Advertisement

Murjiah adalah sebuah nama yang pada mulanya mengacu kepada segolongan sa­habat Nabi, yang tidak mau melibatkan din dalam pertentangan politik yang terja­di sejak tahun-tahun terakhir pemerintah­an Khalifah Usman bin Affan (653-655/ 23-35 H) antara pihak yang menyokong Khalifah (golongan Usman) dan pihak yang menentangnya (golongan Ali). Se­mentara kedua pihak yang berselisih itu saling menyalahkan, mereka yang tidak melibatkan din melakukan sikap irja, de­ngan pengertian tidak mau memberikan pendapat tentang pihak mana yang benar atau salah, dan menyerahkan masalah itu kepada Tuhan. Menurut mereka, cukup­lah Tuhan saja yang memutuskan nanti di akhirat tentang pihak mana yang benar dan pihak mana yang salah. Mereka yang memilih sikap irja’ itu, sehingga mereka dapat disebut kaum Murjiah, antara lain adalah: Abu Bakrah, Abdullah bin Umar, Sa’ad bin Abi Waqas, Imran bin Husain, dan lain-lain.

Selanjutnya nama Murjiah mengacu ke­pada kaum muslimin yang tidak setuju de­ngan pandangan kaum Khawarij (muncul sejak 657 (37 H), yang mengafirkan muk­min yang melakukan dosa besar. Menurut mereka, mukmin yang melakukan dosa besar tidaklah berobah statusnya menjadi kafir, tapi tetap mukmin, yakni mukmin yang berdosa, yang seandainya dimasuk­kan Tuhan ke dalam neraka, tidaklah ke­kal berada di sana. Ketika mereka dita­nya tentang nasib mukmin yang berdosa kelak di akhirat, mereka memilih. Sikap yakni tidak menyatakan pendapat, tapi menyerahkan masalah itu kepada Tu­han. Menurut mereka cukuplah Tuhan yang memutuskan apakah Ia akan meng­ampuni mukmin yang berdosa itu, sehing­ga langsung masuk surga kelak di hari akhirat, atau menghukumnya lebih dulu di neraka, barn sesudah itu memasukkan­nya ke dalam surga. Dengan menyatakan pendapat seperti itu, mereka juga telah melakukan irja’, dengan pengertian mem­ben harapan kepada para pelaku dosa be­sar, bahwa mereka mungkin diampuni Tuhan, sehingga tidak akan masuk neraka, dan sekiranya tidak diampuni, mereka pa­da akhirnya akan masuk surga juga dengan segala kenikmatan yang disediakan Tuhan.

Advertisement

Ketika kaum Syi`ah memunculkan pan­dangan bahwa All bin Abi Taliblah saha­bat Nabi yang paling utama, atau dengan kata lain lebih utama dari tiga sahabat Na­bi, yang menjadi khalifah pertama, kedua, dan ketiga (Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan), maka kaum muslimin yang meng-iria’kan Ali bin Abi Talib, yakni meletakkan keutamaan All bin Abi Talib di belakang keutamaan ketiga sahabat Nabi di atas dapat pula di­sebut kaum Murjiah.

Nama Murjiah, sejauh mengacu kepada pengertian-pengertian di atas, tidaklah me­ngandung konotasi yang jelek. Akan teta­pi dengan munculnya sejumlah pribadi, sejak perempatan terakhir abad pertama Hijrah, yang memiliki pandangan yang ekstrim tentang esensi iman, dan mereka disebut golongan Murjiah, maka nama Murjiah itu mulai mengandung konotasi yang buruk. Mereka yang berpandangan ekstrim itu, antara lain adalah: Muqatil bin Sulaiman, Ubaid al-Muktaib, Muham­mad bin Karram, Jaham bin Safwan, dan lain-lain. Mereka dapat disebut dengan na­ma Murjiah Ekstrim atau Murjiah Bid’ah, untuk membedakan mereka dari Murjiah sebelumnya, yang moderat atau masih berjalan di atas sunah Nabi.

Muqatil bin Sulaiman, yang berpan­dangan ekstrim itu, mengatakan bahwa perbuatan jahat, banyak atau sedikit, ti­daklah merusak iman seseorang, sebagai­mana perbuatan baik tidak akan merubah kedudukan seorang musyrik (politeis). Ia juga menyatakan bahwa keimanan itu menggugurkan azab kefasikan, karena pa­hala iman itu lebih berat dari dosa kefasik­an, dan sesungguhnya Allah tidak akan mengazab orang yang mengesakan-Nya,

Ubaid al-Muktaib menunjukkan keeks­triman pendapatnya dengan mengatakan sebagai berikut: “Apa saja dosa selain dosa syirik (mempersekutukan Tuhan), tidak dapat tidak, pastilah diampuni, dan seseorang yang wafat dalam ketauhidan tidaklah dimudaratkan oleh dosa-dosa dan kejahatan yang dilakukannya.”

Lain lagi keekstriman pandangan Mu­hammad bin Karram; is menyatakan bah­wa iman itu adalah iqrar (pengakuan) dan taydici (pembenaran) dengan lisan (lidah); oleh karena itu kaum munafik yang hidup pada masa Rasulullah benar-benar kaum yang beriman.

Jaham bin Safwan, setelah merumuskan bahwa esensi iman itu adalah mengetahui Allah, para rasul-Nya, dan semua yang da­tang dari-Nya, sedangkan yang lainnya (se­perti: pengakuan lisan, ketundukan hati, cinta kepada Allah dan rasul-Nya, serta amal-ibadat dengan anggota badan) tidak­lah termasuk bagian dari irnan, juga me­ngeluarkan ungkapan yang ekstrim. Kata­nya: “Seorang yang mukmin, tidaklah menjadi kafir, kendati is menyembah ber­hala, menjalankan ajaran-ajaran Yahudi, atau Kristen dengan menyembah salib dan menyebut percaya pada trinitas; imannya tetap sempurna.”

Demikianlah contoh-contoh keekstrim­an pandangan atau ungkapan dari mereka, yang pada dasarnya membawa kepada pe­ngertian bahwa aural-perbuatan lahiriah tidak mempunyai nilai dan pengaruh apa­apa terhadap nasib manusia kelak di hari akhirat.

Pada umumnya ulama-ulama (di luar Khawarij dan Mu`tazilah) pada tiga abad pertama Hijrah, kendati tetap meman­dang mukmin mereka yang melakukan dosa besar, namun karena dosa besar itu mereka menjadi mukmin yang tidak sem­puma, yang tidak dijamin langsung masuk surga. Dosa yang lebih berat dari pahala, jika tidak diampuni Tuhan, menyebabkan masuk neraka seseorang mukmin kendati tidak kekal. Pendapat seperti ini lazim juga disebut sebagai pendapat Mtujiah Mo­derat, yang kemudian diambil-alih oleh para teolog Ahlus Sunah wal Jamaah.

Advertisement