Advertisement

Musyawarah berasal dari kata Arab yang makna asalnya ialah mengeluar­kan atau menampakkan (sesuatu). Ada-pun yang dimaksud dengan musyawarah dalam istilah fikih seperti dikemukakan sebagian ahli, ialah meminta pendapat orang lain atau umat mengenai suatu urns-an. Kota musyawarah juga umum diarti­kan dengan perundingan atau tukar pikir­an. Perundingan itu diseout musyawarah, karena masing-ma.sing orang yang berun­ding dimintai atau diharapkan mengeluar­kan atau mengemukakan pendapatnya tentang suatu masalah yang dibicarakan dalam perundingan itu.

Islam memandang musyawarah sebagai salah satu hal yang amat penting bagi ke­hidupan umat insani, bukan saja dalam kehidupan berbangsa dan bernegara me­lainkan juga dalam kehidupan berumah­tangga dan lain-lain. Bahwa Islam meman­dang penting peranan musyawarah bagi kehidupan umat manusia, antara lain da­pat dilihat dari perhatian al-Quran dan al­Hadis yang memerintahkan atau paling sedikit menganjurkan umat pemeluknya supaya bermusyawarah dalam memecah­kan berbagai persoalan yang mereka hada­pi.

Advertisement

Dalam al-Quran, yang terdiri dari 114 surat dan 6000 ayat lebih itu, dijumpai satu surat yang bernama al-Syura — arti­nya musyawarah — dan dua ayat yang ber­kenaan dengan soal musyawarah (lihat surat Ali Imran: 159 dan surat al-Syura: 38).

Musyawarah itu dipandang penting, an­tara lain karena musyawarah merupakan salah satu alat yang mampu mempersatu­kan sekelompok orang atau umat di sam­ping sebagai salah satu sarana untuk meng­himpun dan mencari pendapat yang lebih benar dan baik. Adapun bagaimana .sistem permusyawaratan itu harus dilakukan, balk al-Quran maupun al-Hadis tidak mem­berikan penjelasan secara tegas. Oleh karena itu soal sistem permusyawaratan, dise­rahkan sepenuhnya kepada umat sesuai dengan cara yang mereka anggap tepat dan baik.

Dalam pada itu para ulama berbeda pendapat mengenai obyek yang menjadi kajian dari permusyawaratan itu sendiri, adakah musyawarah itu hanya dalam soal­soal keduniawian dan tidak tentang masa­lah-masalah keagamaan? Sebagian dari mereka berpendapat bahwa musyawarah yang dianjurkan atau diperintahkan dalam Islam itu khusus dalam masalah-masalah keduniawian dan tidak untuk soal-soal ke­agamaan. Sementara sebagian yang lain berpendirian bahwa di samping masalah­masalah keduniawian, musyawarah juga dapat dilakukan dalam soal-soal keagama­an sejauh yang tidak dijelaskan oleh wah­yu (al-Quran dan al-Hadis).

Terlepas dari perbedaan pendapat di atas, yang jelas antara persoalan duniawi dan agamawi tak dapat dipisahkan meski­pun antara yang satu dengan yang lain me­mang dapat dibedakan. Dan suatu hal yang telah disepakati bersama oleh para ulama ialah bahwa musyawarah tidak di­benarkan untuk membahas masalah-masa­lah yang ketentuannya secara tegas dan je­las telah ditentukan oleh al-Quran dan al­Sunah.

 

Advertisement