Advertisement

Mutawatir adalah kata sifat dari tawatur yang menurut bahasa berarti at-tatabze, yaitu datang beriringan atau berturut-tu­rut. Dalam ilmu hadis istilah tersebut di­pakai untuk satu macam tingkatan hadis. Hadis avabila dilihat pada jumlah perawi­nya dapat dibagi kepada tiga tingkatan:

Pertama, ialah hadis mutawatir. Yaitu suatu hadis yang diriwayatkan oleh seke­lompok orang yang tidak diragukan kebe­naran ucapan mereka. Tidak diragukan ke­benarannya, tidak saja karena jumlah pe­rawinya yang banyak, tetapi lebih-lebih lagi karena dukungan oleh kualitas setiap perawi, sehingga dengan itu sulit digam­barkan bahwa mereka sepakat untuk ber­dusta. Jumlah perawi yang banyak yang ditunjang oleh kualitas setiap perawi itu harus ada pada setiap periode, dari perio­de sahabat yang menerima hadis itu dari Rasulullah sampai kepada periode berikut­nya, tabiin, tabiitabiin! dan seterusnya hingga sampai ke masa hadis itu dibuku­kan. Di samping itu, di antara persyaratan hadis mutawatir adalah bahwa sesuatu yang diperintahkan itu adalah sesuatu yang dilihat, didengar atau diraba oleh pancaindera, bukan yang berupa suatu ke­simpulan pemikiran. Seandainya is me­rupakan kesimpulan pemikiran, maka berita itu tidak berkehendak kepada beri­ta mutawatir untuk meyakininya, karena yang menerima berita itu sendiri akan mampu membuat kesimpulan yang sama dengan pikirannya. Umpamanya berita yang mengatakan bahwa Allah itu ada ber­dasarkan adanya alam. Mustahil alam itu akan ada tanpa ada yang menciptakannya. Berita seperti itu tidak berkehendak ke­pada tawatur (banyak orang mencerita­kannya) untuk meyakinkannya, karena tanpa khabar mutawatir yang mencerita­kannya, kitapun sanggup membuat kesim­pulan bahwa alam itu ada Penciptanya.

Advertisement

Ulama hadis membagi hadis mutawa­tir kepada tiga macam, pertama hadis mutawatir lafzi, yaitu suatu hadis yang la­faz-lafaznya dari setiap perawi yang me­riwayatkannya adalah sama dan sama pula makna dan hukumnya. Ulama hadis men­contohkannya dengan hadis yang menga­takan: “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas. namaku, maka akan disediakan tern-pat kediamannya di dalam api neraka. Me­nurut Imam Nawawi hadis tersebut diteri­ma oleh sekitar dua ratus orang sahabat dari Rasulullah. Abdulwahhab Khalaf da­lam kitabnya Ustil-Fiqh mengatakan bah­wa sedikit sekali dapat ditemukan hadis mutawatir dalam bentuk perkataan Ra­sulullah. Kedua hadis mutawatir makna­wi, yaitu hadis-hadis yang lafaznya ber­beda-beda dari masing-masing perawi, akan tetapi semuanya menunjuk kepada hukum yang sama. Contohnya hadis-hadis yang beragam lafaznya menceritakan cara Rasulullah berdoa dalam berbagai acara, akan tetapi semua hadis itu bertemu pada satu pengertian bahwa Rasulullah berdoa dengan mengangkat tangan. Ketiga hadis mutawatir amali, yaitu hadis-hadis yang menceritakan tentang praktek-praktek Ra­sulullah dalam mengerjakan ibadat, seperti berita tentang jumlah rakaat salat fardu yang lima dan lain-lain lagi yang berupa kewajiban-kewajiban yang jelas dan pasti yang telah disepakati oleh seluruh umat Islam. Menurut ahli-ahli hadis, macam ha­dis mutawatir amali inilah yang banyak di­temui.

Hadis mutawatir menurut ahli hadis tidak sedikitpun diragukan dari segi oten­tisitasnya datang dari nabi, namun seperti dikemukakan di atas, amat sedikit sekali kemungkinan adanya. Buku hadis yang mencoba menghimpun hadis mutawatir ialah karya Imam Suyuti yang bernama al-Azhar al-Mutartaiiirat !I al-A khbar al­Mutawa tirah, dan kitab Nazm al-Mutana-

mM             al-Mutawatir.

Oleh karena sangat langka didapati hadis mutawatir, maka ahli hukum Islam tidak saja berpegang kepada hadis mutawatir, tetapi juga berpedoman kepada hadis-ha­dis yang kekuatannya berad a di bawah dari hadis mutawatir, seperti di bawah ini.

Macam kedua dari hadis bila dilihat dari jumlah perawinya ialah hadis masyhur. Hadis masyhur ialah hadis yang diterima oleh beberapa orang sahabat dari Rasulul­lah yang tidak sampai kebatas jumlah mu­tawatir, tetapi pada tahap berikutnya yaitu masa tabiin hadis itu menjadi popu­ler di kalangan mereka sehingga is diriwaatkan oleh para tabiin kepada periode ::.erikutnya dengan jumlah dan mutu Vera­wi yang tidak kurang dari jumlah dan mutu perawi hadis mutawatir. Atau de-

kata lain, hadis masyhur ialah hadis yang pada masa sahabat adalah hadis ahad (diriwayatkan oleh dua tiga orang perawi), kemudian ia menjadi mutawatir pada masa sesudah sahabat sampai masa ia dibukukan. Oleh karena yang menerima­nya dari Rasulullah jumlah orangnya tidak sampai kebatas tawatur, maka sebagian ahli hadis memasukkan hadis masyhur ini ke dalam kelompok hadis ahad. Namun mereka akui bahwa kedudukannya lebih lemah dari hadis mutawatir dan lebih kuat dari hadis ahad seperti yang akan dijelas­kan di bawah ini.

Macam ketiga ialah hadis al-ahad, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh satu atau .dua orang kepada satu atau dua orang perawi yang tidak sampai ke batas muta­watir. Rangkaian perawi yang terbatas itu sampai ke masa hadis itu dibukukan. Oleh karena sedikitnya jumlah perawi bahkan ada yang dari seorang ke seorang, maka kemungkinan kekeliruan lebih besar ter-banding hadis masyhur. Oleh sebab itu tidak diyakini otentisitasnya datang dari Rasulullah atau disebut dalil zanni (kuat dugaan datangnya dari Rasulullah). Oleh karena tidak diyakini otentisitasnya, ia menjadi sebab perbedaan pendapat yang dominan dalam fikih Islam. Sebuah hadis bisa saja diterima oleh satu pihak dan di­tolak oleh pihak lain, yang dapat mem­bawa kepada perbedaan pendapat dalam kesimpulan hukum. Bagaimanapun pro­blem hadis ahad namun ia telah berandil besar dalam membentuk fikih Islam dalam sejarah.

 

Advertisement