Advertisement

Mu`tazilah adalah sebuah aliran teologi (dalam Islam), yang muncul di Basrah (Irak) pada awal abad ke 8 (2 H)). Keha­diran aliran ini dalam sejarah Islam ber­awal dari tindakan Wasil bin Ata (700­750/80-131 H) memisahkan diri dari ha­laqah (majlis-taklim) gurunya, Imam Ha­san al-Basri, di sebuah mesjid raya Basrah, karena ia mempunyai pendapat yang ber­beda dengan pendapat gurunya, berkena-

an dengan masalah mukmin yang melaku­kan dosa besar. Menurut Wasil bin Ata, mukmin yang melakukan dosa besar, jika tidak bertobat, statusnya tidak mukmin lagi (sedang menurut gurunya: statusnya mukmin), tapi jatuh kepada fasik, namun tidak sampai jatuh kepada status kafir (menurut Khawarij: statusnya kafir). Fa­sik, menurut Wasil bin Ata, adalah alman­zilat bain almanzilatain (satu posisi atau status di antara dua posisi atau status); fasik berada di bawah mukmin, tapi di atas kafir. Setelah memisahkan diri, Wasil bin Ata membentuk hallaqah sendiri di mesjid yang sama; jemaah yang dipimpin Wasil bin Ata itulah yang mendapat nama: Mulazilah atau Mu lazilun (orang-orang yang memisahkan diri). Kendati makna nama itu tidak buruk (bukan berarti me­misahkan diri dari kebenaran), kaum Mu`- tazilah lebih senang menyebut diri mereka Ahl alTauljid wa golongan yang mempertahankan kemurnian tauhid dan keadilan Tuhan.

Advertisement

Kebanyakan ulama-ulama yang masuk dalam barisan Mulazilah, setelah berkem­bangnya ilmu falsafat Yunani di Bagdad (Irak) pada bagian kedua abad ke 8 (2 H), adalah ulama-ulama yang memberikan perhatian besar pada ilmu dan falsafat itu. Mereka menjadi golongan ulama-intelek, yang di samping berteologi (menjelaskan memperkuat, dan membela akidah-akidah yang terkandung dalam al-Quran dan Su­nah Nabi) dengan pemikiran rasional, juga sebagiannya ikut memberi saham yang be­sar bagi perkembangan ilmu dan falsafat di zaman klasik Islam. Mereka sering tam­pil dalam gelanggang perdebatan teologis dengan para teolog non-muslim; mereka memakai senjata logika dan falsafat, se­bagaimana yang digunakan pihak lawan. Bila oleh penulis modern mereka disebut kaum rasionalis Islam, maka itu tidak ber­arti bahwa mereka hanya berpegang ke­pada akal, atau lebih meninggikan akal dari wahyu; mereka sebenarnya berpegang pada keterangan akal dalam rangka men­jelaskan atau membela keterangan wahyu. Demikian juga bila mereka disebut para teolog liberal dalam Islam, maka itu tidak berarti bahwa mereka tidak terikat pada al-Quran dan Sunnah; mereka liberal dalam arti tidak terikat pada pemahaman­pemahaman yang bersifat sederhana, dangkal, atau harfiah, yang muncul di ka­langan sebagian ulama di luar golongan mereka.

Setelah Wasil bin Ata (pendiri Mu`tazi­lah) dan pendampingnya, Amru bin Ubaid (w. 759/142 H), wafat, ulama-ulama Mu`tazilah terbagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok Bagdad, yang mau mene­rima jabatan pemerintahan, dan kelompok Basrah, yang tidak tertarik pada jabatan tersebut. Ulama terkemuka dari kelompok Basrah antara lain adalah: Abu al-Huzail al-Allaf (w. 851/236 H), an-Nazzam (w. 817/221 H), dan al-Jahiz (w. 867/255 H), sedang dari kelompok Bagdad antara lain Bisyr bin Mu`tamir (w. 826/210 H), Mu­`ammar bin Abbad (w. 836/220 H), Abu Musa al-Murdar (w. 842/226 H), dan Ah­mad bin Daud (w. 855/240 H). Kedua ke­lompok itu —karena ketekunan beribadat, menguasai ilmu dan falsafat, berteologi secara rasional— menarik bagi dan berpe­ngaruh kuat atas, khalifah-khalifah Bath Abbas, sampai 849 (234 H). Pada tahun ini, karena kesalahan memaksakan pendi­rian kepada ulama-ulama di luar golongan­nya. Mu`tazilah —yang telah 22 tahun lamanya menjadi mazhab resmi Daulat Bath Abbas— mendapat pukulan hebat dengan berpihaknya Khalifah Mutawakkil kepada kaum Ahlus Sunnah wal-Jamaah. Karim Mu`tazilah dibenci dan dimusuhi oleh penguasa dan mayoritas ulama dan umat. Pemuka mereka, seperti al-Khayyat (w. 880/267 H) dan al-Jubbai (w. 915/ 330 H), tidak mampu menahan kemun­duran aliran teologi mereka. Mu`tazilah memang pernah bangkit lagi di Irak dan Persia, ketika kedua wilayah itu dikuasai oleh penguasa Bani Buwaihi (945-1045/ 334-437 H), golongan Syi`ah yang ber­teologi Mu`tazilah, dan melahirkan ulama terkemuka, Kadi al-Kudat Abdul-Jabbar (w. 1025/415 H), tapi setelah hancur ke­kuasaan Bani Buwaihi, pada umumnya pe­nguasa-penguasa di seluruh dunia Islam berpihak kepada kaum Ahlus Sunnah wal­Jamaah. Kendati masih mampu melahir­kan ulama tafsir terkemuka, al-Zamakh­ syari (w. 1144/538 H), akhirnya

Mu`tazi­lah lenyap dari sejarah. Belakangan ini, se­jumlah pemikir pembaharuan dalam Islam, karena menghargai atau memuji teologi Mu`tazilah, tidak jarang mendapat sebut­an Neo-Mu`tazilah.

Mu`tazilah mempunyai lima ajaran da­sar, yaitu: tauhid, keadilan Tuhan, atau posisi di antara dua posisi, janji baik dan ancaman Tuhan, serta amar malcruf nahi mungkar. Mereka sepakat menyatakan bahwa: Allah kadim, tidak bisa dilihat de­ngan mata-kepala baik di dunia maupun di akhirat, sifat-sifat-Nya tidak lain dari zat­Nya, al-Quran .adalah ciptaan-Nya, Ia suci dari berbuat buruk dan lalim, Ia memberi kemampuan dan kebebasan bagi manusia untuk mewujudkan perbuatan baik atau buruk, pasti membalas (dengan adil) per­buatan baik dengan kebaikan dan per­buatan buruk dengan keburukan, pasti memasukkan mukmin ke dalam surga ser­ta mengekalkan fasik dan kafir di neraka dengan azab yang lebih berat untuk yang akhir. Mereka sepakat menyatakan bahwa akal manusia sanggup mengetahui adanya Tuhan, baik dan buruk, dan manusia —se­belum menerima keterangan wahyu­tetap wajib bersyukur kepada-Nya serta wajib mengerjakan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk.

 

Advertisement