Advertisement

Musafir asalnya terambil dari kata sUfara yang berarti pergi atau bepergian. Sedang­kan musafir artinya orang yang bepergian, pengembara atau pelancong. Yang dimak­sud dengan bepergian di sini adalah beper­gian yang menempuh perjalanan relatif jauh dan memakan waktu relatif cukup la­ma. Perjalanan yang jaraknya dekat seper­ti hanya beberapa kilometer saja, tidak la­zim disebut safar (bepergian) dan orang­nya tidak biasa disebut musafir.

Syariat Islam, yang dikenal menjadikan asas kemudahan sebagai salah satu prinsip dasar dalam menetapkan suatu hukum (perhatikan al-Quran surat al-Baqarah: 185), memberikan keringanan (rukhsat) bagi musafir untuk mengqasar salat (al­Quran surat .an-Nisa: 101) dan atau men­jamaknya sebagai tersurat dalam beberapa al-Hadis. Kecuali itu, al-Quran juga mem­bolehkan musafir berbuka puasa (iftar) pada bulan Ramadan, dengan ketentuan harus mengganti (mengkada) di bulan­bulan lain sebanyak hari mereka tidak ber­puasa (al-Quran surat al-Baqarah: 184 dan 185).

Advertisement

Dalam pada itu para ulama berbeda pendapat mengenai jarak perjalanan yang membolehkan musafir melakukan iftar (berbuka puasa), mengqasar dan atau menjamak salatnya. Sebagian dan mereka seperti Imam Syafri, Imam Malik dan Imam Ahmad menetapkan bahwa jarak (minimal) bepergian yang dibolehkan mengqasar salat dan berbuka puasa adalah empat farsakh, sama dengan dua marhalat yakni 48 mil atau perjalanan sekitar dua hari atau satu hari satu malam dengan naik unta.

Berbeda dengan pendapat di atas, seba­gian ulama yang lain di antaranya Imam Abu Hanifah, menetapkan jarak minimal sekitar tiga marhalat (tiga hari perjalanan unta), sama dengan 24 farsakh atau ku­rang lebih 72 mil.

Dalam pada itu ada sebagian ulama se­perti Daud az-Zahiri, Ibnu Taimiyah dan lain-lain yang tidak menentukan batas ja­rak bepergian yang membolehkan musafir melakukan iftar dan mengqasar salat atau menjamalcnya. Berkenaan dengan masalah ini Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah berkomen­tar: “Rasulullah tidak pernah membatasi jarak tertentu bagi umatnya untuk dapat mengqasar salat atau berbuka puasa.”

Pendapat yang disebutkan terakhir le­bih kuat daripada kedua pendapat yang disebutkan pertama, bukan saja karena le­bih sesuai dengan lahiriah ayat yang telah disebutkan di atas, melainkan lebih rele­van dengan masa kini mengingat peralatan transportasi sekarang tidak hanya bina­tang-binatang angkut seperti unta dan bi­natang lain yang sejenis, akan tetapi telah terdapat banyak peralatan transportasi modern.

Dengan demikian untuk menentukanjarak bepergian yang membolehkan salat qasar seyogyanya lebih didasarkan atas pertimbangan keburu-tidak atau sulit­tidaknya melakukan salat secara itmam (sempurna). Demikian pula dalam hal iftar puasa bagi musafir, seyogyanya lebih di­titikberatkan pada batas kesukaran atau kesulitan (masyaqqat) musafir itu sendiri yang sudah barang tentu satu sama lain berbeda-beda sesuai kekuatan fisik dan kebiasaan bepergian masing-masing.

Selain dan apa yang telah diuraikan di atas, para ulama juga berbeda pendapat mengenai hukum mengqasar salat dan atau iftar puasa bagi musafir. Sebagian mereka memandangnya sebagai hukum `azimat yang karenanya hams dikerjakan fardun mu ‘ayyan atau satu-satunya alter­natif; sedangkan menurut kebanyakan ulama yang lain hukumnya hanya rukh­sah, dan karenanya musafir bebas memilih antara melakukan qasar salat dan iftar atau tidak melakukan salat secara itmdm atau tetap berpuasa.

 

Advertisement