Advertisement

Murtad adalah orang yang melakukan riddah. Riddah makna asalnya kembali (ke tempat atau jalan semula), namun ke­mudian istilah ini dalam penggunaannya lebih banyak dikhususkan untuk pengerti­an kembali atau keluarnya seseorang dari agama Islam kepada kekufuran atau pin­dah kepada agama selain Islam. Dari pe­ngertian riddah ini dapat dikemukakan tentang pengertian murtad, yaitu orang Is­lam yang keluar dari agama (Islam) yang dianutnya kemudian pindah (memeluk) agama lain atau sama sekali tidak beraga­ma.

Dalam pada itu menurut para ulama fikih, seorang muslim yang pindah atau keluar dari agama Islam itu baru dinyata­kan murtad, kalau ia telah dewasa, berakal sehat dan perbuatan riddahnya dilakukan atas kesadaran sendiri. Dengan demikian maka orang Islam yang belum balig (anak kecil), gila atau dipaksa orang lain mening­galkan agama Islam, tidak boleh dinyata­kan sebagai murtad sesuai hadis Nabi Mu­hammad:

Advertisement

“Pena itu diangkat (beban itu dibebas­kan) dari tiga kelompok orang: (1) orang tidur sampai bangun (2) anak kecil sampai dewasa (3) orang gila sampai berakal (sem­buh).

Dalam riwayat lain, Nabi bersabda de­mikian:

“Pena itu diangkat (kewajiban itu dibe­baskan) dari tiga macam orang: (1) orang tidur sampai bangun (2) anak kecil sampai dewasa (3) orang yang dipaksa.

Menurut al-Quran (surat an-Nahl: 106), orang mukmin yang karena dipaksa orang lain (seperti diancam hendak dibunuh) menyatakan kekafiran dalam mulutnya, tidak dipandang kafir (murtad) jika dalam hatinya tetap ada iman. Kasus demikian pernah terjadi di zaman Nabi, setidak-ti­daknya ketika Ammar ibnu Yasir (salah seorang Sahabat Nabi) dipaksa kaum kafir Quraisy supaya menyatakan din keluar dari agama Islam alias murtad. Peristiwa inilah yang menyebabkan turun ayat yang disebutkan di atas, yang memaafkan per­buatan riddah seseorang jika hanya dinya­takan di mulut (tidak dalam hati); tetapi tidak mentolerir perbuatan riddah yang dinyatakan dengan lisan dan diyakini da­lam hati atau nyata-nyata menentang sya­fiat Islam baik yang bersifat perintah mau­pun yang berupa larangan.

Batasan tentang kemurtadan seseorang itu oleh para ulama dikemukakan dengan amat ketatnya, karena perbuatan riddah yang dilakukan seorang muslim menim­bulkan akibathukum yang bukan saja me­nyangkut diri si murtad semata-mata me­lainkan juga dalam hubungannya dengan orang lain seperti dalam soal hukum per­kawinan dan kewarisan. Itulah sebabnya antara lain mengapa seorang muslim tidak boleh dinyatakan murtad sebelum ada bukti-bukti yang dapat dipertanggungja­wabkan.

Menurut para ulama fikih, jika seorang suami atau istri keluar dari agama Islam (murtad), maka dengan sendirinya perka­winannya menjadi faskh (batal atau ter­putus) tanpa perlu melalui talak atau per­ceraian. Dan dalam masalah waris, orang murtad tidak boleh menjadi ahli waris dari kerabatnya yang muslim, meskipun seti­dak-fidaknya menurut sebagian ulama fi­kih orang muslim boleh (berhak) meneri­ma warisan dari kerabatnya yang murtad.

Seperti ditegaskan al-Quran (surat al­Baciarah: 256), Islam itu pada dasarnya ti­dak memaksa seseorang untuk menjadi pe­meluknya, namun jika seseorang dengan mengikrarkan dua kalirnat syahadat me­nyatakan dirinya sebagai muslim; ia ter­ikat dan tidak boleh keluar daripadanya. Islam memandang perbuatan riddah seba­gai suatu tindak kejahatan yang dapat menghapuskan seluruh amal saleh yang pernah dikerjakannya sebelum murtad, jika sampai mati dia tidak bertobat (al­Quran surat al-Bagarah: 217). Lebih dari itu orang murtad diancam dengan siksaan yang amat berat di samping dapat dikenai hukuman mati.

Di kalangan para ahli fikih terdapat per­bedaan pendapat tentang perlu tidaknya memberi kesempatan bertobat (kembali kepada Islam) bagi orang yang murtad. Se­bagian dari • mereka dikatakan ada yang memandang tidak perlu memberi kesem­patan bertobat kepada orang murtad. Me­nurut mereka, jika seseorang telah dapat dibuktikan perbuatan riddah, maka ketika itu pula dia harus dijatuhi hukuman had berupa hukuman mati.

Sebagian ulama yang lain berpendapat, orang murtad perlu diberi kesempatan bertobat selama tiga hari sejak dia dinya­takan murtad. Kalau tenggang waktu yang diberikan itu telah habis dan ia tetap mur­tad, maka dia harus dihukum mati.

Berbeda dengan pendapat kedua apalagi dengan pendapat pertama di samping juga tidak sama dengan pendapat keempat yang akan disebut nanti, kebanyakan ahli fikih sepakat untuk memberi kesempatan bertobat kepada orang yang murtad tanpa perlu menentukan batas waktu tertentu. Menurut mereka, jika seseorang keluar da­ri agama Islam alias murtad, maka tindak­an utama yang perlu dilakukan ialah meng­adakan pendekatan dengan si murtad su­paya kembali kepada Islam. Kalau berba­gai upaya telah ditempuh dan dilakukan berulangkali namun dia tetap saja murtad, sementara tanda-tanda untuk kembali ke­pada agama Islam juga tidak ada, maka ba­rulah dia boleh dijatuhi hukuman mati dan diperangi kalau melawan.

Dalam pada itu ada juga sebagian ulama yang tidak membatasinya sama sekali, dan memberi kesempatan bertobat kepada si murtad untuk selama-lamanya.

Para ulama juga berbeda pendapat ten-tang berapa kali kesempatan bertobat itu diberikan kepada orang murtad yang mengulangi perbuatan riddahnya, setelah ia kembali kepada Islam. Sebagian dari mereka ada yang mengatakan hanya sekali sementara sebagian yang lain berpendapat tiga kali.

Advertisement