Advertisement

Mu’tah adalah sebuah lokasi di Palesti­na, sebelah selatan Karak. Tempat ini menjadi terkenal dalam sejarah Islam kare­na terlibatnya pasukan Madinah untuk pertama kalinya dalam sebuah pertempur­an melawan tentara Bizantium. Pertem­puran tersebut terjadi pada 630 (8 H) ti­dak lama sebelum tunduknya kota Mekah (Fall) Makkah). Dengan semakin kokoh­nya kekuasaan Nabi di Madinah tidak mengherankan kalau kemudian timbul rencana dan para penguasa di wilayah Si­ria untuk menahan kemajuan pengaruh Madinah. Hal ini dapat lebih dipahami da­ri ekspedisi yang dipersiapkan Nabi ke wi­layah tersebut. Ekspedisi ini jelas tidak mengikuti pola yang telah dilancarkan se­belumnya, yang lebih berorientasi intra­Arabia. Begitu juga, Nabi menunjuk orang­orang .kepercayaannya seperti Zaid bin Harisah, Abdullah bin Rawahab dan Ja`far bin Abi Talib untuk memimpin ekspedisi ini. Ditopang oleh kurang lebih 3.000 pengikut, termasuk beberapa orang Mekah yang pindah ke Madinah, para komandan tersebut berjuang mati-matian untuk me­ngalahkan “pasukan lokal” yang dibina oleh penguasa Bizantium. Di pihak lain, kembalinya wilayah Siria ke tangan Bizan­tium pada 629 (7 H) setelah dikuasai ten­tara Persia juga merupakan ancaman barn bagi kekuasaan Madinah. Memang dalam perang Mu’tah tersebut tentara Bizantium, memanfaatkan pengalaman barunya un­tuk melawan pasukan Persia, dan secara meyakinkan mengalahkan pasukan Madi­nah. Berkat inisiatif Khalid bin Walid se­orang pemuka Quraisy yang baru saja pin­dah ke Madinah, sisa-sisa pasukan Madi­nah berhasil diselamatkan dan dipimpin pulang ke Madinah. Kekalahan ini kelihat­annya menjadi pelajaran berharga bagi Madinah, sehingga pengiriman ekspedisi ke wilayah Siria dilakukan secara bertahap dan penuh perhitungan strategic. Memang selang beberapa tahun setelah pertempur­an Mu’tah ini wilayah Palestina dan Siria telah menjadi daerah yang tidak terpisah­kan dari kekuasaan khalifah di Madinah.

Advertisement
Advertisement
Filed under : Review,