Advertisement

Musala adalah salah satu kata Arab yang telah baku menjadi bahasa Indone­sia, makna asalnya ialah tempat melaku­kan salat. Dad sisi ini, musala sama saja (tidak berbeda) dengan mesjid yang juga sama-sama digunakan sebagai tempat me­lakukan salat. Namun demikian, dalam is­tilah pergaulan sehari-hari, kata musala —yang pada masa Nabi Muhammad diguna­kan untuk sebutan bagi tanah lapang tempat melakukan salat id — itu digunakan untuk terminologi yang berbeda dengan mesjid. Adapun perbedaan antara mesjid dengan musala di antaranya ialah:

Pertama: dari segi ukuran besar dan ke­ciliwa bangunan, bangunan musala pada umumnya relatif lebih kecil daripada ba­ngunan (gedung) mesjid yang kebanyakan berukuran relatif lebih besar.

Advertisement

Kedua: di samping biasa digunakan un­tuk menunaikan salat-salat yang lain baik fardu maupun sunah, mesjid itu pada umumnya dan biasanya dipergunakan un­tuk mendirikan salat Jemaah Jumat; se­dangkan musala tidak dipergunakan se­bagai tempat mendirikan salat jemaah Jumat walaupun biasa digunakan untuk melakukan salat-salat lain baik fardu mau­pun sunah.

Ketiga: berbeda dengan bangunan mes­jid yang pada umumnya bersifat formal dalam arti dibangun demikian rupa de­ngan berbagai ciri khan yang membeda­kannya dengan bangunan-bangunan non mesjid, bangunan musala — di samping ba­nyak tentunya yang berbentuk formal — terkadang atau malahan cukup banyak yang tak ubahnya seperti bangunan biasa. Di kota-kota besar semisal Jakarta, ba­nyak dijumpai musala dalam bentuk yang bersahaja berupa kamar biasa sebagaimana layaknya kamar-kamar yang lain sebagai terdapat dalam gedung-gedung instansi pe­merintah, perusahaan-perusahaan swasta, sekolah-sekolah dan lain sebagainya.

Dalam pada itu suatu hal yang patut di­catat, di Indonesia, musala itu sexing juga disebut dengan beberapa nama (sebutan) lain seperti surau, langgar, bale dan lain-lain sebagai terdapat dalam berbagai dae­rah yang ada di Indonesia.

 

Advertisement
Filed under : Review,