Advertisement

Musyrik secara harfiah berarti orang yang mempersekutukan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dalam istilah agama Is­lam, musyrik berarti orang yang memper­sekutukan Allah dengan sesuatu yang lain (benda atau orang); atau sebutan bagi orang yang bertuhan banyak.

Lawan kata musyrik adalah muwahhid, artinya orang yang mengesakan Tuhan. Namun demikian umat Islam sendiri tam­paknya hampir tidak pernah menyebut dirinya sebagai al-muwahhidiin (orang­orang yang mengesakan Allah), walaupun akidah atau keyakinan mereka tegas dan jelas menyatakan bahwa Allah itu Esa (Satu atau Tunggal). Memang konon di­beritakan sebagian umat Islam dalam hal ini para pengikut Abdullah •ibnu Abdul­Wahhab, lebih senang disebut dengan ju­lukan al-muwahhidiin (jamak dari kata al-muwahhid) daripada sebutan-sebutan yang lain, namun istilah demikian agaknya tidak populer di masyarakat banyak kare­na masyarakat luas lebih suka menyebut mereka sebagai kaum Wahabi (Wahhabiy­yi7n).

Advertisement

Dalam pengertian sebagian orang, kaum ahli kitab Yahudi dan Nasrani) terutama orang-orang Nasrani yang dengan keyakin­an trinitasnya menigakan Tuhan, terma­suk ke dalam kelompok kaum musyrikin. Namun demikian al-Quran (surat

rah: 105 dan al-Bayyinah: 6) mempergu­nakan kata musyrik untuk sebutan bagi orang-orang yang tidak mempunyai kitab suci seperti para penyembah berhala dan kaum Majusi.

Al-Quran, yang dalamnya tersebut pu­luhan kali kata musyrik (umumnya dalam bentuk jamak yakni musyrikin atau musy­rikun) menentang dan mengecam keras per­buatan syirik (mempersekutukan Allah), bahkan menyatakannya sebagai perbuatan dosa besar yang tidak bisa diampuni (al­Quran surat an-Nisa: 8 dan 116).

Sejalan dengan al-Quran, al-Hadis yang antara lain berfungsi sebagai pentafsir al­Quran, memasukkan asy-syirk bi Allah (mempersekutukan sesuatu dengan Allah) ke dalam kelompok macam-macam per­buatan dosa besar bersama-sama perbuat­an zina, sihir, membunuh orang lain tanpa hak, memakan riba, memakan harta anak yatim tanpa hak, lari dari (medan perang tanpa ada alasan yang dibenarkan syariat), menyakiti orang tua dan lain-lain.

Orang-orang musyrik oleh al-Quran (su­rat at-Taubat: 28) dinyatakan sebagai ko­tor (najis), dan karenanya mereka diha­ramkan memasuki Mesjid al-Haram bah­kan juga mesjid-mesjid yang lain menurut sebagian mufasir. Kecuali itu menurut sebagian ahli tafsir, orang musyrik bukan saja tidak boleh mendekati Mesjid al-Ha­ram melainkan juga tidak boleh memasuki wilayah tanah haram di Mekah.

Dalam pada itu para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan kata najasun yang terdapat dalam surat at-Taubat: 28. Sebagian kecil dari mereka di antara­nya ibnu Abbas menyatakan bahwa selu­ruh tubuh orang musyrik itu adalah najis seperti najisnya seekor babi; tapi keba­nyakan para ahli fikih sepakat untuk pie­mandang tubuh (badan) orang-orang musyrik sebagai suci, walaupun kalau ma­suk agama Islam orang musyrik itu berke­wajiban mandi.

Menurut hukum yang ditentukan al­Quran (surat at-Taubat: 17 dan 18), kaum musyrikin tidak berhak (boleh) memak­murkan mesjid-mesjid terutama Mesjid al­Haram, karena yang berhak memakmur­kan (meramaikan) mesjid-mesjid Allah itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, orang-orang yang menegakkan salat dan membayar za­kat serta tidak takut kepada siapa pun selain Allah.

Umat Islam baik laki-laki maupun pe­rempuan dilarang kawin atau nikah de­ngan orang-orang musyrik, kecualijika me­reka menjadi mukmin atau mukminat ksurat al-Baqarah: 221). Di samping itu, umat Islam juga dilarang memakan sembe­lihan orang-orang musyrik.

Syariat Islam memperingatkan para pe­meluknya agar berhati-hati dan waspada terhadap orang-orang musyrik, dan Islam juga membenarkan bahkan memerintah­kan memerangi kaum musyrikin jika me­reka memerangi umat Islam (surat at

5 dan 36). Namun demikian al-Quran juga menganjurkan dan memerintahkan orang-orang Islam supaya melindungi orang-orang musyrik yang memohon per­lindungan dan dengan itikad baik mereka tidak memusuhi orang-orang Islam (surat at-Taub at : 6).

 

Advertisement