Advertisement

Musabaqah artinya saling mendahului, saling berpacu, adu kecepatan atau balap­an. Musabaqah juga berarti perlombaan, kompetisi, kontes dan lain-lain yang searti dengan itu, Musabaqat Tilawat al-Qur’an (MTQ) dan Musabaqat Hifz al-Qur’an,

(MHQ), masing-masing berarti perlombaan membaca al-Quran dan perlombaan meng­hafal al-Quran. Sungguhpun kata musaba­qah itu asal maknanya saling mendahului, namun kedua istilah musabaqah di atas ti­dak berarti adu kecepatan dalam memba­ca atau menghafal al-Quran.

Advertisement

Tanpa menutup kemungkinan ada sua­tu MTQ atau MHQ yang mendasarkan pe­nilaiannya berdasarkan siapa yang paling cepat dalam membaca atau menghafal al­Quran, untuk menentukan siapa yang akan keluar sebagai pemenang (juara) da­lam kedua musabaqah tersebut terutam.a musabaqah yang pertama, penilaiannya bukan didasarkan pada siapa yang paling cepat selesai membaca atau menghafal al­Quran, melainkan didasarkan pada bebera­pa segi pertimbangan yang telah ditetap­kan seperti kefasihan bacaan, kebenaran tajwid, keindahan suara dan lagu, etika membaca al-Quran (adab tirdwat al-Qur­an) dan lain-lain.

Al-Quran mempergunakan kata musa­baqah dalam bentuk kata kerja (fril) yang berarti berlomba-lomba. Dalam surat al­Baqarah (2) ayat 148 dan surat al-Maidah: 48 umpamanya, Allah berfirman: “fasta­biqic al-khairat” yang artinya: “maka ber­lomba-lombalah kamu sekalian (dalam mengerjakan) berbagai kebaikan.”

Kedua ayat al-Quran yang menganjur­kan bermusabaqah atau berkompetisi da­lam mengarnalkan amalan-amalan saleh (seperti ibadat dan lain-lain) ini tidak ada sangkut-pautnya dengan musabaqah, per­lombaan, kompetisi, kontes dan lain-lain kegiatan sejenis yang seringkali dilakukan oleh masyarakat Indonesia dan bahkan masyarakat dunia seperti musabaqat tila­wat/hifz /al-Qur’an, lomba lari, kompetisi sepak bola, kejuaraan bulutangkis, kontes kecantikan dan lain-lain kejuaraan yang serupa. Namun demikian, tidak berarti Agama Islam tidak membolehkan apalagi melarang musabaqah, perlombaan, kom­petisi atau kontes dan lain-lain kegiatan yang sepadan dengan kegiatan-kegiatan tersebut.

Pada dasarnya, Islam membolehkan dan bahkan dalam hat-hat tertentu boleh dika­takan menganjurkan umatnya supaya mengadakan musabaqah, perlombaan, kompetisi, kontes dan lain sebagainya se-lama maksud dan niat serta tehnis dan praktek dari kegiatan-kegiaatan tersebut tidak melanggar aturan-aturan syariat, le­bih-lebih jika kegiatan-kegiatan tersebut menunjang hal-hal• yang diperintahkan syariat.

Menurut catatan sejarah, sejak di masa­masa awal pertumbuhan dan perkembang­annya, Islam telah memandang penting perlunya berolahraga (gerak badan) dalam upaya menunjang dan memelihara kese­hatan fisik dan mental. Dalam salah satu hadisnya. Rasulullah pernah bersabda dan menganjurkan: “Bersungguh-sungguhlah kalian (para sahabatnya) dalam berlatih memanah, karena latihan memanah meru­pakan salah satu jenis permainan yang pa­ling baik (berguna) di antara beberapa ma-cam permainanmu.” Dalam hadis lain di­riwayatkan Rasulullah memerintahkan pa­ra sahabatnya supaya melatih anak-anak­nya berrenang dan memanah.

Lebih dari itu menurut hadis yang diri­wayatkan Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar (Abdullah), Nabi Muhammad per­nah ikut bermusabaqah atau lomba balap mengendarai kuda yang dilakukan seba­nyak dua etape. Etape pertama dimulai (staart) dari Hifya dan berakhir (finish) di Saniyyat Ial-Wada (kurang lebih sekitar lima atau enam mil jaraknya); sedangkan etape kedua dimulai dari Tsaniyyat al-Wa­da dan berakhir di halaman Mesjid Bani Zuraiq (sejauh kira-kira satu mil). Dalam perlombaan yang ternyata dimenangkan oleh Ibnu Umar ini ada seperangkat atur­an main tentunya. Di antaranya ialah: Pa­da etape pertama masing-masing kuda yang dikendarai pembalap boleh diberi makanan sekenyang-kenyangnya; semen­tara pada etape kedua berlaku ketentuan sebaliknya, yakni kuda yang dikendarai setiap pembalap tidak boleh diberikan ma­kanan terlebih dahulu.

Beberapa buah hadis yang disebutkan di atas mengisyaratkan bahwa Nabi sangat menganjurkan berolahraga dan memboleh­kan umatnya mengadakan perlombaan (musabaqah) termasuk dalamnya perlom­baan dalam bidang olahraga sepanjang malcSud dan niat serta bentuk dan praktek pelaksanaannya sesuai ketentuan-ketentu­an syariat.

Menurut para ahli fikih (fukaha), musa­baqah, perlombaan, kompetisi dan lain-lain kegiatan serupa yang tidak mengan­dung taruhan (Judi) hukumnya boleh. Ta­pi jika musabaqah perlombaan, kompeti­si dan kontes itu dilakukan dengan taruh­an hukumnya haram (dilarang), seperti seorang peserta lomba yang bertaruhan dengan peserta lomba lainnya: “Kalau sa­ya berhasil memenangkan musabaqah, perlombaan, kompetisi atau kontes. . . . ini, kamu harus membayar sekian . . . ru­piah atau menyerahkan barang berupa. kepada saya; dan sebaliknya kalau saya yang kalah (kamu yang menang), saya ha­rus membayar atau menyerahkan barang atau menerima hutang sebesar atau berupa barang yang sama dengan uang atau ba­rang yang harus anda serahkan kepada sa­ya jika anda ternyata kalah.” Perlombaan semacam ini tidak dibolehkan menurut syariat karena tergolong ke dalam bentuk perjudian yang diharamkan agama.

Adapun perlombaan berhadiah dalam arti perlombaan atau musabaqah yang di­laksanakan dengan menyediakan berbagai macam hadiah yang disediakan oleh juri, wasit, panitia pelaksana atau lain-lainnya seperti yang sering kita saksikan dalam berbagai musabaqah atau perlombaan, hu­kumnya boleh karena tidak mengandung unsur perjudian yang dilarang dan diha­ramkan agama.

 

Advertisement