Advertisement

Muzdalifah adalah nama sebuah tempat di Hijaz (Saudi Arabia), yang terletak antara Arafah dan Mina. Muzdalifah, yang juga sering disebut atau dinamai dengan “Jarn’in” dan “,al-Masy`ar al-Harim” bagi umat Islam, khususnya mereka yang per­nah menunaikan rukun Islam kelima (iba­dat haji), mempunyai makna tersendiri ka­rena setiap jemaah haji diaruskan mabit (bermalam) di tempat tersebut walau ha­nya sebentar.

Seperti diketahui, di antara hal yang wajib dikedakan oleh jemaah haji ialah mabit di Muzdalifah dan wukuf di sana. Yang dimaksud dengan mabit atau ber­malam di Muzdalifah bukanlah berarti harus menginap sebagaimana lazimnya is­tilah bermalam dalam percakapan sehari­hari, melainkan cukup sekedar singgah barang sebentar di malam hari. Di tempat tersebut boleh berdiam sejenak, duduk atau berjalan sebab yang terpenting bagi jemaah haji ialah berada di Muzdalifah di malam hari. Itulah yang dimaksud dengan keharusan mabit dan wuquf di Muzdalifah.

Advertisement

Menurut ulama-ulama Hanafiyah, ber­ada di Muzdalifah itu waktunya menje­lang fajar pada hari Nahar. Kalau pada saat itu jemaah haji tidak ada di tempat (Muzdalifah), ia wajib membayar dam ke­cuali ada halangan yang dibenarkan sya­riat. Sedangkan menurut para ulama dad kalangan mazhab Maliki, jemaah haji wa­jib turun (berhenti) di Muzdalifah di ma-lam hari sebelum fajar. Adapun menurut ulama-ulama Syafilyah, yang wajib ialah berada di Muzdalifah dan waktunya pada paruh malam kedua, malam hari Nahar. Menurut mereka, jemaah haji tidak diisya­ratkan harus berdiam diri di Muzdalifah, akan tetapi cukup sekedar melewati tern-pat tersebut tanpa perduli apakah mereka tahu atau tidak mengetahui bahwa tempat yang dilewatinya itu adalah Muzdalifah.

Mabit di Muzdalifah dilakukan pada 9 malam ke 10 Zulhijjah. Seusai melakukan wuquf di Arafah, yang disebut-sebut seba­gai rukun haji terbesar, jemaah haji berto­lak meninggalkan Arafah menuju ke Muz­dalifah. Waktu berangkat dari Muzdalifah disunahkan setelah matahari terbenam dan di sepanjang jalan menuju Muzdalifah diajurkan banyak membaca talbiyah de­ngan penuh khusuk dan khudu serta da­lam suasana perjalanan yang tenang dan khidmat.

Setiba di Muzdalifah, jemaah haji disu­nahkan mengerjakan salat magrib dan isya di waktu isya (jamak takhir) dengan satu kali azan dan dua iqamat, sebab, demikian menurut al-Hadis, cara demikianlah yang dilakukan Nabi Muhammad. Apabila tidak melakukan salat dengan jamak takhir, yakni mengerjakan salat magrib dan isya di masing-masing waktunya atau melaku­kannya dengan menjamak takdim di wak­tu magrib, tidak mengapa karena menja­ mak takhir salat magrib dan isya di Muz­dalifah hanya sunah hukumnya (bukan wajib).

Selain yag telah dikemukakan di atas, di ‘Muzdalifah jemaah haji masing-masing mengumpulkan tujuh butir batu kecil (ke­rikil) untuk melempar jumrah Aqabah yang akan segera dilakukan di Mina pada 10 Zulhijah. Di bagian manapun peng­ambilan batu dilakukan di Muzdalifah, hukumnya dibolehkan sebagaimana juga dibolehkannya melakukan mabit di bagian mana pun di Muzdalifah. Hanya saja di­makruhkan mengarnbil batu dan mesjid, dari tempat yang najis dan dari wadi Muhassir, yakni lembah yang terletak an­tara Muzdalifah dan Mina.

Dalam pada itu menurut sunah,, dian­jurkan mengeijakan salat subuh di Muzda­lifah, kemudian berdiri di Masy`ar al-Ha­ram sampai fajar menyingsing untuk ke­mudian berangkat menuju Mina sebelum terbit matahari seraya memperbanyak zikir dan doa sesuai tuntunan al-Quran (2: 198-499) dan sunah Rasulullah.

Advertisement