapat berhubung­an dengan Akal Aktif (Jibril) dan dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Dengan ungkapan lain, Ibnu Sina pernah menyatakan bahwa manusia yang memili­ki akal mustafad tanpa melalui usaha lebih utama dan unggul dari manusia yang mem­perolehnya melalui usaha; yang pertama adalah para nabi dan yang kedua adalah para filosof. Para nabi dengan akal musta­fad mereka itu, menerima wahyu Tuhan melalui Akal Aktif (Jibril), sedang para filosof memperoleh pengetahuan biasa. Kaum sufi pada umumnya menggarnbar­kan bahwa nabi adalah manusia yang me­miliki jiwa atau batin yang paling suci, tanpa melalui usaha. Jiwa nabi lebih suci dari jiwa sufi, kendati yang akhir ini telah berupaya keras dan terus menerus mening­katkan kesucian jiwaya. Karena keisti­mewaan jiwa atau hati para nabi itulah, mereka dapat memperoleh wahyu Tuhan, dan memiliki pengalaman rohaniah yang lebih tinggi dan apa yang dapat dicapai oleh para sufi. Makrifatullah yang dicari para sufi tidaklah lebih tinggi dari atau se­tara dengan makrifatullah yang diperoleh para nabi melalui jalan wahyu.

Advertisement

Sebagian ulama dan umat, karena ber­pegang kepada hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad bahwa jumlah nabi 120.000 orang dan rasul hanya 315 orang, meru­muskan bahwa setiap rasul pastilah nabi, tapi tidak setiap nabi menjadi rasul; rasul adalah nabi yang ditugaskan untuk me­ngajarkan atau menyampaikan wahyu yang ia terima dan Tuhan; jika nabi itu tidak diberi tugas demikian oleh Tuhan, maka ia hanya disebut nabi saja. Sebagian ulama dan umat Islam yang lain tidak mau berpegang kepada hadis di atas (mereka nilai: tidak kuat dan tidak pasti dari Nabi) dan cenderung pada pendirian bahwa nabi dan rasul itu identik. Menurut pendirian akhir ini, nabi itu disebut nabi (penyam­pai berita), karena memang ia menyam­paikan berita penting dari Tuhan kepada umat yang diserunya; ia disebut rasul (duta atau utusan), karena ia memang di­utus Tuhan untuk menyampaikan pesan­pesan-Nya kepada umat; ia disebut juga basyir (yang menyampaikan berita gembi­ra), karena memang ia menyampaikan berita gembira bagi para pengikutnya yang saleh, bahwa mereka kelak akan berbaha­gia _di hari akhirat; dan ia disebut pula naiir (yang menyampaikan peringatan), karena memang ia juga berkewajiban me­ngingatkan kaumnya yang durhaka, bah­wa mereka niscaya memperoleh azab yang pedih kelak, sebagai akibat kejahatan dan kedurhakaan mereka kepada Allah. Predi­kat nabi, rasul, basyir, dan nazir itu me­ngacu kepada satu diri, yang tugas dan posisinya dapat diperinci atau diisyarat­kan dengan sejumlah nama. Terasa aneh atau janggal oleh golongan kedua ini, bah­wa ada manusia yang dianugerahi jiwa yang istimewa dan wahyu, tapi dibebas­kan dari tugas untuk menyampaikan ke­benaran wahyu itu kepada orang lain. Oleh karena itu setiap nabi pastilah rasul, basyir, dan

Keistimewaan jiwa para nabi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mene­rima wahyu, tapi juga berkaitap dengan keteladanan mereka dalam kepribadian bagi kaum mereka. Mereka berani, teguh, cerdas, jujur, benar, terpercaya, dan me­miliki daya (kemampuan untuk me­ngendalikan dan menjaga diri, sehingga tidak terjatuh ke dalam dosa). Mereka adalah teladan terbaik dalam mengamal­kan dan menegakkan ajaran agama pada pribadi mereka dan masyarakat. Kehadir­an nabi (-nabi) pada setiap umat di masa lalu, dan telah berakhir dengan Nabi Mu­hammad, merupakan manifestasi kasih sayang dan kebijaksanaan Tuhan kepada segenap umat manusia. Tujuan mereka satu: membangun umat yang bermoral tinggi (berakhlak mulia) dengan dasar iman yang benar dan amal yang saleh.

Advertisement
Filed under : Review,